Panas Bumi Jailolo Dilirik Pempus

/ Rabu, 04 Juli 2018 / 21.37
Tim memantau potensi panas bumi di Desa Idamdehe, Kecamatan Jailolo, Rabu (4/7/2018)


HALBAR - Potensi panas bumi (geotermal) yang lama terpendam  di Gunung Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat (Halbar) kini mendapat perhatian serius Pemerintah Pusat (Pempus). Setelah gagal dieksplotasi PT Star Energy Geothermal, pemerintah pusat membuat opsi lain dengan menyediakan dana eksplorasi.
 
Tujuan eksplorasi panas bumi ini adalah mendorong pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan yang berkelanjutan dalam pemanfaatan potensi panas bumi. Hal ini tak lepas dari upaya menyukseskan program kemandirian energi nasional. Panas bumi dinilai lebih efektif, efisien dan berkelanjutan secara jangka panjang dibandingkan tenaga listrik yang bersumber dari batubara dan diesel.

Anggaran yang disiapkan untuk Pembiayaan Infrastruktur Sektor Panas Bumi (PISP) ini bersumber dari Kementerian Keuangan. Sementara fasilitas pembiayaan eksplorasi potensi panas bumi tersebut dikelola PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), sebuah BUMN di bawah Kementerian Keuangan. 

"Kementerian Keuangan telah menerbitkan PMK Nomor 62 Tahun 2017 tentang Penyediaan Dana Fasilitas pembiayaan Eksplorasi Panas Bumi," ungkap Ilham, salah satu anggota tim Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dalam pertemuan dengan Pemda Halbar di ruang rapat Bappeda Halbar, Rabu (4/7/2018). 

Melalui PMK tersebut, Kemenkeu menugaskan SMI melakukan survei dan kajian potensi panas bumi Jailolo sesuai usulan Kementerian ESDM akhir 2017 lalu. Hasil evaluasi PT SMI, panas bumi Jailolo berpotensi untuk dieksplorasi dan dikembangkan menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). 

Sebelumnya, Kementerian ESDM dalam pemanfaatan dana PISP telah mengusulkan lima lokasi potensi panas bumi untuk diekplorasi, salah satunya adalah panas bumi di Jailolo (Halbar) dengan kapasitas sebesar 75 MW. 

Sementara empat lokasi lainnya yang diusulkan Kementerian yang dipimpin Rini Soemarno ini adalah Wae Sano dan Nage dengan potensi masing-masing 30 MW. Keduanya terletak di Provinsi Nusa Tenggara  Timur (NTT). Dua lokasi lainnya terletak di Bittuang di Sulawesi Selatan dengan potensi 28 MW dan Bonjol di Sumatera Barat dengan potensi 200 MW. 

Untuk Jailolo, dalam proyek eksplorasi panas bumi menggunakan dana PISP ini masuk dalam prioritas kedua setelah WKP (Wilayah Kerja Panas Bumi) Wae Sano di NTT. Wae Sanosaat ini sedang berjalan proses penyiapan dokumen tender dan pekerjaan teknik sipil akses jalan. 

Kemenkeu selaku founder (donatur) dana PISP untuk pembangunan infrastruktur eksplorasi panas bumi sementara memproses penerbitan SK penugasan kepada PT SMI untuk memfasilitasi kegiatan eksplorasi panas bumi di jailolo. Untuk itu, Kementerian ESDM, Kemenkeu dan PT SMI selaku pengelola dana PISP berharap dukungan dari pemerintah dan masyarakat Halmahera Barat.  

Menanggapi harapan Kementerian ESDM, Kemenkeu dan PT SMI, Asisten 1 Setda Halbar, Vence Muluwere, saat memandu pertemuan menegaskan bahwa pemda dan masyarakat Halbar menyambut gembira program tersebut. "Prinsipnya Pemda Halbar menyambut baik program ini demi kesejahteraan masyarakat Halbar," ujarnya. 

Usai menggelar pertemuan, tim kementerian yang berjumlah kurang lebih sebelas orang itu didampingi perwakilan Dinas Pertambangan Maluku Utara, Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan ESDM Halbar Justinus Rahailwarin, dan Kepala Bappeda Halbar Soni Balatjai meninjau lokasi penampakan panas bumi (fumarol) di atas pemukaan tanah di Desa Idamdehe, Kecamatan Jailolo.(NCS)



Komentar Anda

Berita Terkini