Safrudin Safar Terancam Angkat Kaki dari Desa Tului

/ Sabtu, 20 Oktober 2018 / 20.19
Pihak Kesultanan Tidore.
TIDORE- Pihak Kesultanan Tidore gelar Pers Conference menanggapi  stetmen Kepala Desa (Kades) Tului, Safrudin Safar di beberapa media baru-baru ini. Di ketahui Safrudin Safar  menolak IDIN Kesultanan Tidore dalam menyelesaikan sengketa tapal batas antara Desa Tului dan Desa Toseho di Kecamatan Oba, Kota Tidore Kepulauan. 

Hukum Yade, Hi Ismail Mahmud dalam kesempatan tersebut menyampaikan, Kedes Tului Safrudin Safar, dimintai untuk segera menghadap ke Kesultanan Tidore sekurang-kurangnya 2x24 jam bila tidak menghadap dalam jangka waktu yang singkat tersebut maka kades Tului Safrudin Safar bakal di jemput paksa dari Desa Tului. 

"Ini sebuah pelecehan terhadap Kesultanan, oleh sebab itu didalam kesempatan ini saya sebagai hukum Yade memberikan 2x24 jam kepada kades Tului itu agar segera datang ke Kesultanan ini untuk bicara dengan Sultan. Dan kalau tidak datang, kami akan jemput paksa. Masyarakat adat akan jemput beliau di Tului," tegas Hi. Ismail Muhammad dalam pers conference yang dilaksanakan di Kadaton Kesultanan Tidore. Sabtu (20/10/2018). siang tadi.

Ismail dengan tegas menyampaikan, bilamana Kades Tului tidak mau menerima, maka silakan angkat kaki dari Tului. "Dia punya pilihan apa? kalau tidak menerima itu datang untuk menyelesikan ini. Kalau tidak angkat kaki dan keluar dari Tului," tukas Ismail.

Mengenai persoalan batas desa antara Tului dan Toseho. Ia menjelaskan bahwa hal itu sudah terjadi sejak lama, namun  pihak kesultanan telah mengambil sebuah keputusan yang tentunya didasarkan pada hukum, baik itu hukum positif maupun hukum adat. Sekaligus melakukan pengkajian dengan melihat kondisi geografis kedua desa tersebut. 

Awalnya, lanjut Ismail, Desa Toseho menawarkan batas desa di lihat dari batas alam. Namun pihaknya tidak menerima begitu saja. Kemudian lewat kajian yang ada,  yakni dengan melihat kondisi Toseho ternyata di areal dekat pantai lebih banyak hutan bakau sedangkan disamping dibatasi dengan perbukitan hutan lindung. Sehingga Toseho tidak punya lahan lagi untuk berkembang.

"Nah kami punya kajian itu kalau ikut batas alam itu maka cukup agak besar begitu juga Toseho sudah cukup besar. Oleh sebab itu setelah kami lakukan pengkajian  dari aspek hukum dan aspek adat untuk menjaga wing wing solution menyelesikan kedua desa ini, maka kami ambil dari posisi Durian," jelas Ismail. 

Kegiatan jumpa pers ini dihadiri Jo Mayor Kesultanan Tidore Iskandar Alting, Jojau Kesultanan Tidore M. Amin Faaroek, serta didampingi Bobato Kesultanan Tidore, imam Masjid Kesultanan dan Imam nyili Gamtufkange (Dar)

Komentar Anda

Berita Terkini