Beras Lokal Halbar Siap Rambah Pasar

Editor: Admin author photo
Foto: Beras lokal Halbar
JAILOLO- Program Pemerintah Daerah untuk perluasan areal sawah baru di Kabupaten Halmahera Barat (Halbar) mulai terlihat hasilnya. Produksi beras terus digenjot melalui kelompok tani dan bakal siap merambah pasar untuk dikonsumsi masyarakat luas.

Lexi Kin, pemilik UD Himalaya, kepada wartawan Kamis, (05/12/19) mengatakan, produksi beras di Kabupaten Halmahera Barat yang di pasarkan melalui UD. Himalaya, khususnya di Desa Hoku-Hoku Kie, Taboso, Lolori dan Gamtala sekali panen bisa mencapai 40 ton. 

Menurut Lexi, produksi petani yang sangat menjanjikan tersebut sangat disayangkan jika tidak dikelola secara profesional. Oleh karena itu dirinya mengambil langkah pemasaran dengan menjual beras dengan kemasan modern serta diberi merk.

“Dalam sekali panen beras yang di pasarkan melalui UD. Himalaya bisa mencapai 30 hingga 40 ton, karena petani membutuhkan pasar untuk menjual hasil produksi, sehingga saya berinisiatif membeli hasil panen dengan mengemas secara modern dan diberi merk" jelas Lexi.

Dia menjelaskan, siap merambah daerah lain selain Jailolo, jika produksi di Halmahera Barat sudah terpenuhi dan ada kelebihan. Ia memiliki target jika nantinya akan menjual beras Halbar, Kota Ternate dan daerah lain.

“saya berencana mendistribusikan beras Halbar keluar (daerah), misalnya Kota Ternate. Tapi sementara ini kita masih penuhi dulu permintaan di Halmahera Barat. Kalau semua lahan sudah terbuka, saya yakin untuk wilayah Halmahera Barat akan terpenuhi".

Namun pria yang juga mengelola sawah ini tidak menampik, meskipun sistem tanam, pembibitan, penggilingan hingga pengemasan sudah baik, tapi sistem penjemuran masih memanfaatkan alam. Sehingga ini yang menjadi salah satu kendala lain. Sebab, jika musim hujan tiba, dan padi yang telah di panen dibiarkan selama 5 hari maka akan membusuk.

“Hanya memanfaatkan alam, kalau padi (sudah di panen) tertinggal sampai 5 hari karena cuaca tidak baik (hujan), padi rusak,” jelasnya. 

Lexi juga berharap pemerintah daerah dapat memperbaiki sistem irigasi yang di beberapa lokasi sempat tersumbat.

“Air yang masuk ke sawah butuh waktu lama baru bisa keluar. Tersumbat jalur air karena pohon-pohon. Kalau air tidak bisa keluar akan muncul hama keong. Yang kedua, kalau mau cari hasil bagus harus ada sarana pengeringan yang baik,” tandasnya. (kep)

Share:
Komentar

Berita Terkini