|
Menu Close Menu

Ada Salah di Syahwat Kuasa

Sabtu, 15 Desember 2018 | Desember 15, 2018



                
                       Zulkarnain Pina

Ada semacam falsafah, orang yang duduk: lama duduk, lupa berdiri. Realitas ini dapat ditemukan dalam kehidupan politik atau organisasi di mana-mana. Tak peduli di lembaga legislatif, eksekutif, partai politik bahkan organisasi non-politik sekali pun.

Semua orang tak akan lupa, bagaimana pemimpin Moammar Khadafi akhirnya tewas di ujung kekuasaannya yang perkasa. Orang kuat Libya yang berkuasa selama 42 tahun itu terbunuh di tangan musuhnya yang berasal dari kolaborasi tentara NATO dan kelompok oposisi. Benarlah kata sebuah adagium bahwa kekuasaan itu adalah candu. Sekali orang menikmati kursi kekuasaan itu, biasanya cenderung untuk terus berlanjut. Itulah hakikat watak dasar manusia yang selalu haus dalam memenuhi syahwat kekuasaannya.

Dalam sejarah, tercatat sepuluh pemimpin negara dunia yang paling lama berkuasa. Hampir para penguasa terlama itu merupakan dinasti kerajaan di antaranya Raja Thailand Bhumibol Adulyadej berkuasa selama 65 tahun (9 Juni 1946 sampai sekarang), Ratu Inggris Elizabeth II (60 tahun, 6 Februari 1952 sampai sekarang), Sultan Brunei, Hasanal Bolkiah (44 tahun, 5 Oktober 1967 sampai sekarang), Ratu Denmark, Margrethe II (40 tahun, 14 Januari 1972 sampai sekarang), Raja Swedia, Carl XVI Gustaf (38 tahun, 15 September 1973 sampai sekarang), Raja Spanyol dan  Juan Carlos (35 tahun,  22 November 1975 sampai sekarang).

Sedangkan penguasa dunia yang bukan dari keturunan kerajaan atau dari kalangan rakyat biasa, yang terlama ditempati oleh Moammar Khadafi (42 tahun,  1 September 1969). Selanjutnya diikuti oleh Presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh (34 tahun, 18 Juli 1978 sampai sekarang), Presiden New Guinea, Teodoro Obiang Mbasogo (34 tahun) dan terakhir Presiden Indonesia, Soeharto (32 tahun).

Dalam konsep kekuasaan rakyat (demokrasi), pembatasan lama berkuasa merupakan pilihan paling ideal. Maksudnya agar kekuasaan pemerintahan itu tidak terperangkap dalam diktatorial atau fasis. Kekuasaan yang terlalu tentu saja berdampak buruk terhadap peradaban. Kekuasaan yang ideal hendaklah didapatkan melalui mekanisme demokrasi yang menempatkan teraju kekuasaan tersebut berada di tangan rakyat. Pantaslah adagium demokrasi itu berbunyi : suara rakyat, suara Tuhan.

Hari-hari ini kita disibukkan dengan wacana politik. Baik lokal, maupun nasional. Berbagai hal dipertimbangkan. Walau sebagiannya, tak cukup kapasitas untuk berbicara (analis-analis politik). Yaa.. Itulah politik. Sangat seksi !! Saking seksinya, bahkan melebihi sahwat seks itu sendiri.

Narasi berceceran dimana-mana. Apalagi medsos; fb, WA, Instagram dll. Tentu, ada yang menuai kebencian, dan pula ada yang menyapa sejuk dan penuh harmoni. Keduanya memang plus minus.

Dunia politik memang banyak kejutan, bak drama; drama Korea dan India. Atau bahkan dramaurky-Mengikutserkan diri pada momentum pileg atau apa saja momentumnya adalah pilihan sekaligus hak, bagi setia warga negara. Entah berlatarbelakang apa, tak masalah.

Setelah semua persyaratan dan prosedur diikuti kemudian dinyatakan lulus, maka dia atau mereka, bagai jualan yang dipasarkan ke publik untuk dinilai kualitasnya (fit and proper test/uji publik), dan akan juga dibeli.

Prosesi penjualan kandidat atau calon, akan di format sedemikian rupa; bagai lelaki tampan dan wanita cantik. Ada yang tampil sederhana (apa adanya), juga ada yang bersikap elitis (lifestyle), untuk menggait lawan bicara atau konstituennya. Hati-hati !! Jangan-jangan, semua hanya sekedar strategi dan taktik para aktor.

Sebab dalam politik, hampir tidak ada yang tampil apa adanya, kecuali yang ada, mereka tampil karena ada apanya. Kata Sun Tzu ''Strategi tanpa taktik adalah jalan panjang menuju kesuksesan/kemenangan. Sedangkan taktik tanpa strategi, adalah kemalangan dalam perjuangan''.

Di lain sisi, kemampuan serta alat ukur yang terbatas, tentu akan berpengaruh pada kualitas kontestan yang direkomendasi.

Memang ini juga keterbatasan konstituen yang sering dimanfaatkan oleh mereka para (kontestan) untuk dieksploitasi dalam setiap masa kontestasi.

Dalil-dalil fatamorgana dielaborasikan dengan wajah yang tampan serius. Namun faktanya hanya sekedar retorika belaka. Narasi kebohongan terus-terusan di produksi dan disuguhkan pada khalayak yang seakan lupa pada wajah yang pernah bersua.

Hari ini nampak kembali para bedebah, namun dengan nada dan orkestrasi yang berbeda. Seraya mengklarifikasi kegagalan yang menjadi senjata ampuh bagi pendatang baru, yang mengajak untuk mengalihkan sikap dan keterpilihan politik-nya pada wajah dan tentu dengan nada dan orkestrasi yang baru pula.

Justru karena ada salah di-sahwat kuasa, sehingga bermunculan wajah-wajah baru yang ingin membenahi wajah politik kita, pada image sesungguhnya, bahwa politik tidak terbatas hanya pada cara atau jalan memperoleh kekuasaan. Tepi jauh dari itu bahwa, politik, sebagai sarana pengabdian terhadap masyarakat.

Tidak bisa kita nafikkan, bahwa ada salah pada wajah baru (calon kuasa) yang ingin merebut tahta. Emosi dan motivasi, bahwa ber-kuasa dan punya tahta, seakan cukup hanya bermodal sekedar pengusaha, membagi-bagi tahta, dan hanya sekedar memperkaya diri semata.

Tanpa memikirkan nasip rakyat yang miskin. Dan miskinnya, bahkan dieksploitasi menjadi referensi permulus retorika. Entahlah dia !!

Tetapi mari kita sadar bersama, agar menghasilkan rekomendasi yang bermutu, punya kompeten, dan tentu punya komitmen yang apik.
Sebab fakta yang ada tidak menutup kemungkinan, bahwa kerusan moral elite yang ada juga akan dianggap telah menggambarkan keseluruhannya yang dalam logika disebut pars pro toto.

Seperti ungkapan Tere Liye dalam novel Negeri Di Ujung Tanduk : Bahwa, di Negeri di Ujung Tanduk itulah para penipu menjadi pemimpin, para penghianat menjadi pujaan. Bukan karena tidak ada lagi memiliki teladan, tetapi mereka memutuskan menutup mata dan memilih hidup bahagia sendirian. Tapi setidaknya, kawan, di Negeri di Ujung Tanduk, seorang petarung akan memilih jalan suci. Meski habis seluruh darah di badan, menguap segenap air mata, dia akan berdiri paling akhir untuk membela kebenaran dan kehormatan'' (Tere Liye). Wallahu a'lam bissawab.

Bagikan:

Komentar