BKM Sarimalaha dan Lurah Rum Saling Menyalahkan Soal Bantuan

Editor: Admin author photo
Foto : Kendaraan bantaun dari Kota Maluku Utara  

TIDORE -  Bantuan dua (2) unit kendaraan pengangkut sampah dari Kotaku, Provinsi Maluku Utara, untuk kepentingan warga Kelurahan Rum, Kota Tidore Kepulauan, menjadi polemik.

Pasalnya, dua (2) unit kendaraan kaisar pengangkut sampah yang dibeli seharga Rp.120 juta pada tahun 2018, terlihat  terparkir dihalaman rumah Ketua BKM Sarimalaha, Nurnawi Habib, yang hingga kini belum difungsikan, dan terkesan menjadi pajangan rumah.

Persoalan tersebut, kemudian menuai reaksi dari warga Kelurahan Rum, Kecamatan Tidore Utara, sebab ada beberapa Kelurahan di Kecamatan Tidore Utara sudah memfungsikan bantuan tersebut dengan baik, hanya di Kelurahan Rum saja yang belum difungsikan.

Selain itu, warga meminta agar bantuan dari Kotaku Provinsi Maluku Utara diberikan ke warga Kelurahan Rum, melalui BKM Sarimalaha, segara disalurkan ke warga untuk digunakan sesuai juknis sebagai kendaraan pengangkut sampah.

Walau begitu, Ketua BKM Sarimalaha,  Nurnawi Habib, kepada wartawan media ini mengatakan, jika bantuan tersebut bukan lagi tanggung jawab BKM Sarimalaha, melainkan tanggungjawab Pemerintah Kelurahan setempat. Karena sudah dilakukan penyerahan secara simbolis. " Kami sudah serahkan ke pihak Kelurahan,” kata Nurnawi  Habib saat ditemui wartawan media ini.

Ditempat terpisah, Kepala Kelurahan Rum,  Esa Folasimo membantah, jika kendaraan tersebut telah diserahkan ke pihak Kelurahan.

Esa juga mengakui bahwa pada saat penyerahaan  dirinya hanya menerima sebuah kertas, " Sudah dilakukan penyerahan, tapi yang diterima oleh kami pihak kelurahan, bukan aset berupa motor pengangkut sampah, melainkan kertas penyerahan saja," pungkasnya.

Esa mengaku pihaknya tidak bisa menjawab pertanyaan masyarakat terkait kendaraan pengangkut sampah yang tidak ada di Kelurahan, melainkan berada di garasi rumah Ketua BKM Sarimalaha.

Meski sudah menerima bantuan tersebut dalam bentuk selembar kertas. Esa nampaknya keberatan untuk menerima bantuan tersebut. Pasalnya, untuk mengeporasikan kendaraan itu harus membutuhkan biaya operasional. Sementara penyerahan bantuan itu tidak disertai dengan biaya operasional.

"Kalau asetnya diserahkan ke pihak Kelurahan dimana kami ambil biaya operasionalnya, sebab ada biaya operasional yang begitu besar  BKM Sarimalaha untuk kendaraan ini," cetusnya.

Esa menambahkan, Jadi harus ada keterbukaan antara pihak Kelurahan dan pihak BKM supaya tidak saling curiga satu dengan yang lain," Sehingga apa yang sudah di sepakati bersama bisa terlaksana," tutupnya.(dar)

Share:
Komentar

Berita Terkini