|
Menu Close Menu

Penerapan Puasa Sunnah Bagi ASN Muslim, Ini Penjelasan Sekda Tidore

Selasa, 15 Januari 2019 | Januari 15, 2019
Asrul Sani Soleman (Sekda Kota Tidore Kepulauan)

TIDORE – Kebijakan Walikota Kota Tidore Kepulauan Ali Ibrahim tentang pemberlakukan Puasa Sunnah setiap hari senin dan Kamis serta melakukan sholat subuh berjamaah terhadap Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkot Tidore menimbulkan perdebatan di kalangan public mengenai persepsi walikota yang mewajibkan sesuatu yang sunnah.
Menanggapi rumor yang berkembang belakang ini, Sekretaris Daerah Pemkot Tidore Kepulauan Asrul Sani Soleman angkat bicara bahwa kebijakan yang dilakukan oleh Walikota Kota Tikep itu, sesungguhnya merupakan seorang pemimpin yang membawa misi Rasulullah, sehingga kebijakan tersebut patut untuk dilaksanakan bagi ASN yang beragama Islam agar supaya menjadi tauladan terhadap masyarakat yang mayoritas islam, mengingat Tidore juga telah dicanangkan sebagai Kota Santri.
“Apakan instruksi walikota ini bertentangan dengan kaidah-kaidah Muslim.? Membuat sesuatu yang baik tentu ada tantangan, Pro dan Kontra itu hal yang wajar. Namun patut untuk diketahui bahwa setiap pemimpin muslim tentu membawa risalah rasul, lagi pula puasa sunnah itu kan hal yang baik kenapa harus diperdebatkan,” cecar Asrul kepada wartawan di Tidore. Selasa (15/1/2019).
Asrul kemudian mencontohkan salah satu pemimpin Turki yakni Erdogan, dia mengatakan ketika rezim militer itu jatuh kemudian di pimpin oleh Erdogan, yang dilakukan pertama kali adalah menginstruksikan masyarakatnya untuk memakmurkan rumah, tempat ibadah dan seluruh ruang kerja dengan mengaji. Prilaku pemimpin inilah kemudian dicontohkan oleh Walikota, sehingga Sekda dengan tegas menyebut Walikota Kota Tikep Ali Ibrahim merupakan Erdogan Tidore.
“Misi Rasul itu berada di pundak setiap orang muslim yang harus ia bawa, dan kebijakan yang diinstruksikan walikota ini memiliki makna harifiah yang akan membentuk profil birokrat untuk menjadi muslim yang baik,” tuturnya.
Sambung Asrul, ketika dia (ASN) sudah menjalankan sunatullah dan sholat, maka tentu akan menjadi muslim yang baik, dan jika dia sudah baik, jelas dia akan menjadi birokrat yang baik pula. ujarnya.
Tak hanya itu,  Asrul juga menegaskan sebagai orang muslim, baik ASN maupun masyarakat tentu punya komitmen dan konsensus yang sama tentang iman dan islam.  Lalu kenapa hal yang bersifat sunatullah tidak mau di jalankan.
“Profil birokrasi itu dibentuk dengan rambu-rambu aturan, jika para ASN menganggap birokrasi ini adalah sebuah lahan maka tolonglah untuk disiplin, dan dijaga lahannya dengan baik,” pungkasnya. (dar)
Bagikan:

Komentar