Bandara Kuabang Kao Diblokir Warga

/ Jumat, 01 Juni 2018 / 16.43
Masih berlangsung puluhan warga Desa Jati Kecamatan Kao melakukan pemblokiran Bandara Kuabang Kao. Kamis (31/5)

HALUT - Puluhan masyarakat Desa Jati Kecamatan Kao, Kabupaten Halmahera Utara, melakukan pemblokiran Bandara Kuabang Kao. Pemblokiran tersebut dilakukan sejak Kamis (31/05/2018) hingga Jumat (1/6/2018) ini. Warga menduduki runway bandara dan memasang satu unit tenda di landasan pacu. Tak hanya itu, runway juga ditutupi dengan potongan batang pohon.

Aksi warga ini sebagai bentuk protes atas sikap pengelola bandara. Saat ini, warga dan pengelola tengah berhadapan di meja hijau atas tudingan pencaplokan lahan oleh Bandara Kuabang. Di tengah proses hukum yang belum tuntas, pihak pengelola justru mengagendakan peresmian bandara.

Koordinator aksi Kres Ayang kepada nusantaratimur.com mengatakan, hingga kini masih ada sekitar 50 massa yang menduduki landasan pacu. Warga mengancam akan menggagalkan penerbangan Wings Air rute Kao-Manado yang beroperasi di bandara tersebut. "Bandara ditutup hingga ada titik penyelesaian ganti rugi lahan dari Pemerintah Kabupaten Halut," tegasnya.

Total ada 13 Kepala Keluarga (KK) yang merasa lahannya dicaplok pihak bandara. Sedangkan lahan yang disengketakan mencapai 43 hektare. Menurut Kres, warga pemilik lahan merasa dibohongi pengelola bandara. "Jadi awalnya pada 2013 pihak bandara memasang pagar BRC di lokasi milik warga. Alasannya, agar hewan ternak warga tidak masuk berkeliaran di dalam bandara. Demi keselamatan penerbangan, warga pun memberikan izin," ungkapnya.

Ternyata, sambung Kres, pihak bandara diam-diam melakukan balik nama dalam sertifikat kepemilikan lahan-lahan tersebut. Hingga 2014, persoalan tersebut dibiarkan saja seperti itu. Padahal, warga berharap Pemkab bakal turun tangan. Warga akhirnya mengajukan gugatan ke pengadilan. "Bupati Halut Frans Manery juga pernah berjanji akan segera menyelesaikan persoalan ini. Tapi hingga 2018 tak ada titik terangnya. Bagian Hukum yang diutus Bupati untuk menyelesaikan persoalan ini, entah kenapa tak ada perkembangannya," tutur Kres.

Isai Djurubasa, salah satu pemilik lahan juga menyampaikan hal serupa. Menurutnya, Pemda Halut sebelumnya telah menyatakan akan melakukan ganti rugi demi pengembangan bandara. "Namun sampai detik ini belum ada sepeser pun diterima pemilik lahan," ungkapnya.

Pada Rabu (30/5/2018) kemarin, sidang kepemilikan lahan bandara dilanjutkan. Di saat bersamaan, pihak bandara justru melakukan peresmian bandara oleh Kementerian Perhubungan pada Kamis paginya. Hal ini memantik amarah warga yang lalu melakukan pemblokiran.

Jumat pagi tadi, Bupati Frans telah mendatangi warga pemilik lahan. Setelah dilakukan negosiasi, kemungkinan landasan pacu sudah diizinkan beroperasi lagi pada Sabtu (2/6/2018). "Tapi terminal baru masih diduduki warga sampai sidang selanjutnya nanti tanggal 27 Juni," kata Kres.

Terpisah, Manager Lion Group Ternate Irawan saat dikonfirmasi mengatakan, penutupan bandara berpotensi menimbulkan kerugian bagi maskapai. Penerbangan Wings Air rute Kao-Manado yang biasanya dijadwalkan pukul 13.00 WIT terpaksa diundur hingga pukul 16.00 sore ini. Bandara Kuabang sendiri sejauh ini baru didarati satu penerbangan tersebut.

"Jadwal take off Wings Air Kao-Manado biasanya pukul 13.00 WIT. Penutupan bandara ini tentu saja menimbulkan kerugian bagi Lion Group karena penerbangan kami diundur, bahkan bisa di-cancel jika penutupan berlanjut," ujarnya. (iel)
Komentar Anda

Berita Terkini