|
Menu Close Menu

Pohon Cengkeh Afo II Roboh, Hilangnya Warisan Sejarah

Rabu, 10 Juli 2019 | 10.57
Pohon Cengkeh Afo II yang berumur ratusan tahun 
TERNATE- Peristiwa robohnya pohon cengkeh tertua di dunia atau biasanya di kenal dengan pohon cengkeh Afo yang berada di bawah kaki gunung gamalama kelurahan Tongole atau sering kita kunjungi di kawasan Air tege-tege yang merupakan bagian dari bukti sejarah pada masa lalu, peristiwa roboh pohon cengkeh Afo ini terjadi beberapa hari kemarin tepatnya pada tanggal 6 Juli  2019. 

Menurut Hedra Kamarullah, kisaran umur dari pada keberadaan situs sejarah ini sudah memasuki usia 3 abad atau 300 tahun, dan peristiwa ini telah menjadi tranding topic di khalayak media masa dan pengguna media sosial beberapa hari terakhir. Tentunya ini akan menimbulkan berbagai macam pertanyaan di benak pikiran kita masing -masing terkait dengan siapa yang harus bertanggung jawab terhadap peristiwa ini. 

Padahal ini merupakan sisa dari salah satu bukti sejarah yang dapat kita lihat dengan kasat mata yang jelas dan indah yang kemudian sangat memiliki potensi pengembangan destinasi wisata sejarah yang di padukan dengan konsep wisata alam,” ungkap Hendra kepada nusantaratimur.com, Selasa (9/7/2019).

Lanjutnya, semua potensi ini hanya menjadi isu-isu sesaat yang sering mewarnai ruang- ruang diskusi publik dan ruang- ruang perdebatan di media sosial dan sekarang hanya meninggalkan kenangan dan cerita belaka pada anak cucu kita di kemudian hari.


Foto Istimewa
Dari kejadian peristiwa robohnya cengkeh Afo saat ini saya hanya sedikit menggaris bawahi bahwa ternyata kita semua masih kurang memiliki kesadaran menghargai sejarah yang berada di sekitar kita, padahal bangsa yang besar adalah bangsa yang sangat menghargai sejarah itu sendiri, karena dengan sejarah itu kita bisa belajar apa terjadi pada masa lalu dan kemudian kita jadikan sebagai acuan dan bahan untuk mengoreksi apa bentuk kesalahan sejarah dan kemudian menjadi harapan agar jangan terulang yang kedua kalinya, tukasnya.

Masih kata Hendra, satu cacatan juga untuk saya alamatkan kepada pemerintah yang dalam ini dinas terkait agar momentum peristiwa ini sudah harus menjadikan bahan evaluasi terkait sudah sejauh mana bentuk intervensi nyata oleh pemerintah kota Ternate terkait dengan keberadaan situs- situs warisan sejarah ini.

“ Sudah tidak ada manfaat lagi ketika hari ini kita masih berdebat di ruang-ruang publik yang tidak ada bukti action yang nyata, oleh karena itu mari kita menjadi ini sebagai pelajaran berharga bagi kita semua,” ujarnya.

“ Jika kita bicara soal perlindungan situs warisan sejarah ini sudah sangat jelas di atur oleh undang No 11 tahun 2010 tentang cagar budaya yang mana telah menjabarkan aturan pasal Pelestarian, Penyelamatan dan Pelestarian, oleh karena itu apalagi yang harus kita jadikan alasan untuk saling melepas siapa yang harus bertanggung jawab,” sambungnya.

Karenanya,  Hendra berpendapat bahwa undang-undang di atas juga sudah jelas mengatur tugas dan wewenang oleh Pemerintah Daerah terkait dengan kewajiban untuk melakukan Perlindungan, Pengembangan dan pemanfaatan dari keberadaan situs itu sendiri.

Selain itu juga peran Pemerintah daerah juga di atur dalam pasal 99 ayat 1 tentang Pemerintah dan Pemerintah daerah bertanggung jawab terhadap pengawasan pelestarian cagar budaya sesuai dengan kewenangannya.

Ada dua catatan kesalahan yang sudah pernah di lakukan oleh Pemerintah Kota ternate terkait dengan, yakni. Pertama, Pernah melakukan proyek pemugaran benteng orange yang kemudian terjadi bagian tembok selatan mengalami runtuhnya pada hari minggu tanggal 20 Agustus tahun 2017, ini menandakan bahwa Pemerintah kota tidak serius dan jeli dalam melakukan pemugaran yang mestinya harus melalui tahapan kajian yang harus di lalui dan melibatkan pihak-pihak yang memiliki kompeten di bidang ahlinya. KeduaPeristiwa robohnya warisan situs sejarah cengkeh Afo 2 ini lebih menambah lagi cacatan buruk terhadap pemerintah kota dalam melaksanakan tugas dan fungsinya yang sebagaimana di amanatkan oleh Undang- Undang Nomor 11 tahun 2010 di atas.

“ Mudah- mudahan dari dua peristiwa di atas sudah saatnya menjadi bahan untuk mengoreksi sudah sejauh mana action nyata kita terhadap persoalan ini,” tutupnya. (ric)

Bagikan:

Komentar