Pembangunan Pasar Kuliner Jadi Sorotan, Ini Penjelasan Disbudpar Kota Tikep

/ Kamis, 01 November 2018 / 23.42
Bangunan Pasar Kuliner di Kawasan Pantai Tugulufa

TIDORE – Pembangunan pasar kuliner yang berlokasi di kawasan pantai Tugulufa, Kecamatan Tidore Kota Tidore Kepulauan, kerap menuai sorotan dari kalangan masyarakat. Pasalnya, pembangunan pasar tersebut menggunakan katu sebagai atap.

Hal itu membuat Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkot Tikep, Yakub Husain angkat bicara. Ia mengatakan, rencana pembangunan itu. Sebelumnya telah diserahkan sepenuhnya kepada pihak ke tiga dalam hal ini PT. Mitra Arsitama selaku Konsultan untuk dilakukan desain.

“ Jadi pengunaan katu sebagai atap merupakan kesepakatan bersama antara pihak Disbudpar dan Pihak ke tiga demi mempertahankan kearifan lokal milik masyarakat Tidore,” ujar Yakub Husain saat ditemui wartawan media ini di ruang kerjanya. Kamis (1/11/2018).

Lanjutnya, bangunan itu beratapkan Katu, karena keinginan Pemerintah Daerah hanya untuk mempertahankan ciri khas budaya masyarakat Kota Tidore, sehingga meskipun di era modern saat ini, kearifan lokal milik masyarakat tidore tidak hilang.

Ia juga menjelaskan, alasan pihaknya membangun tempat kuliner dengan perpaduan bangunan modern dan tradisional, sesungguhnya lebih pada aspek amenitas, sehingga dengan begitu dapat menarik perhatian para wisatawan yang akan berkunjung ditempat itu.

“Saat ini yang baru dibangun itu sebanyak 28 unit, dan anggarannya hanya senilai Rp. 1 Milyar lebih, namun kedepannya kami targetkan untuk dilakukan penambahan hingga mencapai 40 unit, jadi kalau sepanjang pembangunan itu tidak merugikan daerah maka tidak masalah, lagi pula pekerjaan itu juga tentu telah diawasi oleh lembaga yang berwajib,” jelasnya.

Di tempat terpisah Direktur PT. Mitra Arsitama Muhd. Siraz Tuni, menyatakan bangunan yang kerjakan berdasarkan pendekatan arsitektur serta merujuk pada regulasi tentang Peraturan Daerah Nomor 25 Tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Tidore Kepulauan agar tidak terjadi pertentangan di kemudian hari.

“Soal katu ini sudah menjadi diskusi intens dikalangan tim ahli, dan tim ahli yang mengerjakan pekerjaan ini bukan hanya satu atau dua orang, dan katu menjadi salah satu pilihan waktu itu, meskipun ada beberapa pilihan yang didiskusikan seperti seng, spandek dan multiroof,” tuturnya saat ditemui di ruang kerjanya.

Alasan pengunaan katu menurut direktur PT. Mitra Arcitama Konsultan, di dasari berbagai pertimbangan salah satunya adalah lokal wisdom, dimana untuk kawasan wisata yang berada di peisisir pantai hampir sebagian besar sudah menggunakan konstruksi modern, sehingga kehadiran katu ini bisa menjawab perpaduan antara modern dan tradisional.

“Kalau ada yang bilang katu itu tidak kuat dan mudah rusak dan lain sebagainya, itu sebenarnya soal teknis pemasangan, dan saya selaku orang yang terlibat di perencanannya meyakini bahwa katu juga sangat kuat untuk menahan terpaan angin, contohnya seperti pulau cinta di Gorontalo yang posisinya ditengah laut tanpa ada pohon disitu namun tidak bermasalah,” paparnya.

Selain soal ketahanan, Katu juga dinilai memiliki nilai estetika, sosial dan ekonomi yang dapat menghidupkan kearifan lokal di kalangan masyarakat Tidore. Pasalnya, dari perpaduan modern dan tradisional tentu mudah mempengaruhi daya tarik para pengunjung.

“Katu dapat memberikan kenyamanan disaat musim panas maupun musim hujan, dimana ketika musim panas katu masih bisa memberikan kesejukan, sementara apabila dimusim hujan katu juga memberikan kenyamanan kepada pengunjung saat berbincang didalam bangunan itu, karena bunyi hujan juga tidak terlalu deras seperti yang digunakan pada Seng,” Jelasnya

“ Kalau soal ekonomis, kemudian dinilai murah sabar dulu, karena waktu pembelian itu kami order dengan ketebalan sesuai permintaan yang kami ajukan, selain itu dampak pembelian katu ini juga bisa bermanfaat bagi pedagang kecil khusunya katu di Tidore,” tambahnya.

Sementara dari aspek lingkungan, Siraz menjelaskan bahwa dengan posisi pembangunan yang berdekatan dengan pantai, maka katu tentu memiliki kelebihan tersendiri dan berbeda dengan seng, dimana katu bisa mengurangi tingkat pengaruh kadar garam dari air laut, sementara seng dalam jangka waktu satu tahun bisa saja berubah warna karena dipengaruhui oleh kadar garam air laut, sambungnya.

Untuk itu,  target dari pembangunan itu, yakni ada satu nilai sosial yang dijual ke pedagangan terkait dengan rasa memiliki atas bangunan yang ditempati, sehingga bisa dirawat dengan baik karena telah dianggap milik sendiri.

“ Kalau hasil diskusi tim itu, katu bisa bertahan sampai lima tahun. Katu itu bisa rusak dalam jangka pendek kecuali orang itu merusaknya atau terjadi bencana besar yang menerpa di lokasi tersebut, jadi kami membangun tempat kuliner dengan menggunakan katu itu juga menggambarkan Tidore dimasa sekarang,” jelasnya.

Meski begitu, Siraz tetap berjiwa besar dengan menerima semua kritikan dan masukan yang diarahkan ke pihaknya terkait dengan pembangunan yang beratapkan Katu, untuk itu masukan dan kritikan yang disampaikan akan dijadikan pihaknya sebagai bahan buat PT. Mitra Arcitama Konsultan untuk melihat apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan. “yang pasti kami tidak asal memilih untuk memutuskan memakai Katu,” ujarnya. (dar)
Komentar Anda

Berita Terkini