Kapolda Malut Akan Pelajari Berkas Kasus CSR PT. NHM dan Genset PT. Antam

/ Selasa, 22 Mei 2018 / 23.39

Kapolda Malut Brigjen Moch Naufal Yahya saat berkunjung ke Kejati Malut, Selasa (22/5)
TERNATE -   Kapolda Malut Brigjen Pol Moch Naufal Yahya berkomitmen menindaklanjuti sejumlah kasus korupsi yang mengendap di meja penyidik Polda Malut.

“ Ada beberapa kasus yang belum diselesaikan. Setelah kunjungan silaturahmi ini, saya akan bicarakan dengan Dirkrimsus dan Kejati Malut, tutur  Naufal Yahya usai berkunjungan ke  Kantor Kejaksaan Tinggi Maluku Utara. Selasa (22/05/2018) siang tadi.

Menurut Naufal,  ada berapa kasus korupsi yang terhenti. Kata dia, kasus yang di tangani Polda dan Kejati terkesan nggak jalan sama sekali. Untuk Polda Malut sendiri yang menangani kasus CSR PT. NHM sebesar Rp. 190 Milyar, kasus pengadaan genset PT, Antam sebesar 17,5 Milyar yang katanya mau di SP3. Namun hingga saat ini belum dilakukan.

“ Saya akan lihat dan pelajari seperti apa kasus tersebut,” ujar Kapolda.

Lanjutnya, banyak kasus korupsi di Malut terhenti dan tidak diproses kelanjutanya. karenanya saat ini seperti kasus pengadaan genset yang bersangkutan, kan lagi calon wakil gubernur Malut. “ Dugaan keterlibatan kasus korupsi akan dilanjutkan hingga selesai pilkada,” pungkasnya.

Sekedar diketahui, kasus Dana Hibah Perusahaan PT. ANTAM tahun 2010 kurang lebih 17,5 Milyar.  Untuk pengadaan Genset dalam rangka  memenuhi kebutuhan listrik kantor Gubernur Malut di Sofifi waktu itu.  

Diduga kasus ini melibatkan mantan Kepala Dinas Pengelolaan Pendapatan dan Aset Daerah Provinsi Malut, Abdul Madjid Husen. Modusnya, dana hibah yang wajib harus ditransfer ke rekening Kas Umum Daerah dan pengeluarannya sesuai mekanisme.

Alhasil,  kasus tersebut diduga menabrak Perintah Pasal 1 angka 4 & 5 PP. 39/2007 tentang Pengelolaan Uang Negara/Daerah. Sebab dana itu ditransfer ke rekening Dispenda Malut sekitar bulan Maret Tahun 2010.

Sementara Dana hibah dari PT. ANTAM dipergunakan membeli 2 unit mesin Genset merk MTU masing-masing berkapasitas 1,5 MW buatan Jerman. di beli langsung dari distributor Surabaya tanpa melalui tender terbuka.  Hal itu tersebut disinyalir terjadi mark up, sementara sumber Dinas Pertambangan Malut menyebut dua unit mesin genset tersebut adalah mesin bekas yang dimekup alias didandani. (tim)
Komentar Anda

Berita Terkini