Dosen Fisipol Lakukan Pendampingan pada Kelompok Usaha Pengrajin Bambu

/ Rabu, 07 November 2018 / 21.06
Ketua Pelaksana, Drs, Abdul Wahid Kamma.Msi.

TIDORE - Dosen Fakultas ilmu sosial dan ilmu politik Universitas Nuku Kota Tidore Kepulauan gelar melaksanakan kegiatan dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat (PKM) pada Usaha Karya Cipta, melalui pendampingan kelompok usaha pengrajin bambu, yang bertempat di Kelurahan Tomagoba Kecamatan Tidore Kota Tidore Kepulauan.

kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) ini, di ketuai Oleh Drs, Abdul Wahid Kamma dan sebagai Anggotanya Muhammad Hi. Hasan.

Ketua Pelaksana PKM pendampingan kelompok usaha, Drs. Abdul Wahid Kamma saat di temui wartawan nusantatimur.com ini di ruang kerjanya, Rabu (7/11) siang tadi, mengatakan, kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) melalui pendampingan kelompok usaha bambu yang di laksanakan ini, merupakan suatu program dari Kementerian Pendidikan tinggi (Kemendikti) yang di laksanakan, di mulai sejak pada bulan Mei- hingga sampai pada bulan Desember 2018.

“Kegunaannya untuk meningkatkan lagi kelompok usaha tersebut, karena masalah perkembangan usaha mitra yang kurang berkembang sehingga pendapatan usaha tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan dengan tata kelola pada usaha masih bersifat kekeluargaan dengan menggunakan teknologi sederhana sehingga  optimalisasi produksi hanya masi terbatas, sehingga tingkat kreatifitas dan produktivitas tenaga kerja di bidang produksi masi kurang sehingga kualitas dan kuantitas barang kurang kompetitif di pasaran,” jelasnya.

lanjutnya, terkait dengan permasalahan yang di hadapi kelompok usaha, dirinya mengatakan, " agar harus melakukan strategi produksi yang berorientasi pada kemampuan pemasaran dengan memperhatikan unsur efisiensi dan efektivitas, dan perlu adanya perubahan tata kelola usaha dari tradisional ke manajemen modern yang berorientasi pada pasar, sehingga untuk menambahkan pendapatan usaha agar mitra usaha perlu melakukan produk untuk meningkatkan pendapatan usaha". katanya.

Abdul Wahid juga menjelaskan, PKM pengrajin Bambu ini sudah didirikan sejak tahun 2014 silam, namun sistem produksi pun masih bersifat kekeluargaan dengan sistem pesanan seperti di saat menjelang Lebaran idul Fitri maupun lainnya, sehingga nilai produksi tidak stabil atau nilai jual yang diperoleh tidak ada kepastian yang terima pada setiap bulan, di samping itu pun juga tempat usaha PKM tidak tertata dengan baik bahkan tidak memiliki identitas usaha.

" dengan terjadinya persoalan tersebut kami selaku mitra kerja melakukan langkah-langkah yakni pembenahan pada tempat usaha baik dari tempat maupun kebersihan pada usaha, pembuatan tempat penampungan bambu yang sudah kering dan pembuatan papan nama PKM,”Terangnya.

Abdul Wahid juga mengakui, selama pendampingan telah nampak sudah adanya perubahan terutama pada penataan tempat usaha dan adapun juga kami selaku mitra kerja memberikan beberapa alat-alat penunjang seperti, pembelian bahan baku, gergaji, parang, minyak cat dan alat mesin bor listrik yang dapat digunakan oleh mitra guna memperlancar hasil produksi yang berkualitas. Agar dapat mewujudkan bila mana tempat usaha di kelola dengan pendekatan manajemen yang berorientasi terhadap pasar dengan tata kelola yang menarik dan profesional.

"sehingga rencana langkah kongkrit yang kami ambil agar pelaksanaannya bisa tercapai yakni penataan pada kelompok, pemasaran produksi yang lebih luas dengan melalui sistem online dengan harga terjangkau, pemanfaatan limbah industri dan publikasi ilmiah melalui prosiding di Universitas Bosowa Makassar". tutupnya.(dar)
Komentar Anda

Berita Terkini