Aksi FRI-WP di Ternate 96 Orang Ditahan

/ Sabtu, 01 Desember 2018 / 21.49
Aksi demo FRI-WP bubarkan anggota Polres Ternate (Foto: Ata)
TERNATE - Aksi Front Rakyat Indonesia West Papua (FRI-WP) di Kota Ternate 96 orang Mahasiswa Ditahan polisi.

Unjuk rasa FRI-WP diketahui dalam rangka memperingati hari lahir intip bangsa Papua yang jatuh pada tanggal Desember 1961 tepatnya 57 tahun silam.

Pantauan Nusantaratimur.com aksi demo FRI-WP dibubarkan paksa oleh polisi dengan cara memaksa massa pendemo naik ke atas truk mobil polisi. 

Pasalnya, aksi memperingati hari lahirnya bangsa Papua itu terdiri dari 12 (dua belas) orang mahasiswa asal Papua beserta 99 mahasiswa  dari organisasi lain  yang tergabung dalam demo FRI-WP.

Sementara itu pembubaran paksa itu terdapat  salah satu orang massa aksi terkena sesak napas kemudian dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan medis. Sedangkan, ke 12 orang mahasiswa Papua langsung dibawa ke Mapolres Ternate untuk diminta keterangan. 

Aksi ini menuntut ini di mana FRI-WP  meminta pemerintah Indonesia menyelesaikan permasalahan HAM yang ada di Papua dan  berikan hak kepada rakyat Papua untuk bisa menentukan nasib bangsanya sendiri. 

Tak hanya itu massa juga meminta Pemerintah menarik TNI-Polri organik dan Non organik dari seluruh tanah Papua  serta Papua harus merdeka, teriak para pendemo. 

Berdasarkan keterangan Kapolres Ternate AKBP Azhari Juanda pembubaran massa aksi  karena mereka menyuarakan aspirasi yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

Karenanya, Tegas Kapolres,  unjuk rasa ini tidak dapat ditolelir. “ Silahkan kalau mereka ingin menyampaikan pendapat karena itu hak, tapi jangan lupa bukan hak saja yang diatur dalam UU penyampaian pendapat di muka umum, tapi ada juga kewajiban-kewajibannya adalah materinya tidak boleh terkait masalah persatuan keutuhan NKRI, tentunya ini sudah menyimpang jauh, ujar ungkap Kapolres  Ternate kepada sejumlah awak media di Ternate. Sabtu (1/12/2018).

Lanjut Azhari, pihak langsung mengambil tindakan dan mengamankan pengunjuk rasa karena saat di lapangan tadi masa aksi mereka berteriak-teriak agar Papua Merdeka, agar Papua lepas dari Indonesia seperti itu, ujarnya. 

Sementara juru bicara FRI-WP Surya Anta  menanggap pembubaran aksi  oleh aparat kepolisian tidak menghormati  hak kebebasan mengemukakan pendapat yang diatur konstitusi. 

"Aparat kepolisian gagal menghormati hak kebebasan mengemukakan pendapat yang sudah di atur dalam konstitusi Republik Indonesia," tutur Surya Anta. 

Menurutnya, aksi itu adalah unjuk rasa damai dan harus dihormati aparat kepolisian. 
" Rakyat Ternate mesti melindungi capaian reformasi, meskipun sepakat atau tidak soal aspirasi Papua Merdeka. Sebab, pembungkaman akan jadi preseden buruk bagi kemajuan demokrasi dan peradaban,” pungkasnya.

Aksi ini dilakukan secara serentak di 11 kota di Indonesia. Maluku Utara menjadi pusat dengan tiga kabupaten/kota: Ternate, Sula, dan Tobelo. Kemudian aksi juga dilaksanakan di Jakarta, Surabaya, Palu, Kupang, Makassar, dan Manado.
Sementara massa aksi yang ditahan sudah dibebaskan sekitar pukul 18:10 waktu setempat. 

Setelah aparat kepolisian memintai keterangan terhadap 96 orang mahasiswa  terkait maksud dari aksi memperingati hari embrio terbentuknya bangsa Papua dan tuntutan mereka terkait lepasnya Papua dari Indonesia. (Ata)

Komentar Anda

Berita Terkini