Pebisnis Kayu Merasa Dirugikan, Ulah Oknum Anggota Polair Polda Malut

/ Sabtu, 05 Mei 2018 / 01.01
Pemilik kayu Maksud Kie (pakai kameja) bersama temannya, Jumat (4/5)

TERNATE -  Maksud Kie pengusaha kayu, asal Desa Soagimalaha Kabupaten Halmahera Timur (Haltim), Provinsi Maluku Utara. Merasa dirugikan ulah salah satu oknum anggota polisi perairan (Polair) Polda Malut berpangkat Bripka berinisial RU.

Pasalnya, kayu olahan milik Maksud Kie sebanyak 9 kubik yang dilengkapi dokumen kayu serta Surat Keterangan Asal Usul (SKAU) kayu yang ditahan oknum anggota Polair di pelabuhan Ferry Bastiong Ternate tanggal 7 Maret lalu.

Hal itu sangat disesalkan Maksud Kie selaku pemilik kayu, sebab alasan penahanan kayu tersebut yang diangkut dari Haltim menuju Bitung Sulawesi Utara (Sulut) tidak memiliki dokumen serta SKHU alias illegal.

Atas kejadian itu, Maksud Kie yang juga tenaga teknis Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Direktorat Jendral Pengelolaan Hutan Produksi Lestari, merasa dirugikan. Karena kayu olahan itu telah ditahan oknum anggota Polair selama satu minggu ini sehingga secara materil dirinya merasa dirugikan.

“ Soal penahanan kayu tersebut perlu dipertanyakan atas dasar apa oknum anggota Poliar Polda Malut menahan kayu miliknya. Saya punya kayu ini tujuan Bitung total kayu sebanyak 9 kubik, dilengkapi dengan Surat SKHU, saya juga pemilik kayu, saya juga  tenaga teknis PHPL menyangkut dengan peredaran hasil hutan. Sehingga saya merasa ini sudah sesuai prosedur. Makanya dengan dasar apa mereka menahan kayu tersebut sudah satu minggu ini” tutur Maksud Kie melalui press conference kepada wartawan di Ternate. Jumat (4/5/2018).

Maksud membeberkan, pasca kayu olahanya sebanyak 9 kubik itu ditahan oknum polisi polair. Dia kemudian mendatangi kantor Direktorat Poliar Polda Malut di pelabuhan Ahmad Yani Ternate pada minggu malam lalu. Sesampainya di kantor Direktorat Poliar Polda Malut, ia di interogasi salah satu penyidik, Setelah diinterogasi Maksud Kie kemudian menunjukan seluruh dokumen kayu ke oknum penyidik Ditpolair. Namun oknum polisi Ditpolair tersebut menyarankan kepada Makasud Kie untuk bertemu dengan pimpinan yang tidak lain adalah Dirpolair Kombes Pol Arif Budi Winofa.

”Saya di arahkan oleh penyidik Ditpolair untuk bertemu dengan pimpinan mereka, Namun saya sampaikan kayu saya itu sudah dilengkapi dokumen lengkap sesuai prosedur. Namun oknum penyidik Polair beralasan bahwa pada saat mengangkut kayu dari Haltim menuju Bitung saya tidak memiliki surat angkutan atau SKHU setelah saya tunjukan ke dia surat SKHU saya, oknum penyidik kemudian berdalih nanti pak ketemu saja dengan pimpinan kami,” tukas Maksud.

Dia juga mengkisahkan kronologis kasus yang menimpanya pada minggu malam itu bahwa kayu tersebut itu sudah memiliki dokumen angkutan secara online sesuai dengan aturan yang berlaku.

” Saya sudah datangi kantor  Polair. Namun alasan penyidik alangkah baiknya kamu ketemu dengan pimpinan kami, namun saya pertanyaanya apa saya harus komunikasi dengan pimpinan. Sementara kayu yang diangkut dari Haltim menuju Bitung sudah memiliki dokumen,” bebernya.

Maksud berharap, agar peristiwa ini segera diselesaikan Direktorat Poliar Polda Malut supaya tidak menganggu usaha mereka selaku pebisnis kayu di daerah ini.

” Kalaupun ini tidak ditindaklanjuti oleh pimpinan dalam hal ini Kapolda, nantinya akan meresahkan kami selaku pengusaha kayu. Untuk itu harapan saya semoga kasus ini secepatnya diselesaikan,” pinta Maksud.

Berkaitan dengan masalah itu, Direktorat Poliar Polda Malut Kombes Pol Arif Budi Winofa menyatakan, kayu milik Maksud Kie saat ini masi di lacak di daerah mana kayu itu didapatkan. sementara kayu tersebut masih diamankan disebuah truk yang bermuatan 9 Kubik.

"Sementara tim kami masi dilapangan untuk mengetahui dari mana sebetulnya kayu tersebut, apakah kayu tersebut berasal dari kebun masyarakat ataukah kayu itu didapatkan di hutang karena jenis kayu tersebut adalah jenis kayu besi," ujarnya. (YSM)
Komentar Anda

Berita Terkini