|
Menu Close Menu

Sebut 11 Parpol Panik, Ratna Namsa : Itu Anggapan Mereka, Kita Biasa Aja

Jumat, 06 September 2019 | 21.04
Foto : Ratna Namsa (Ketua DPD PAN Kota Tidore Kepulauan)

TIDORE -   Tudingan  calon petahana Ali Ibrahim dan Muhammad Sinen terhadap 11 pimpinan parpol sedang kepanikan jelang pemilihan Calon Walikota dan Wakil Walikota Tidore Kepulauan.

Hal itu dianggap keliru dan beropini oleh Ketua DPD PAN Kota Tidore Kepulauan Ratna Namsa “ Saya kira biasa saja, kan masih anggapan dia bahwa kita panik, dia cuma mengganggap kita beropini dan menurut mereka kita panik, tapi kita biasa-biasa aja, karena komunikasi atau pertemuan yang dibangun lintas parpol di momen menjelang politik, itu biasa,” ungkap Ratna Namsa kepada media ini melalui via telepon seluler. Jumat (6/9/2019).

Menurut Ratna, momentum pemilihan kepala daerah memang ranahnya partai politik, jika kalau 11 pimpinan parpol bertemu dan membicarakan agenda politik, untuk menyamakan sikap dan visi partai politik yang kebetulan 11 parpol sama visinya terkait dengan kondisi demokrasi ke depan di Kota Tidore Kepulauan, kemudian berita itu dipublis ke media.  “ Saya pikir sah-sah saja kan. Jadi tidak ada yang panik, biasa aja,” ujarnya.

Politisi PAN ini juga memaparkan bahwa kita ingin membentuk kaukus penyelamat demokrasi di Kota Tidore Kepulauan yang baik, Kenapa? karena kita melihat di momen politik Pilpres, Pileg dan sebelumnya Pilgub. Ada beberapa masyarakat atau oknum ASN menjadi korban, masuk penjara, mungkin salah melangkah dalam melakukan langkah-langkah politik.

" Kita tidak  mau itu terulang lagi kepada masyarakat, sehingga kita berkumpul dan membuat  kaukus penyelamat demokrasi, kalau pun judul di per manis oleh media dengan menyatakan bahwa kita melawan petahana, Bisa jadi. karena kita juga ada kesamaan visi untuk itu. untuk mungkin sama-sama, ketika kita sudah satu visi dan misi dengan adanya beberapa partai sudah melakukan penjaringan. kita mungkin dalam hal bagaimana menentukan kepala daerah kedepan,” pungkasnya.

Sambung Ratna “  Karena kalau mau dibilang kemarin ini kan, kita juga termasuk koalisi di partai pengusung pertama mendukung petahana, kalau kemudian kita sudah tidak sejalan, dengan membentuk kesapahaman dengan orang lain, yang kebetulan sama visinya dengan partai lain, Ya kita 11 parpol duduk bicara bersama-sama mau berencana. Jika kalau 11 parpol bersama-sama alhamdulilah berarti apa yang selama ini didengungkan oleh patehana bahwa mereka melawan kotak kosong kan terbantahkan bahwa ada yang lain. cuma figurnya kan belum tahu siapa atau siapa, kita paniknya dimana?, tanya Ratna.

Menanggapi stetemen calon petahana Ali Ibrahim yang menegaskan semuanya dikembalikan ke masyarkat Tidore, bukan kepada 11 orang politisi atau ketua parpol. Menurut Ratna Namsa bahwa ketua-ketua parpol atau pimpinan parpol mempunyai pengurus parpol tingkat kabupaten/kota, tingkat kecamatan maupun tingkat kelurahan/desa dan mereka juga adalah masyarakat Kota Tidore kepulauan, belum lagi kita menghitung konstituen masing-masing parpol yang memiliki kursi maupun parpol yang belum miliki kursi mempunyai suara yang cukup signifikan.

" Jadi jangan tidak ditentukan oleh 11 politisi atau 11 ketua partai politik, dan itu perlu barangkali dicerna kembali kata-katanya, sebab 11 pimpinan parpol adalah warga kota tidore kepulauan yang di dalamnya ada pengurus tingakat Kabupaten, Kecamatan, kelurahan maupaun desa ada pengurus partai politik,” terangnya.

Disimpang itu, setiap parpol mempunya konstituen yang juga warga kota tidore kepulauan yang terwakili di dapil masing-masing. " Saya kira ini mungkin harus dipikirkan secara serius, jadi jangan takabur, saya bersama teman-teman berikhtiar saja, persoalan siapa atau siapa nanti yang menjadi kepala daerah itu sudah menjadi garis tangan dan sudah ditakdirkan oleh sang ilahi, kita cuma berusaha saja, tidak usaha saling berbalasan pantung, atau membuat opini yang menunjungkan ketidakelokan kita dalam berdemokrasi,” cecarnya.

Padahal, kita adalah orang-orang yang sudah dipilih oleh masyarakat, baik anggota DPRD maupun sebagai Kepala Daerah. tetapi bagaimana kita membuat pernyataan-perntayaan yang menyejukkan bagi masyarakat dan membuat harmonisasi diantara parpol, sehingga hubungan dan dinamika diantara kita menunjukkan secara elegan di dalam berdemokrasi, apalagi untuk sementara ini kepala daerah merupakan pembina partai politik di Kota Tidore Kepulauan.

“ Kami juga adalah penyelenggara pemerintah daerah sebagai anggota DPRD aktif sekarang  dan  kepala daerah juga  sebagai penyelenggara pemerintah daerah saat ini, hendaknya kita jangan membuat pernyataan-pernyataan yang mungkin  nanti bersinggungan antara satu dengan lain, yang membuat suasana tidak elok bagi kita semua dengan menunjukkan  hal-hal yang tidak baik kepada masyarakat. Lebih baik kita berrama-rama saja, ketika ada 11 parpol ada dengan tim lain. Itu hal biasa dalam kontestasi politik,” tutunya. (ric)

Bagikan:

Komentar