Arifin Labenjang : Kerusuhan Lebih Jahat Dari Bencana Alam

/ Rabu, 17 Oktober 2018 / 20.11
Foto Arifin Labenjang Pasca Kerusuhan Ambon Tahun 1999.
MINSEL - Beberpa hari kemarin, masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) diuji tali silaturahminya antar umat beragama, dengan Penghadangan oleh beberapa ormas adat, yang menolak kedatang Habib  Muhammad Bahar bin Ali bin Smith dan Habib Muhammad Hanif bin Abdurrahman Al-athos di Kota Manado. penghadangan oleh ormas ini dilakukan di Bandara sam ratulangi yang berlangsung beberapa jam sejak pukul 22.00 sampai jam 04.00 wita.

Aparat kepolisian dan TNI turun mengamankan massa, kedatangan Habib Bahar sempat ada gesekan antara Pro dan Kontra, ormas yang tidak suka kedatangan habib di karenakan menurut mereka bahwa Habib Bahar adalah penganut faham Radikal, faham tersebut sangat bertolak belakang dengan faham yang di konsumsi oleh masyarakat Sulawesi Utara.

Di kubu lain, masyarakat menginginkan kedatangan kedua habib datang ke Manado untuk menghadiri haul ke-7 Habib Ali bin Abdurrahman bin Smith yang diwarnai tabligh akbar dan doa untuk bangsa Indonesia, khususnya para korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala.

Keadaan yang sempat memanas antara kedua pihak ini akhirnya mampu diamankan oleh aparat Kepolisian dan TNI, Sulut kembali pada kondisi seperti semula Kondusif aman dan terkendali, masyarakat Sulut masih menjunjung tinggi tali persaudaraan.

Walaupun aksi tersebut bukan masalah SARA, namun spekulasi dari orang di luar daerah Sulut seakan Daerah Manado sudah perang SARA, tanggapan-tangapan muncul di berbagai Sosial media (Sosmed) terkontaminasi dengan info HOAX dari berbagai sumber yang tidak benar dan tidak jelas.

Lepas dari kejadian itu, Arifin Labenjang Mantan Kontributor RCTI angkat bicara, arifin labenjang dalam sebuah tulisannya di Sosial Media (sosmed) mengungkapkan rasa kekawatirannya.

"Manado jangan sampai terjadi kerusuhan seperti di Ambon dan Poso, Saya wartawan RCTI yg di tugaskan ke Ambon bersama Kameramen Albert Bental warga Nasrani setiap hari penuh dengan kecemasan dan ketakutan karna di ancam di tembak jika mengeluarkan kamera untuk syuting, ngeri di sana, Wakil Gubernur kalah itu tinggal di pengungsian di pangkalan TNI angkatan laut, Halong Wadansat Brimob Polda Maluku di tembak anak buahnya, Kampung Pangdam Patimura dan rumahnya di Poka, di bakar rata dngan tanah. Mayat bergelimpangan, ribuan pengungsi, Ribuan Pasien rumah sakit akibat saling bantai tidak ada yg merawat, warga pendatang masuk kota Ambon untuk saling perang Waktu itu nyaris putus asa, Akankah ada perdamaian Kerusuhan di tunggangi politik, Kelaparan, ketakutan menjadi pemandangan setiap hari. Warga beringas untuk memakan manusia yg lain. Prinsipnya, dari pada terbunuh mending bunuh duluan. senjata laras parang, pistol, parang, dan tombak adalah kebutuhan utama di bandingkan makanan. Tidak ada doktrin yg paling kuat selain doktrin agama. Tidak ada yg menang tidak ada yg kalah, Menang jadi abu kalah jadi arang. Saya minta ampun jangan ada lagi kerusuhan berlatar belakang agama di Indonesia. Sejarah kelam dan buruk di Ambon dan Poso jngn terjadi lagi di bumi Indonesia apalagi Manado. Jangan ke depankan egois, merasa benar sendiri. Marilah berpelukan, saling berkasih sayang," tutur arifin Labenjang dalam status di media sosialnya.

Arifin Labenjang kala itu di tugaskan Peliputan di Poso dan Ambon sebagai pelaku sejarah arfin meminta masyarakat Khususnya Sulawesi Utara agar jangan terprovokasi dengan segala bentuk yang hanya akan merusak peradaban silaturami di Tanah sulawesi Utara yang terkenal sebagai daerah Aman dan Kondusif. (Ir)
Komentar Anda

Berita Terkini