|
Menu Close Menu

Nuriyatmi Penderita Kanker Payudara Butuh Uluran Tangan Pemkot Tikep

Senin, 04 Februari 2019 | 02.04
Nuriyatmi Penderita Kanker Payudara yang saat ini terbaring lemas diatas tempat tidur dan membutuhkan pengobatan 
TIDORE-  Seorang ibu rumah tangga (IRT) bernama Nuriyatmi umur 47 tahun harus berjuang melawan penyakit kanker payudara yang di deritanya selama bertahun-tahun. Selain mengidap penyakit kanker payudara, mata Nuriyatmi bagian kanan menimbulkan benjolan besar hingga nyaris menutupi wajah dua anak ini.

Berdasarkan keterangan Anto, suami Nuriyatmi bahwa isterinya semula menderita penyakit kanker payudara stadium 4 kemudian dilakukan operasi ringan tahun 2011 silam. Setelah itu, pada tahun 2012 operasi kembali  dilakukan untuk mengangkat payudara bagian kanan  di RSU Dok Dua Jayapura, namunnya bertahan hingga pertengahan 2013, tutur Anto kepada wartawan media ini. Minggu (3/2/2019).

Sementara benjolan yang membengkak pada mata bagian kanan yang di derita isterinya saat ini, penyebab awalnya adalah mata bagian kanan mengalami kemerahan akibat terkena debu, karena waktu itu isterinya bekerja gudang PT. Maju Makmur di Jayapura. Ia kemudian membawa isteri ke rumah sakit untuk diperiksa, namun pihak rumah sakit memvonis itu hanya iritasi biasa, sehingga diberikan obat tetes mata. Bahkan berbagai macam obat sudah di upaya kan, bolak-balik dokter untuk mencari obat demi kesembuhan sang isteri dilakukannya. Akan tetapi lagi-lagi alasan dokter itu iritasi, namun mata Nuriyatmi bagian kanan sudah membangkak awal tahun 2014. Tak hanya itu, Nuriyatmi mempunyai luka di bagian punggungnya, tutur Anto.

Kondisi Nuriyatmi terbaring lemas, tak mempengaruhi suami Nuriyatmi ini patah semangat. Sang suami terus berupaya untuk melakukan pengobatan terhadap istrinya sehingga sembuh dari penyakit yang di deritanya.  Bahkan  tidak hanya satu RSU melainkan beberapa tempat yakni RSU, TNI/AL dan dokter praktek yang ada di Jayapura pernah datanginya.

Di tengah proses penyembuhan tak membuahkan hasil, suami Nuriyatmi memutuskan pulang ke kampung halaman, yakni di Desa Bale, Kecamatan Oba, Kota Tidore Kepulan, Provinsi Maluku Utara guna melakukan pengobatan tradisional (Obat Kampong) lantaran tidak ada biaya lagi.

“ Proses penyembuhan tidak ada perubahan, saya memilih pulang kampong di Desa Bale pada tahun 2014, karena tak ada biaya pengobatan, maka alternatifnya obat kampong,” ujarnya dengan nada sedih.

Kini Nuriyatmi hanya terbaring di atas tempat tidur selama dua tahun, dan berharap secepatnya di sembuhkan dari penyakit yang di deritanya. Pasalnya, untuk dilakukan operasi kanker membutuhkan biaya ratusan juta sedangkan keluarganya tergolong orang kurang mampu.

“Sampai saat ini belum bisa bawa ke rumah sakit untuk operasi karena tidak ada biaya, saya ingin mengetuk hati teman-teman semua,  khusunya Pemerintah Kota Tidore Kepulauan agar dapat meringankan beban kami dan semoga Allah juga mengetuk pintu hati mereka,” harapnya. (dar)

Bagikan:

Komentar