Menelusuri Jejak Sejarah Juan Sebastian De Elcano dan Ferdinand Megalhaens di Jalur Rempah

Editor: Admin author photo
Artefak : Guci yang ditemukan diperairan tanjung Tongowoi Tidore
TIDORE -  Tim Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mulai menelusuri jejak sejarah peringatan 500 tahun ekspedisi keliling dunia pertama Juan Sebastian De Elcano dan Ferdinand Magelland di jalur rempah ternate dan tidore.

Penelusuran tim KKP atas permintaan  Walikota Tidore Kepulauan H. Ali Ibrahim yang disuarakan  pada tahun 2018 yang lalu untuk melakukan riset terkait kebenaran atas keberadaan dua kapal yang digunakan Juan Sebastian De Elcano dan Ferdinand Magelhaens dalam ekspedisi mengelilingi dunia.

Di perairan Tidore dan Ternate sudah dilakukan penyelaman untuk mengalih fakta sejarah. Penyelaman tim KKP untuk mencari tahu atas bukti keberadaan bangkai kapal Victoria dan kapal Trinidad di perairan Tidore dan Ternate sebagai bentuk dukungan atas perayaan 500 tahun pelayaran ekspedisi Magelhaens sekaligus pelaksanaan Sail Tidore 2021 mendatang.

Nia Naalul Hasanah Ridwan menyebutkan penyelaman ini baru sekali lakukan di depan Benteng Castella (Kastela Ternate),  di Tanjung Tongowai dan Depan Benteng Tahula Tidore.
Penyelaman di laut benteng kastela ternate sejauh ini belum mendapat titik terang berupa data yang diperoleh dari perpustakaan dan arsip nasional.

Sementara di tanjung Tongowai, tim penyelam telah mendapat dua bangkai kapal yang didukung dengan penemuan ratusan guci dan dua buah senjata meriam.  Sedanhkan, di depan Benteng Tahula,  saat ini masih dalam tahapan penyelaman.

"Di Tanjung Tongowai ini, tim kita sudah dapat  menemukan dua unit bangkai kapal dengan panjang 100 meter lebih dan yang satunya lagi berukuran 70 meter. Tapi kita masih perlu melakukan penelitian terkait dengan motif dan Artefak atau lukisan dalam di guci yang sudah diangkat sekitar 150 lebih.  Kalau untuk senjata meriam terdapat gambar salib, globe atau bola dunia dan emas.  Dan ketiga gambar ini kita bisa menyimpulkan bahwa tujuan kedatangan Bangsa Spanyol dan Portugis yaitu,  perdagangan,  penyebaran agama dan mencari emas.  Tapi itu juga kita masih perlu menggali lebih dalam lagi," tutur Kepala Loka Riset SDM dan Kerentanan Pesisir Nia Naalul Hasanaah Ridwan, kepada sejumlah wartawan di kawasan Monumen Pendaratan Rombongan Juan Sebastian de Elcano di Kelurahan Rum Balibunga, Minggu (28/7/2019).

Menurut Nia,  guci tersebut yang ditemukan ini,  pihaknya belum mendapatkan titik terang karena di guci yang dimaksud sudah temukan artefak atau motif yang melambangkan asal usul harta karun ini.

Pada kesempatan itu, Dia berharap adanya dukungan dari masyarakat berupa informasi atau petunjuk atas tenggelamnya kapal ekspedisi ini, sehingga pihaknya dapat melakukan penelitian lebih lanjut.

“  Dari hasil penyelaman untuk penelitian dan dibahas Forum Grup Discussion (FGD) pada Selasa (39/7)  di aula Sultan Nuku Kantor Walikota dengan melibatkan seluruh komponen termasuk Kementerian Kelautan Perikanan,  Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Kemaritiman,” tutupnya.  (dar)

Share:
Komentar

Berita Terkini