Tim Hukum AGK-YA Bantah Dugaan Money Politik

/ Jumat, 23 Maret 2018 / 22.39
Tim Hukum AGK-YA
TERNATE – Tim kuasa hukum paslon KH. Abdul Ghani Kasuba dan M Al Yasin Ali (AGK-YA) membantah tudingan laporan Panwaslu dugaan money politic saat melakukan kampanye di Desa Kawalo, Kecamatan Taliabu Barat, Kabupaten Pulau Taliabu beberapa waktu lalu. 

Muncul pemberitaan mengenai  dugaan  pelanggaran tindak pidana pemilu “Money Politic”  yang dilakukan jurkam paslon AGK-YA pada saat kampanye di desa Kawalo.  

Menurut Tim kuasa hukum AGK-YA Fahrudin Maloko menjelaskan pada tanggal 22 Maret 2018. Panwaslu telah melayangkan surat undangan klarifikasi kepada saudara Muhaimin Syarif selaku juru kampanye pasangan AGK-YA untuk memberikan keterangan atas dugaan pelanggaran dalam menyampaikan materi kampanye mengandung yang unsur “ hujatan atau hasutan kepada peserta kampanye” pada pelaksanaan kampanye pasangan calon nomor urut 3 di Desa Habunuha, Kecamatan Tabona dan di Desa Kawadang, Kecamatan Taliabu Selatan pada tanggal 15 Maret 2018 dan di Desa Bapune, Kecamatan Taliabu Selatan pada tanggal 16 Maret 2018.

“ Undangan klarifikasi yang dilayangkan oleh Panwas Taliabu bukanlah permintaan klarifikasi mengenai dugaan politik uang, melainkan “dugaan pelanggaran dalam menyampaikan materi kampanye mengandung unsur hujatan atau hasutan kepada peserta kampanye,” tandas Fahrudin. 

Fahrudin menegaskan, terkait isu politik uang, pada tanggal 22 Maret 2018 yang ditujukan kepada saudara Muhaimin Syarif secara pribadi telah menyampaikan klarifikasinya yang intinya ia menerangkan  pada hari minggu tanggal 08 Maret 2018 pukul 16.35 Wit bertempat di Desa Woyo, Kecamatan Taliabu Barat, kami rombongan juru kampanye provinsi Maluku Utara kandidat AGK-YA disambut oleh warga masyarakat pada sebuah acara adat penjemputan tepatnya di Desa Wayo, Kecamatan Taliabu Barat dan berlangsung acara adat penjemputan sebagaimana yang berlaku turun-temurun sepanjang sejarah Pulau Taliabu itu ada dalam hal ini (Pengulangan Bunga, Cakalele, dan Tarian Gala).

"Tarian Gala itu sendiri merupakan tarian adat sebagai penghargaan tertinggi saat penjemputan seseorang yang datang dari rantau atau pejabat tertentu yang dipandang perlu. Hal itu biasa dilakukan beralaskan sebuah tikar anyaman dari daun pandan (TIKAR) dengan ukuran kurang lebih 2x2 meter yang ditengah-tengah tikar itu sendiri terdapat sebuah wadah berupa dulang atau tempayang yang diletakkan dengan maksud menampung seserahan dari para mereka yang dijemput sekaligus sebagai wujud terima kasih bagi mereka dalam suasana sukacita dimaksud,” pungkasnya.

Sambung Fahrudin, kemudian  mereka yang dijemput wajib hukumnya untuk memberikan sesuatu penghargaan ketika empat sampai enam orang ibu-ibu penari dengan menggunakan kebaya rapih dalam lingkaran tikar adat dimaksud yang kemudian gerakan tariannya hingga menyentuh arah bawah tanah dengan teriakan “SARO” yang berarti kerendahan hati meminta keikhlasan dari orang-orang yang datang, dan idealnya diisyaratkan harus berkelipatan tujuh dengan arti tujuh hari dalam seminggu, tujuh lapis langit, dan tujuh lapis bumi yang diyakini akan mendapatkan manfaat dan berkah dari pelaksanaan itu sendiri.

"Adapun jumlah uang yang kami berikan sebesar Rp. 350.000 atau tujuh kali pecahan dari Rp. 50.000. dan perlu kami sampaikan pemberian atau seserahan dimaksud tidak keluar dari garis adat yang dilingkari oleh empat sampai enam penari ibu-ibu tersebut."

“ Jadi kami tidak melakukan penyawaeran diluar dari lingkaran adat dimaksud, karena secara spiritual jika hal itu tidak dilaksanakan maka akan mendapatkan bala atau kesialan tertentu bagi mereka yang datang dan sebaliknya akan mendatangkan manfaat kebaikan bagi mereka melaksanakannya,” terangnya.

Disisi lain sangat tidak tepat jika tradisi “ SARO” yang merupakan kebiasaan masyarakat di Desa Kawalo (local wisdom) atau dianggap suatu perbuatan pidana money politic ini sangat keliru. Karena
Tradisi “SARO"  sebuah adat-istiadat atau kebiasaan yang dipraktikkan secara turun-temurun yang  juga merupakan hukum kebiasaan (living law), dimana hukum dipandang dengan obyek perilaku social, ujarnya. (Cul)
Komentar Anda

Berita Terkini