Bangladesh Pasar Potensial Bagi Ekspor Indonesia

/ Senin, 23 April 2018 / 00.50



Kantor Kementerian Perdagangan Republik Indonesia

 JAKARTA – Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN) Kementerian Perdagangan terus memperkuat penetrasi pasar nontradisional ke Asia Selatan.
Salah satunya melalui kegiatan misi dagang Bangladesh yang akan dilaksanakan pada 26-28 April 2018 mendatang. Kegiatan ini akan dilakukan secara sinergis dengan kementerian, lembaga, dan KBRI Dhaka serta menjadi bagian penting untuk mewujudkan pencapaian target ekspor 11%.


“Bangladesh merupakan pasar nontradisional yang sangat potensial bagi ekspor Indonesia.  Dengan jumlah peduduk yang besar dan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik, telah tercipta 20-25% golongan menengah yang merupakan potensi besar bagi Indonesia untuk membuka pasar lebih lebar,” kata Direktur Jenderal PEN Arlinda di Jakarta, Jumat (20/4). 
Arlinda menuturkan peluang dan potensi pasar Bangladesh ini yang menjadi perhatian Presiden Joko Widodo dalam kunjungan kenegaraan Januari 2018 silam. Presiden berkomitmen melakukan kerja sama ekonomi dan perdagangan dengan Bangladesh sekaligus turut membantu negeri ini menjadi negara berkembang. “Kegiatan misi dagang ke Bangladesh merupakan tindak lanjut kunjungan Presiden Joko Widodo,”  ujarnya.
Dalam misi dagang Bangladesh, Kemendag akan membawa sejumlah perusahaan besar dari berbagai sektor seperti sawit, fesyen, makanan dan minuman, otomotif, BUMN, jasa, furnitur, dan instansi daerah. Hingga saat ini, sejumlah 46 perusahaan telah memastikan turut mengemban misi perdagangan dengan delegasi sebanyak 96 peserta. Para pengusaha ini telah menjalin komunikasi dagang dengan 122 buyer Bangladesh, terdiri atas 103 perusahaan importir dan 19 delegasi KADIN Bangladesh. Sebagaimana dikutip laman Kemendag RI, Minggu (22/4).  
Ditjen PEN juga telah mengagendakan pertemuan penting para pengusaha kedua negara dalam sejumlah kegiatan seperti Business Forum dan Business Matching serta kunjungan ke importir minyak kelapa sawit, Meghna Group of Industries (MGI). MGI merupakan salah satu perusahaan konglomerat terbesar dan terkemuka di Bangladesh. Dengan omzet USD 2 miliar dan aset USD 1 miliar, MGI saat ini mengoperasikan 32 perusahaan dan 30 industri termasuk pengolahan minyak nabati, yaitu Tanveer Oil Mills Ltd. 
Kegiatan Business Forum dan Business Matching akan dihadiri Duta Besar RI di Dhaka dan Secretary of Ministy of Commerce, Bangladesh. Pada kegiatan tersebut Arlinda dijadwalkan akan memberikan paparan utama. 
Selain itu, Ketua Kadin Indonesia Komite Asia Pasifik Bernardino Moningka Vega akan menjadi moderator dalam panel diskusi terfokus. Pembicara yang akan hadir yaitu Perwakilan KADIN Indonesia komite Bangladesh, Deepak Samtani; President of Federation of Bangladesh Chambers of Commerce and Industry, Md Saiful Islam; Head of National Interest Accout Indonesia Eximbank, Nilla Meiditha; Gas Sourcing Manager PT. Pertamina, Imam Mul Akhyar; Vice President Director PT. Adaro Energy, Tbk, Dharma Djojonegoro; Ketua Umum GAPKI, Joko Supriyono; dan Executive Member Bangladesh Investment Development Authority (BIDA), Ajit Kumar Paul.
Di bidang investasi, Bangladesh menawarkan iklim bisnis yang menguntungkan dengan adanya fasilitas Bangladesh Economic Zone dan kebijakan pemerintah yang mendukung sektor bisnis. Pemerintah Bangladesh juga memberikan berbagai insentif di sektor industri melalui mekanisme kerja sama pemerintah dan swasta. Dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil dan iklim investasi yang menguntungkan, prospek ekonomi dan bisnis di Bangladesh sangat luas.

Kegiatan misi dagang Bangladesh akan disinergikan dengan perhelatan Indonesia Fair 2018 yang diinisiasi oleh KBRI Dhaka. KBRI akan menyediakan 40 stan untuk pelaku usaha dan 4 paviliun untuk sponsor yaitu Kementerian Pariwisata, Pertamina, Adaro Energy, dan Angkasa Pura dimana penjaringan peserta dilakukan oleh Ditjen PEN, Kemendag.

“Kegiatan misi dagang ini akan disinergikan dengan perhelatan Indonesia Fair 2018 di Hotel Le Meridien, Dhaka. Ajang yang pertama kali dilakukan di Bangladesh ini akan dikemas dalam konsep promosi yang terpadu  dan terintegrasi,” ungkap Arlinda.

Selain itu, Indonesia Fair 2018 akan menyatukan kegiatan forum bisnis, temu bisnis, promosi budaya dan pariwisata, serta peragaan busana Indonesia. Pelaku bisnis, pejabat pemerintah, akademisi, dan masyarakat luas ditargetkan menghadiri acara ini.  Bangladesh Sebagai Pasar Potensial, selain itu Bangladesh merupakan salah satu negara terpadat di dunia dengan penduduk lebih dari 160 juta jiwa. Bangladesh  memiliki populasi penduduk muslim terbesar ketiga di dunia. Sejak tahun 2011, Bangladesh menunjukan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi yaitu di atas 6%. Dalam tiga tahun ke depan, Bangladesh ditargetkan menjadi negara dengan penghasilan menengah.

Produk domestik bruto (GDP) Bangladesh pada 2016-2017 mencapai rekor tertinggi sebesar 7,2% yaitu mencapai USD 246,2 miliar dengan GDP perkapita mencapai USD 1,602. Perekonomian Bangladesh ditopang pasar domestik yang besar, industri manufaktur berorientasi ekspor, penerimaan remitansi yang tinggi, serta kemudahan investasi.

Tren perdagangan Indonesia-Bangladesh selama 5 tahun terakhir (2013-2017) mengalami tren meningkat di kisaran 6,71%. Hal ini terlihat dari nilai total perdagangan nonmigas pada tahun 2013 sebesar USD 1,15 miliar dan menjadi USD 1,66 miliar pada tahun 2017.

Neraca perdagangan Indonesia-Bangladesh tahun 2017 mengalami surplus USD 1,52 miliar, terdiri atas surplus nonmigas USD 1,50 miliar dan surplus migas USD 16,12 juta. Nilai ekspor produk nonmigas Indonesia ke Bangladesh tahun 2017 tercatat sebesar USD 1,58 miliar. Sedangkan nilai ekspor produk migas sebesar USD 16,12 juta. 

Sementara itu, produk ekspor nonmigas Indonesia-Bangladesh dengan nilai tertinggi pada 2017 yaitu minyak kelapa sawit dan turunannya, bubur kayu kimia, benang, dan serat staple buatan. Sedangkan lima besar produk yang diimpor Indonesia dari Bangladesh yaitu benang jute, kaos oblong, singlet dan rompi,  karung dan tas, serta pakaian. Kemudian untuk impor utama Bangladesh dari dunia di antaranya minyak medium, katun, minyak kelapa, komoditas,  gula tebu mentah, gandum dan meslin, denim, minyak kedelai mentah, dan telepon. (Tim)
Komentar Anda

Berita Terkini