|
Menu Close Menu

Angka Penderita Stunting di Kota Tidore Kepuluan Menurun

Kamis, 22 Agustus 2019 | 00.59
Foto: Istimewa

TIDORE-  Angka penderita stunting di Kecamatan Oba, Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Tidore Kepulauan mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Hal dikemukan Camat Oba Halid Tomaidi saat membuka kegiatan pelatihan inovasi pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Tim Pelaksana Inovasi Desa (TPID) Kecamatan Oba di Aula Kantor Desa Gita Raja, Rabu (21/8/2019).

Halid menjelaskan jumat pekan lalu, dalam rapat kordinasi terkait penguatan gizi buruk dan stunting di Kecamatan Oba menurun dari tahun sebelumnya.

Pada tahun 2018 Kecamatan Oba mengoleksi 256 bayi penderita stunting dari 865 bayi yang ditimbang. Menurutnya, angka itu menempatkan Kecamatan Oba sebagai kecamatan dengan koleksi bayi penderita stunting terbanyak kedua setelah Kecamatan Oba Selatan sebesar 58 persen.

“ Penderita stuting di Kecamatan Oba mencapai 29,6 persen tahun 2018. Namun Alhamdulillah, tahun 2019 ini berdasarkan data dari Puskesmas Payahe dan Puskesmas Talagamori, angkanya turun menjadi 12 persen,” terang Halid kepada wartawan media ini, Rabu (21/8/2019).

Halid juga mengingatkan dan menghimbau seluruh aparat pemerintah desa harus menaruh perhatian penuh dalam upaya konvergensi pencegahan stunting di desa melalui alokasi anggaran pencegahan pada perencanaan tahun 2020, harapnya.

Umumnya stunting adalah gangguan pertumbuhan kronis pada anak akibat kekurangan nutrisi dalam waktu lama. Sehingga anak yang terkena stunting umumnya bertubuh lebih pendek dibanding anak seusianya. Di Indonesia, angka stunting cukup tinggi, yaitu sekitar 7,8 juta dari 23 juta balita atau sekitar 35,6 persen. Angka ini menyebabkan WHO menetapkan Indonesia sebagai negara dengan status gizi buruk untuk balita dan anak-anak. Sebagaimana dikutip pada lama doktersehat.com.

Selain  itu, stunting adalah gangguan yang sering ditemukan pada balita, khususnya usia 1-3 tahun. Pada rentang usia tersebut, ibu dapat mengenal apakah anak mengalami stunting atau tidak. Dampak stunting yang bisa terlihat antara lain: Pertama, mengganggu Pertumbuhan tinggi dan berat anak. Kedua, tumbuh kembang anak tidak optimal. Ketiga,memengaruhi kecerdasan dan kemampuan belajar anak. Keempat, mudah terserang penyakit.

Menurut sebuah penelitian, stunting adalah salah satu faktor yang berpengaruh terhadap IQ anak lebih rendah dibanding anak seusianya. Anak akan sulit belajar dan berkonsentrasi akibat kekurangan gizi.

Penderita stunting dapat mudah terserang penyakit dan berisiko terkena berbagai penyakit saat dewasa seperti diabetes, jantung, kanker dan stroke. Bahkan stunting juga bisa berujung pada kematian usia dini.

Untuk mencegah pada anak penderita stunting, ibu bisa mencegahnya sejak masa kehamilan. Beberapa tips yang bisa Ibu lakukan untuk mencegah stunting, yakni. Pertama, memperbaiki pola makan dan mencukupi kebutuhan gizi selama kehamilan. Kedua, memperbanyak konsumsi makanan yang mengandung zat besi dan asam folat untuk mencegah cacat tabung saraf. Ketiga, memastikan anak mendapat asupan gizi yang baik khususnya pada masa kehamilan hingga usia 1000 hari anak. Keempat, selain itu stunting adalah gangguan yang juga dapat dicegah dengan meningkatkan kebersihan lingkungan dan meningkatkan akses air bersih di lingkungan rumah. (dar)


Bagikan:

Komentar