|
Menu Close Menu

Pemasangan Tenda Tuai Kritik, Ini Reaksi Satpol-PP Kota Tikep

Sabtu, 02 Februari 2019 | 02.22
Tenda yang dipasang petugas Satpol PP di belakang warung Mustafa Adam (Foto: Aidar Salasa)
TIDORE – Pemasangan satu unit tenda oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) Kota Tidore Kepulauan (Tikep) di kawasan pantai tugulufa mendapat kritikan  dari salah satu pemilik warung kopi bernama Mustafa Adam karena dinilai menganggu aktifitas usahanya. 

Kritikan Mustafa Adam kepada Satpol-PP Kota Tidore Kepulauan  yang di posting ke sosial media  melalui akun facebooknya  bernama Al Mustafa Putra Pemberontak itu berisi, “ Tenda Carihal, Kalau ngoni tra hargai torang buat apa tong hargai p ngoni. Woe jang seenaknya ngoni biking model begini. Kurangajar jang kase tunjung p masyarakat ka, torang ini me bayar pajak lagi. Makan puji sampe su tra bapikir torang sudah,” tulis Mustafa Adam melalui akun Facebook pribadinya.


Akibat postingan itu, sontak  membuat petugas Satpol PP mendatangi warung kopi Mustafa Adam untuk meminta klarifikasi atas kritikan yang diunggah ke media sosial itu. “ Saya jelas tidak terima dengan perlakukan mereka, karena mereka memasang tenda ini tanpa sepengetahuan saya, lagi pula dengan adanya tenda ini juga sangat menganggu aktifitas saya saat berjualan, karena tempat yang biasa disediakan untuk pengunjung yang datang ke warung saya sudah terhalang oleh tenda,” tukas Mustafa Adam saat ditemui wartawan media ini. Jumat (1/2/19).

Lebih lanjut Mustafa Adam, lelaki yang akrab di sapa Tover menjelaskan kronologis kejadiannya. Setelah ia memposting tulisannya di sosial media selang beberapa menit kemudian warung kopi miliknya di datangi petugas Satpol PP dan memarahinya, karena telah membuat postingan itu. Bahkan petugas Satpol PP memaksa dirinya untuk meminta maaf atau mengklarifikasi kembali pernyataannya di media sosial.

“Saya buat status itu sekitar jam 4, tak lama kemudian mereka datang dan marah-marah kepada saya, bahkan ada yang sempat mau angkat kursi lempar istri saya karena istri saya ambil video. Padahal maksud saya melakukan demikian agar mereka bisa menghargai kami sebagai pedagang, sebab tenda yang mereka pasang ini juga kami tidak tahu tujuannya apa, karena tidak diberitahukan,” ujar Mustafa.

Postingan itu, Menurut Mustafa Adam merupakan kritikan karena tidak menerima tindakan yang dilakukan petugas Satpol PP. Sebab tempat usaha warung kopi yang digelutinya saat ini telah diberikan izin oleh pemerintah dan dirinya juga membayar pajak sebulan dikenakan sebesar Rp. 250 ribu.

“Insiden adu mulut tak berlangsung lama, kemudian saya langsung diajak untuk menemui pak Sekda (Asrul Sani Soleman) di  warung amina guna menjelaskan maksud postingan itu. Tapi dalam pertemuan antara saya dengan Sekda itu pun saya tak sempat menjelaskan banyak hal karena ada gertak-gertak dari Satpol PP yang terkesan mau pukul saya, tapi saya tidak menanggapi. Namun dalam pertemuan itu sekda kemudian menyampaikan siloloa (nasehat) kepada saya dan meminta saya untuk menyampaikan permintaan maaf, sementara pak Mantan Satpol PP (pak Dula) maunya saya menghapus status saya, karena menilai dari status saya membuat orang-orang komentar suru bakar tenda,” bebernya.

Kendati demikian, Mustafa Adam berharap kepada Walikota dan Wakil Walikota agar bisa menegur petugas Satpol PP yang datang marah-marah yang terkesan sangat tidak beretika, sebab menurutnya sebagai pemerintah seharusnya dapat mengayomi masyarakat, bukan malah menunjukan sikap yang arogan, tukasnya.

Terpisah,  Kepala Satpol PP Kota Tidore Kepulauan Yusup Tamange pada saat di konfirmasi perihal masalah tersebut. Ia  mengaku tidak mengetahui kejadian itu, namun dirinya berjanji akan mencari tahu masalah ini.

“Saya tidak tahu tentang kejadian itu, karena saya baru pulang dan baru tiba di rumah malam ini, nanti saya akan tanya siapa yang suruh (memerintahkan) mereka turun ke sana. Terima kasih banyak atas infonya,” ujar Kasat saat dihubungi melalui via Handphone wartawan media ini. (dar)

Bagikan:

Komentar