Proyek Dermaga Wisata Gamtala Tak Sesuai Juknis

/ Jumat, 10 Agustus 2018 / 16.58
Lokasi Proyek pembangunan Dermaga Wiasata Gamtala, Kabupaten Halbar (Dok; NSC)
HALBAR - Proyek Pembangunan Dermaga Wisata Desa Gamtala, Kecamatan Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat (Halbar) terindikasi tidak sesuai petunjuk teknis (Juknis) dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar) namun Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Halbar Deni Kiat menganggap itu hal biasa. Jumat (10/08/2018).

Pasalnya, proyek Pembangunan Dermaga Wisata Gamtala milik Pariwisata yang dikerjakan oleh CV. Kalipare dengan Nilai kontrak Rp.232.000.200. Diduga tidak sesuai ketentuan di dalam  peraturan Kementerian Pariwisata terkait pengelolaan Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik bidang pariwisata.

Di sisi lain pembangunan dermaga wisata yang seharusnya difokuskan untuk membangun dermaga ternyata dipakai juga untuk membangun swering di pesisir Air panas Desa Gamtala.

Tak hanya itu, pembangunan dermaga ini juga tidak sejalan dengan peraturan Menteri Pariwisata RI Nomor 3 Tahun 2018 tentang petunjuk Operasional pengelolaan Dana Alokasi Khusus Bidang Pariwisata. Seperti yang terlihat di kawasan pembangunan, di mana bangunannya bukan seperti dermaga melainkan seperti ruang tunggu kecil  yang beratap rumbia .

Apalagi jika dilihat dari sisi desain yang tidak sesuai dengan pola penempatan untuk setiap tipe dermaga yang sudah ditentukan sesuai petunjuk Kemenpar.

Kepala Dinas Pariwisata Halbar, Fenni kiat saat dikonfirmasi baru-baru ini mengatakan, awal pekerjaan dermaga wisata desa Gamtala hanya berubah titik lokasi dalam kawasan air panas Gamtala.
" Sementara terkait dengan design dan RAB hanya misskomunikasi dengan konsultan dan hal ini telah di revisi kembali'" tegasnya.

Lanjut fenni, dan pekerjaan ini telah di laksanakan sesuai dengan petunjuk maupun ketentuan yang di atur dalam peraturan menteri tentang pelaksanaan DAK fisik tahun anggaran 2018. " Sebelum tandatangan kontrak sudah dilakukan penyesuaian dulu."tukas Fenni.

Menurut Fenni, kesalahan itu hanya disebabkan dokumen tertukar antara Gamtala dan Bobanehena. " Hal ini kan manusiawi. Apalagi item juga sama, tetapi langsung segera disesuaikan ulang," jelasnya.

Terpisah Asril, selaku PPTK kepada awak media baru-baru ini menuturkan, pengembangan bidang pariwisata memang harus sesuai karakteristik desa wisata tidak mungkin bisa sama di semua daerah. tiap kawasan kan berbeda-beda kondisi geografisnya.

Asril juga menjelaskan dermaga wisata di Desa Gamtala di design untuk menjadi daya tarik wisatawan tetapi tidak keluar dari petunjuk Kemenpar. " Jadi dengan melihat keadaan di desa Gamtala makanya kita sesuaikan design nya yang fungsinya tetap dermaga wisata," paparnya.

"Sementara didesa bobanehena kita sesuaikan juga dengan keadaan geografis bedanya di gamtala dermaga wisata fungsinya wisatawan menyusuri kawasan mangrove sedangkan dermaga wisata bobanehena fungsinya sebagai titik labuh kapal/perahu diving/snorkeling bisa juga untuk titik labuh kapal yacht," tambahnya.

"Proyek dermaga wisata ini telah dikerjakan sesuai petunjuk teknis yang diatur dari Kemenpar, designnya bisa dI kondisikan sesuai karakteristik desa wisata. Fungsinya yang kita jaga tetap sebagai dermaga wisata jadi bentuknya beda dengan proyek dermaga milik perikanan atau bidang lain," tutupnya.(ncs)
Komentar Anda

Berita Terkini