Kepemimpinan Iklim Baru

/ Rabu, 07 November 2018 / 19.22

Oleh ; Thaty Balasteng
Di khalayak,  pemimpin sudah menjadi hal yang  lazim  diketahui,  kalimat sederhana soal pemimpin; sesorang memiliki kekuasaan atas negara,  bahkan pada skala paling kecil kepala desa.  Kekuasaan tersebut punya  kepentingan membangun  negara dengan Sustanible developmant,  katanya,  suatu daerah terlihat maju apabila infrastruktur semakin masif di kota maupun di desa.

Pada prinsipnya beban yang di tangung jawabkan terhadap setiap pemimpin merupakan kewajiban yang harus di jalankan.

Menurtut Akbar Tanjung dalam disertasinya pada program doktoral pasca sarjana Universitas Gadjah Mada, Akbar mencatat membagikan dua jenis kepemimpinan saudagar,  yakni pemimpin tranformasional dan kepemimpinan transaksional. 

Kepemimpinan transformasional dalam maknanya yang luas bekerja sebagai faktor untung rugi,  sebagimana layaknya berdagang,  dan pendekatan transaksional dalam politik cenderung memanfaafkan organisasi politik sebagai sarana mendapatkan keuntungan pribadi.  Nyatanya politik macam ini jelas seperti permainan ekonomi dan peran kapitalisme di dalam.

Barangkali pandangan ini sering dipraktekan disetiap pemimpin politik sampai sekarang. Watak pemikiran politik demikianlah menjadikan negeri di ambang kehancuran. 

Sebagaimana kapitalisme yang menghancurkan lingkungan pemimpin iklim baru, sengaja diangkat sebagai perubahan pembangunan dalam aspek sosial-ekologi,  agar tidak hanya terfokus dalam  membangun infrastruktur negara hingga dikatakan "Maju",  lantas lupa akan tanggung jawab dalam melindungi lingkungan yang mendukung kehidupan makhluk di muka bumi.

Memperhatikan sosial-ekolagi merupakan tanggup jawab manusia yang sadar,  namun setiap pemimpin merupakan kunci melestarikan kesadaran dengan lebih banyak melakukan konservasi wilayah-wilayah yang terancam bencana karena akibat degradasi hutan,  agar bencana alam yang baru-baru disaksikan bisa dikurangi.

Semakin hari ada pesan alam yang disampaikan kepada manusia, dan merupakan kode buruk bagi bumi sendiri,  bencana alam yang kerap terjadi di berbagai daerah menjadi sorotan sebagaimana telah di turunkan peringatan-peringatan tentang penghancuran bumi oleh tangan manusia yang tidak bertanggu jawab,  agar menjaga kemungkinan bumi bernafas seperti sedia kala.

serta menjadi perhatian semua umat,   bahwa saat ini,  bumi mengalami penyakit yang nyata,  kebakaran hutan di Kalimantan tak kunjung usai,  sementara sampah ber zat kimia berserakah di kolong jembatan, kemudian bermuara di laut, tak lagi diperdulikan.

Apalagi manusia di perhadapkan dengan zaman milenial, saat manusia terlena pada kesenangan semu,  yang sesungguhnya adalah realitas yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat, dan merupakan penyakit sosial,  seperti dikatakan oleh Jean Bauderland (1981)  itulah gambaran dari matinya realitas dan kita telah menuju ke arah post realitas sebagi dunia baru.  Sementara post realitas adalah sebuah kondisi yang di dalamnya prinsip-prinsip realitas itu sendiri dilampaui.  

Pandangan ini lah,  barangkali membuat manusia mati dalam realitas. Maka patut kiranya dihindari. Di lain hal,  bumi semakin mengalami masa kehancuran maka dibutuhkan pemimpin iklim  baru berbasis lingkungan seraya menyembuhkan penyakit bumi yang kian bergejolak. 
  
Maksud penulis menuliskan  pemimpin iklim baru adalah wujud yang terasa di tengah perubahan iklim. Sebab iklim akan memperburuk bencana-bencana, terkait cuaca yang telah mengakibatkan dampak-dampak penghancuran dan penikmatan hak atas kehidupan khususnya di negara berkembang. 

Indonesia membutuhkan pemimpin yang peka terhadap lingkungan. Sebab temuan para ilmuan tentang masa depan bumi berada dalam ancaman perubahan iklim dengan suhu bumi semakin meningkat,  hal inilah menjadi kecaman tersendiri  bagi makhluk hidup sebab nasib bumi tergantung pada besarnya jumlah hutan, saat laju deforestasi makin meningkat, maka bumi mengalami perubahan iklim atau yang disebut dengan Gas Rumah Kaca.

Dan ini tidak hanya dituliskan dalam moment-moment tertentu seperti hari-hari besar lingkungan, karena soal lingkungan harus di suarakan setiap waktu baik melalui literasi lingkungan maupun kampanye,  kemudian aksi nyata,  dan sebagai pemimpin yang memiliki kuasaan terbesar harus melakukan rekayasa lingkungan demi kenyamanan dan keamanan bumi manusia. (*)
Komentar Anda

Berita Terkini