Pihak SMP Negeri 1 Tenga Membantah Menyekap dan Menganiaya Siswanya

/ Rabu, 28 November 2018 / 18.58
Pihak sekolah datangi rumah siswa untuk meminta maaf kepada keluarga korban (Foto: Ir)

MINSEL -  Adanya laporan polisi mengenai dugaan penyekapan dan penganiayaan terhadap salah satu siswa berinisial  RA yang dilakukan oleh oknum SMP Negeri 1 Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan beberapa waktu lalu.  Hal itu dibantah pihak sekolah   bahwa beberapa oknum tidak melakukan penyekapan dan penganiayaan serta tudingan kepada  siswa tersebut.

Menurut Wali Kelas siswa tersebut, Johan Egeten, apa pun yang di lakukan oknum guru hanya sebatas memberikan pengajaran terhadap siswa, karena banyak melakukan pelanggaran salah satunya tidak tertib di sekolah.

"Kami tidak melakukan penyekapan, yang kami lakukan hanya membawah anak ini ke ruangan Konseling, tidak ada penganiayaan, kami menasehati anak ini atas pelanggaran tata tertibnya di sekolah," ujar Johan Egeten.

Meskipun membantah, namun pihak sekolah pun mendatangi rumah keluarga siswa  di Desa Sapa Timur, Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan, untuk  meminta maaf kepada keluarga murid. Hal itu diungkapkan oknum guru Stevi Mamangkey.

"Kami pihak sekolah meminta maaf kepada keluarga siswa jika dari pihak guru dengan tidak sengaja melakukan hal yang di tuduhkan kepada sang murid," jelas Stevi.

Stevi pun menambahkan, pihaknya mengambil tindakan ini dengan mendatangi pihak keluarga semata-mata karena mengingat masa depan sang anak.

"Kami mengutamakan masa depan siswa ini, dikarenakan siswa ini adalah siswa persiapan kelas ujian yang duduk di bangku kelas 3 SMP. Sangat di sayangkan jika sang anak harus putus sekolah padahal tinggal beberapa bulan ujian sekolah," tutupnya.

Meskipun pihak sekolah telah mendatangi rumah keluarga namun kasus tersebut sudah di tangan pihak kepolisian.

"Keluarga menerima kedatangan baik pihak sekolah, serta permohonan maaf. namun untuk kasus tersebut kita serahkan ke pihak berwajib karena sudah terlanjur adanya laporan polisi, akan tetapi kami juga akan berupaya menempuh jalur damai," ujar  Tarti Damopolii ibu korban.

Ironisnya, semenjak adanya kejadian dugaan penyekapan dan penganiayaan yang dilakukan oleh oknum guru membuat siswa  tersebut sudah tidak berani ke sekolah. (Ir)

Komentar Anda

Berita Terkini