|
Menu Close Menu

Menko Luhut: Perkembangan Investasi di Indonesia Patut Diapresiasi

Selasa, 10 September 2019 | 16.55
Menko Luhut B. Pandjaitan

JAKARTA - Menko Bidang Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan angkat bicara mengenai investasi di  Indonesia. Hal tersebut Ia sampaikan pada wartawan setelah menghadiri Rapat Kerja Penetapan RAPBN 2020 di Ruang Rapat Banggar DPR-RI, Jakarta pada Senin (09-09-2019).

Menurutnya perkembangan supply chain di Indonesia patut diapresiasi. “Dulu kita ekspor raw material ini cuman 350 juta USD, tahun lalu saja kita sudah eskpor itu setelah nilai tambah, itu sudah 5,8 milyar USD. Itu angkanya bisa dilihat kok itu, tahun ini bisa sekian 7 milyar USD. Tahun depan itu akan 12 milyar USD, pada tahun 2024 itu akan 30 milyar USD. Investasi sepanjang ini termasuk tadi lithium baterai, recycle baterai itu saya kira akan lebih dari 30 milyar USD dalam 4-5 tahun ke depan ini,” tambahnya.

Dengan langkah pembangunan seperti yang disebutkan di atas, Menko Luhut berharap bahwa Indonesia dapat menjadi salah satu pemain global yang masuk ke dalam nominasi The Global Supply Chain.

“Selama ini kita ekspor kemana? 98% ke Cina. Kita itu hanya ekspor saja bawa itu tanah yang isinya timah. Dan satu ton tanah itu belum tentu dapat 1 kg timah. Jadi berapa juta ton yang sudah berpuluh-puluh tahun kita ekspor,” tuturnya.

Lebih lanjut oleh Menko Luhut, mengenai penetapan harga akan ditentukan oleh pemerintah, dan tidak diatur oleh pihak yang memiliki smelter. Ia juga menegaskan para pihak-pihak yang terlibat agar menuntaskan projek smelter yang belum atau sedang dalam proses pengerjaan segera.

“Sekarang, kita gak berhenti disitu saja. Presiden sudah memerintahkan kita untuk melihat juga material-material dasar kita yang lainnya, misalnya timah. Masa harga timah ditentukan di Singapura? Masa tidak bisa buat supply chain nya itu coba. Kenapa tidak kita buat industrinya dalam negeri,” tegas Menko Luhut.

Mengenai isu para investor yang gagal berinvestasi di Indonesia, Menko Luhut sebutkan bawa birokrasi seperti peraturan yang berbelit adalah salah satu penyebabnya.

“Sekarang oleh Presiden dipotongin semua itu. Sekarang kita tiru aja Vietnam, kita tiru Thailand, tiru Singapura, tiru Malaysia, itu aja benchmark kita,” tambahnya lagi saat ditanyai target kerjasama yang akan dilakukan oleh Indonesia ke depannya.

Dalam kesempatan ini, Menko Luhut meminta masyarakat untuk melihat sisi positif dari pembangunan ekonomi yang sedang dikerjakan oleh Pemerintah Indonesia.

“Kenapa sih kita senang berkomentar, ada pabriknya, kan semua pekerjanya orang Indonesia. Semua orang Indonesia yang disitu, mobil-mobil murah dan dipakai oleh rakyat biasa,” ujarnya.

Menjawab pertanyaan tentang pembangunan kereta cepat, Menko Luhut mengatakan pemerintah belajar dari pengalaman pembangunan MRT.

“Saya pikir kita masih in-favor kepada Jepang ini. Tapi Jepang ini juga tidak boleh semau dia juga. Jangan seperti MRT, MRT kan kita dikunci banget. Kita juga punya kebebasan, seperti local content, technic transfer,” jelas Menko Luhut. (ric)


Bagikan:

Komentar