Strategi Pilkada Gaya Hobbes di Morotai

/ Selasa, 03 Juli 2018 / 23.53
Oleh : Hasbullah Tonau

Pilkada adalah momen strategis bagi masyarakat yang berada di daerah pemilihan. Sebagai langka taktis pengalihan kekuasaan. Pilkada juga di pahami sebagai penentuan pembangunan daerah dalam lima tahun masa kepemimpinan.

Namun, dalam setiap momen pemilihan kepala daerah, Selalu di warnai oleh gaya politik para elit berdasi dengan gaya politik yang di desain dengan berbagai cara yang menarik dan di paduhkan menjadi satu cara tepat untuk mempengaruhi paradigma masyarakat (publik).

Di momen pemilihan gubernur (Pilgub) yang di selengarakan pada tanggal 27 juni 2018 kemarin. terlihat beberapa daerah gembira menjemput hajatan demokrasi tersebut. Tak terkecuali kabupaten pulau Morotai.

Menurut penulis (Hasbullah tonau), gaya politik yang di mainkan di kabupaten pulau morotai, Terkesan melahirkan aroma yang mengikat. Pasalnya, Ketika 88 di fatwa, dengan gaya komunikasi politik yang mengancam. Hingga semua kekuatan di desa secara struktural bergerak dalam satu komando yang sama yang membuktikan bahwa Kekuasaan tertinggi menjadi mesin penggerak politik yang cukup sukses di mainkan para elit dan instrumen yang di anggap efektif untuk mengegerkan proses konsulidasi sampai tahap akhir.

Berangkat dari pemaparan singkat di atas penulis melihat dalam the state of natural Thomas hobbes. Ada gaya mengikat di antara janji dan ancaman. Gaya yang sedikit memaksakan kehendak, Terkesan menggunakan konstruksi Thomas hobbes pemikir asal inggris.

Pemikiran Hobbes tersebut, telah di kenal luas oleh seluruh kalangan pemikir di dunia. Dengan gaya retorika yang sedikit ekstrim membuatnya di nobatkan sebagai toko politik yang jahat, setelah machavelli dan thacovelli. (baca:politik muka dua).

Dalam pemikirannya, Hobbes melihat, bahwa untuk bisa mengatur rakyat membutuhkan Kekuasaan. Kekuasaan yang mampuh melumpuhkan dan membuat rakyat takut hingga mematuhi kehendak penguasa. Hobbes memahami bahwa manusia dengan sifat binatang (animal power). Akan menjadi sumber yang mengancam hidup sosialnya.

Maka dibutuhkan gaya ekstrim. Gaya menjanjikan dan gaya memaksakan. Agar semuanya bisa di atur. (***)
Komentar Anda

Berita Terkini