|
Menu Close Menu

Keterbarasan Anggaran Pengelolaan Pabrik Pakan Ternak Di Desa Toniko Belum Maksimal

Senin, 24 Oktober 2016 | Oktober 24, 2016
SOFIFI,NT.COM-  Pabrik pakan ternak yang di resmikan bulan Februari lalu oleh Gubernur Maluku Utara, KH. Abdul Ghani Kasuba, hingga  sampai saat ini belum terlihat adanya tanda-tanda yang dapat menguntungkan Perusahaan Daerah (Perusda) Kie Raha Mandiri yang dipimpin oleh Syamsir Andili.

Saat wartawan media ini melakukan penulusaran ke lokasi  pabrik yang berada di Desa Toniku, Kecamatan Jailolo Selatan, Kabupaten Halmahera Barat (Halbar), Minggu (23/10). Hasil pemasaran produksi  saat ini belum cukup signifikan untuk melayani permintaan pasar khususnya di Provinsi Maluku Utara.

Hal itu diakui oleh  Suwarji Manajer Pemasaran Perusda Kie Raha Mandiri, menyatakan hasil produksi kurang lebih 60 ton tidak cukup melayani kebutuhan masyarakat Maluku Utara, karena memang peternak di daerah ini baru bangkit, sebelum kita punya pabrik pakan ternak yang baru hingga saat ini pun, kita selalu kalah bersaing dengan pedagang lainnya, misalnya ayam kita masih diambil dari luar daerah, sehingga membutuhkan anggaran yang sangat besar, untuk menjalankan pabrik tersebut.

" Para pedagang  lebih milih mengambil ayam itu dari surabaya, sehingga bisa tergolong murah, kalau kita mau menggalahkan swasembada ternak itu setiap bulannya kita harus persiapkan 300 ribu ekor untuk memenuhi kebutuhan masyarakat", ungkap Suwarji.

Lanjut dia, Pabrik Pakan Ternak masih terdapat banyak kekurangan, namun hal itu dimaklumi, tetapi  kedepannya pengembangan ayam potong dan ayam petelur Perusda Kie Raha Mandiri sendiri  perhadapkan dengan persaingan-persaingan usaha.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Malut  seharusnya serius dalam menjalankan pabrik ini, itu pun dari anggaran 4 Milyar lebih hanya diperuntukan membeli mesin, membangun  pabrik serta dana awal untuk operasi bisnis ini. Dari anggaran itu banyak kekurangan yang belum terpenuhi, sedangkan tahun ini kita belum mendapatkan penambahan modal dari Pemerintah daerah.

"  Untuk anakan ayam kami masih pesan dari Manado, kita upayakan untuk anakan ayam harus punya bibit sendiri, kita sudah punya pabrik pakan. Maka tidaklah sulit untuk membudidayakan bibit ayam petelur maupun ayam potong itu sendiri, sehingga kita bisa bersaing harga dipasaran," ujarnya.

Dia menjelaskan kebutuhan  telur ayam bras maupun ayam beku kita masih membutuhkan suplai dari manado, ditargetkan harus ada rumah potong unggas, ini yang menjadi kelemahan kita sekarang. Bahkan ayam yang diproduksi belum memiliki kualitas, sehingga  kita belum bisa mendistribusi masuk ke KFC, karena  pabrik ini belum memiliki rumah potong unggas, jangan itu mencabut bulu ayam saja masih manual bagaimana mungkin bersaing.

" Diharapkan kerjasama yang dibangun Pemprov Malut dengan BUMD Jawa Timur dapat berjalan  dengan baik, selain itu DPRD Malut jangan terlalu mempersulit anggaran Perusda Kie Raha Mandiri utamanya kebutuhan pabrik pakan ternak, sebab pabrik pakan ternak ini satu-satunya milik Maluku Utara sehingga semua pihak harus terlibat untuk memajukan pabrik tersebut." jelasnya.

Sementara itu, anggaran stimulan  yang digelontarkan oleh Pemerintah Daerah ke Perusda Kie Raha Mandiri,  di masa Pemerintahan saat ini senilai  8.054 Milyar rupiah.  Mestinya anggaran sebesar itu sudah memberikan konstribusi terhadap   Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pemprov Maluku Utara.

" Sejauh ini pabrik pakan ternak di Desa Toniku setidaknya menjadi kebanggaan masyarakat bila dikelola dengan baik, maka pihak pengelola Perusda Kie Raha Mandiri yang dipercayakan Pemerintah Daerah punya ekspansi bisnis ke 10 Kab/Kota  di Maluku Utara dengan mengelola anggaran yang begitu besar." Kata Rizal Ibra salah satu tokoh Pemuda Masyarakat Sofifi, Minggu (23/10) kepada media ini.

Berikut rincian alokasi anggaran stimulan dari Pemprov Maluku Utara kepada Perusda Kie Raha Mandiri sebagai berikut :

1. Anggaran Pembangunan Pabrik Pakan Ternak Unggas senilai Rp. 8.054 milyar lebih ternyata belum membawa keuntungan yang signifakan untuk pendapatan daerah.

2. Alokasi Anggaran senilai Rp. 3.070 Milyar Tahun 2015 yang  diperuntukan sebagai modal kerja.

3. Alokasi Anggaran senilai Rp. 4.984 Milyar Tahun 2016 yang diperuntukan sebagai modal investasi senilai 3.062 Milyar  dan Modal Kerja Rp 1.922 Milyar. (rais)
Bagikan:

Komentar