Gubernur Resmi Ekspor Perdana Produk Kayu Olahan Malut Ke India

Editor: Admin author photo





Foto: Gubernur Malut KH. Abdul Gani Kasuba usai meresmikan ekspor perdana produk kayu olahan Malut ke India
TERNATE- Gubernur Maluku Utara KH. Abdul Gani Kasuba Lc, merespon baik atas terlaksananya ekspor perdana  produk kayu olahan dari Maluku Utara (Malut) ke Negara India.

"Alhamdulillah ini merupakan komitmen dan kerja sama semua stake holder dan pimpinan instansi vertikal, untuk bersama-sama dalam melakukan ekspor perdana produk kayu olahan dari Maluku Utara ke India," kata Gubernur dalam sambutan singkatnya, Jumat (25/10) di bilangan pelabuhan Ahmad Yani Ternate.

Gubernur berharap, ekspor yang dilakukan oleh eksportir CV. Citra Jepara ini, dapat membawa dampak positif bagi Maluku Utara.

"Ini semua bertujuan untuk meningkatkan perekonomian daerah berupa Devisa, untuk kesejahteraan masyarakat Maluku Utara," ungkapnya.

Senada dengan itu, kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Maluku Finari Manan, juga mengucapkan selamat atas keberhasilan CV. Citra Jepara, yang tengah melakukan ekspor langsung kayu olahan dari Malut.

"Semoga kegiatan ekspor ini dapat berlanjut dan memberikan dampak positif bagi multiplier effects kemajuan perekonomian di Malut," ujarnya.

Finari menjelaskan bahwa pada tanggal 20 Maret 2019 yang lalu, para pimpinan instansi dilingkup pemprov Malut dan beberapa instansi vertikal yang berkaitan dengan perdagangan arus pergerakan barang, telah menandatangani nota kesepahaman bersama MoU (Memorandum of Understanding) yang disebut dengan Pakta Parada 2019. Hal itu sebagai komitmen bersama untuk memajukan perekonomian Provinsi Maluku Utara khususnya melalui peningkatan ekspor langsung dari Maluku Utara.

"Kita lihat selama ini ekspor Malut cenderung bergantung pada sektor Pertambangan. Hal tersebut dapat dimaklumi, mengingat Malut adalah salah satu daerah yang di karuniai kekayaan tambang, khususnya Nikel dan biji besi. Namun barang tambang itu merupakan Sumber Daya Alam (SDA) tak terbarukan yang suatu hari akan habis, dan memerlukan waktu yang lama untuk diperbarui lagi," jelasnya.

Oleh karena itu menurut dirinya bahwa, Pakta Parada 2019 memainkan peranan penting sebagai semangat bersama untuk mengembangkan ekspor nontambang sebagai penggerak perekonomian Malut, yaitu daru sektor SDA terbarukan.

"Patut disyukuri bahwa selain kaya akan tambang, Malut juga dilimpahkan kekayaan alam dari sektor kelautan dan perikanan. Beberapa tahun terakhir, ekspor nontambang didominasi oleh ikan laut (Morotai, Tobelo, Bacan, Ternate dan Sanana). Sementara khusus untuk produk kayu olahan (CV. Citra Jepara) dengan komuditas kayu Merbau Pantai (Intsia bijuga) dikenal dengan nama dagang Merbau E2E sebanyak 1.440 pcs setara volume 17,26 m³ dengan nilai barang sebesar USD 10,250 dan negara tujuan ekspor India," jelasnya.

Sementara itu kepala perwakilan Bank Indonesia Maluku Utara, Gatot Miftahul Manan, mengatakan bahwa pada prinsipnya tetap mendorong agar ini benar-benar diimplementasikan, serta juga dapat identifikasi masalah apa saja yang mungkin akan terjadi di dalam dunia usaha perdagangan.

"Dari sisi kompetitifnya juga. Harus tingkatkan produktifitas, harus memunyai nilai tambah sehingga menghasilkan produk yang layak dijual kepasar Internasional, dari sisi binsinya yang terpenting adalah itu," ucapnya.

Intinya adalah di era yang saling terintegrasi ini, dapat bersaing secara kompetitif yang positif, dan itu akan mengakibatkan peningkatan produktifitas yang berdaya saing. (tim)

Share:
Komentar

Berita Terkini