Ekonom : TTICD Diharapkan Bukan Sekedar Simbol

/ Rabu, 05 September 2018 / 23.54
Pengamat ekonomi Maluku Utara,Rahmatullah Yahya
SOFIFI – Pengamat ekonomi Maluku Utara,Rahmatullah Yahya berharap Toko Tani Indonesia Daerah (TTICD) yang saat ini telah diluncurkan Pemerintah Daerah Provinsi Malut melalui Dinas Pangan di dua daerah yakni di Kao,Kabupaten Halmahera Utara dan Sofifi,Kota Tidore Kepulauan bukan sekedar simbol saja,namun lebih dari itu.

Menurutnya,sebagai pemasok kebutuhan pangan,TTICD diharapkan mampu menekan gejolak dan hambatan pasokan pangan serta mampu menekan laju inflasi daerah kurang dari 3,28 persen menurut laporan terakhir Badan Pusat Statistik Malut dibawah laju inflasi nasional yaitu 3,40 persen.

“Sebab ketersediaan pangan juga merupakan indikator naik turun inflasi sebuah daerah,jadi diharapkan TTICD ini bukan sekedar simbol tetapi merupakan solusi bagi daerah agar mampu menekan laju inflasi,karena pasokan yang dijual toko tani ini adalah hasil dari sektor pertanian yang menjadi salah satu indikator makro pembangunan Provinsi ini,”kata Rahmatullah kepada Nusantaratimur,(5/9/2018).

Disisi lain kehadiran TTICD kata mantan staf khusus ekonomi dewan riset daerah Provinsi Banten ini,juga diharapkan mampu  berperan aktif menopang pertumbuhan ekonomi Malut dan meminimalisir angka pengangguran yang rata – rata pada medio Februari 2018 mencapai 4,65 persen,sementara tingkat ekonomi 7,93 persen.Dengan begitu,kehadiran TTICD kata Rahmatullah tidak ansih pada posisi penjual saja,akan tetapi juga sebagai pelaku usaha mikro maupun makro ekonomi disektor pangan.Demikian juga pada sektor pasar,Pemerintah juga dituntut menjamin serta menyediakan pasar dengan tujuan agar produk yang dijual toko tani ini tidak kalah bersaing dengan pelaku pasar milik swasta.

Oleh karena itu,TTICD butuh manajemen marketing yang profesional mengikuti pola perkembangan pasar yaitu dengan jalan membuka oulet di 8 Kabupaten/Kota lainnya yang belum memiliki TTICD.Ini kata Rahmatullah bertujuan agar mampu merangsang konsumen maupun penyuplai pangan terutama bagi kelompok – kelompok tani yang berkecimpun didaerah masing – masing sehingga pasar akan tercipta dengan sendirinya.

”Pemerintah juga perlu menyediakan dan menjamin pasar,jangan sampai TTICD kalah bersaing dengan pemodal besar atau milik swasta yang notabenenya menguasai pasar,maka dari itu perlu dibuat oulet di 8 daerah lainnya,selain mampu menguasai pasar,ini juga bertujuan untuk memotivasi kelompok tani didaerah masing – masing serta turut mengurangi tingkat pengangguran,”ujar dosen Universitas Bumi Hijrah Sofifi itu.

Kendati begitu tambah dia,kehadiran TTICD juga butuh penguatan dari segi hukum berupa regulasi yang mengatur seluruh aktivitasnya maupun struktur didalamnya sehingga tak ubahnya seperti bisnis pribadi yang akhirnya menguntungkan pihak – pihak tertentu.”Maka dari itu perlu dibuatkan regulasinya,jangan sampai ini seperti barang milik pribadi yang ujungnya – ujungnya menguntungkan pihak tertentu,”pungkasnya.(bices)
Komentar Anda

Berita Terkini