Oknum Mahasiswa UMMU Gamuk Cari Dosen Pakai Senjata Tajam

/ Selasa, 30 Oktober 2018 / 19.44
Aksi Mahasiswa UMMU 
TERNATE-   Ratusan Aliansi Gerakan Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Maluku Utara menggelar aksi unjuk rasa  di halaman Kampus A jalan KH. Ahmad Dahlan, Kelurahan Sasa, Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate sekitar pukul 10.00 WIT.

Aksi unjuk rasa ratusan mahasiswa ini, berbuntut atas di keluarkan 11 orang mahasiswa oleh pihak Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMM). Hal itu membuat seluruh fakultas gejolak dan memboikot seluruh aktivitas perkuliahan. 

Dalam aksi itu salah seorang oknum memanjat tiang bendera untuk menurunkan bendera merah putih menjadi setengah tiang. Bahkan, bendera yang di turun itu menurut para demo pertanda kampus lagi dalam kondisi buruk atau darurat.

Tak hanya itu, gerakan  aksi yang dibangun oleh aliansi gerakan mahasiswa kedua kali ini cukup ekstrim, terjadi pembakaran spanduk dan baliho kampus serta melempar kaca-kaca kampus, saling pukul antar dosen dan mahasiswa menggunakan tangan maupun kayu tak terhindarkan.

Aksi mahasiswa kali ini cukup ekstrim, karena salah seorang masa aksi yang kena pukul mengamuk menggunakan parang di halaman dan ruang rektorat. Bahkan oknum mahasiswa berinisial MS alias Marzan yang terkena bokem mentah, marah dan mencari dosen yang memukulnya. Akibat aksi yang tidak terpuji itu membuat seluruh mahasiswa lari berhamburan keluar ruangan.

“ Saya ingin mencari dosen yang sudah memukul saya, olehnya itu jangan kalian halangi saya,” tutur Mirzan.

Aksi mahasiswa dapat diredam, setelah Universitas Muhammadiyah Maluku Utara  Rektor Dr. Saiful Deni yang  tiba sekitar pukul:16: 46 WIT langsung menemui para pendemo untuk mendengarkan hasil tuntutan mahasiswa.

Intinya tuntutan aksi mahasiswa ini, meminta pihak kampus mencabut kembali rekomendasi skorsing terhadap 11 orang mahasiswa dikeluarkan Komisi Displin Mahasiswa (Komdis).

Menurut Mirzan,  hasil pengkajian mereka bahwa skorsing yang dikeluarkan kampus  tidak sesuai dengan aturan serta prosedur yang tidak jelas. Karenanya, surat keputusan dikeluarkan terkesan sepihak tanpa membangun koordinasi dan komunikasi ditingkatkan rektor serta fungsionaris lainnya.

“  Keputusan yang diambil Komdis ini tidak logis  dan dicurigai ada indikasi lain, jangan-jangan ada tendensi politik,” tukas Mirzan.

Sementara itu,  salah satu poin  yang menjadi tuntutan  mahasiswa mendesak Wakil Rektor III  Universitas Muhammadiyah Maluku Utara turun dari jabatannya.

“ Kami meminta dosen yang bergabung di dalam partai politik yang siap mencalonkan diri sebagai legislatif segara di pecat, karena kampus itu salah satu wahana pendidikan bukan ruang para parpol,” katanya. (Ata)
Komentar Anda

Berita Terkini