Politisi Senior PDIP Malut di Periksa KPK

/ Minggu, 08 April 2018 / 22.59


Ikram Haris (Wakil Ketua DPRD Malut)
 
TERNATE – Wakil Ketua DPRD Maluku Utara Ikram Haris mengaku diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi untuk Bupati Halmahera Timur nonaktif Rudy Erawan dalam pengembangan kasus suap proyek Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat tahun anggaran 2016.

" Saya diperiksa sebagai saksi dari kasus pak Rudi Erawan, dan kedudukan saya Sekretaris PDIP Malut saat itu," ungkap Ikram Haris melalui via  telepon. Minggu (8/4/2018). 

Informasi yang dihimpum Nusantaratimur.com bahwa pemeriksaan  politisi senior  PDI Perjuangan itu dilakukan hari Jumat (6/4) kemarin. 

" Iya benar, saya diperiksa hari jumat kemarin," aku Ikram.

Pemeriksaan Ikram Haris  oleh penyidik KPK bekaitan dugaan tersangka Bupati Haltim Rudy Erawan yang menerima hadiah atau janji yang bertentangan dengan kewajibannya sebagai bupati.  Bupati Rudy Erawan menerima suap dari terdakwa Amran Mustari sebesar Rp 5,6 miliar. 

Berdasarkan amar putusan PN Jakarta Pusat Nomor :129/Pid.Sus/TPK/2016/PN.Jkt.PST. di mana dalam keterangan saksi Imran S. Djumadil bahwa sekira bulan Juli 2015 atau beberapa hari setelah terdakwa (Amran Hi. Mustary) dilantik menjadi Kepala BPJN IX Maluku dan Maluku Utara bertempat diloby hotel Lumire Senen Jakarta Pusat saksi (Imran S. Djumadil) mengikuti pertemuan dengan terdakwa, Hong Artha John Alfred, Abdul Khoir dan Dzulkhairi Muchtar alias Heri yang merupakan kontraktor di Maluku. 

Lagi kata Imran S. Djumadil  bahwa beberapa hari setelah pertemuan tersebut saksi dihubungi oleh Heri bahwa ada uang pemberian Abdul Khoir dan Hong Artha John Alfred untuk terdakwa sebesar Rp. 6.000.000.000.00,- (Enam miliar rupiah) dalam bentuk mata uang Dollar Amerika (USD) dalam dua paket bungkusan, uang tersebut saksi terima dari Heri didepan sebuah Hotel di jalan Gajah Mada Jakarta Pusat.

Keesokan harinya saksi ditelepon terdakwa Amran Hi. Mustary menanyakan uang titipan Heri tersebut dan terdakwa meminta saksi Imran S. Djumadil menyerahkannya di Hotel Ambhara. Selanjutnya saksi Imran S. Djumadil meluncur ke hotel Ambhara dan bertemu Abdul Khoir kemudian bersama-sama menuju kamar tempat terdakwa. Dikamar tersebut sudah ada terdakwa dan Iqbal Tamher, lalu Abdul Khoir menyerahkan uang tersebut kepada terdakwa. Uang yang saksi serahkan kepada terdakwa melalui Abdul Khoir tersebut sebanyak Rp. 3.000.000.000.00,- (tiga miliar rupiah), sedangkan sisanya sebesar Rp. 3.000.000.000.00,- (Tiga miliar rupiah) saksi simpan di mobil saksi.  Kemudian setelah uang tersebut diserahkan selanjutnya terdakwa, Abdul Khoir, dan Iqbal Tahmer berangkat ke Kementerian PUPR sedangkan saksi langsung pulang. 

Pada malam harinya terdakwa Amran Hi. Mustary menanyakan sisa uang yang masih ada pada saksi (Imran S. Djumadil) sebesar Rp. 3.000.000.000.00,- (tiga miliar rupiah) lalu saksi antarkan kepada terdakwa di Hotel Ambhara, setelah saksi serahkan kepada terdakwa selanjutnya terdakwa mengajak saksi menemui Rudy Erawan di Delta Spa Pondok Indah Jakarta untuk menyerahkan uang tersebut.

Uang diserahkan oleh terdakwa  Amran Hi. Mustari pada saat bertemu  dengan Rudy Erawan membicarakan mengenai adanya dana optimasi dari pusat atau on top dan terdakwa ingin agar Rudy Erawan dapat mengusulkan dana tersebut untuk ditempatkan di Maluku Utara.


Tak hanya itu, Pemberian Uang senilai 2,6 Miliar. Menurut keterangan Saksi Imram S. Djumadil sekitar Agustus 2015 Abdul Khoir mendatangi rumah saksi di Citra Gran Blok Brentwood RC 1 No. 10 Cibubur dan membawa 2 (dua) tas besar dan masuk ke saksi sambil mengatakan bahwa ini ada uang Rp. 2.600.000.000.00,- (dua miliar enam ratus juta rupiah) yang akan diserahkan kepada terdakwa Amran Hi. Mustary atas permintaannya, lalu saksi terima uang tersebut.

Kemudian saksi  Imran S. Djumadil beritahu terdakwa Amran Hi. Mustary  dan terdakwa mengatakan nanti bertemu di Hotel Ambhara. Keesokan harinya saksi sambil membawa tas berisi uang Rp. 2.600.000.000.00,- menemui terdakwa. Kemudian terdakwa meminta saksi mengantarkan terdakwa menemui Rudi Erawan di parkiran basement Delta Spa Pondok Indah Jakarta.
Diparkiran Basement Delta Spa Rudy Erawan mendekati mobil kami dan terdakwa meminta saksi menyerahkan tas berisi uang Rp. 2.600.000.000.00,- tersebut kepada Rudy Erawan. Kemudian saksi serahkan tas berisi uang Rp. 2.600.000.000.00,- tersebut kepada Rudi Erawan dan langsung dibawa pergi.

Menurut Imran S. Djumadil pemberian uang Rp. 2.600.000.000.00,- oleh terdakwa kepada Rudi Erawan adalah agar Rudi Erawan selaku Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Maluku Utara memperjuangan dana Optimalisasi yang biasa disebut sebagai dana on Top untuk dialokasikan ke anggaran BPJN IX Maluku dan Maluku Utara.

Rudy disangka melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau pasal 12B atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. (tim)
Komentar Anda

Berita Terkini