Tolak Pembangunan Masjid Raya, Fraksi PKB Dikecam Masyarakat Tidore

Editor: Admin author photo
Foto : Tokoh Agama dan Masyarakat kecam fraksi PKB Kota Tidore Kepulauan

TIDORE- Sikap Fraksi PKB DPRD Kota Tidore Kepulauan menolak pembangunan Masjid Raya di Kota Tidore Kepulauan mendapat kecaman keras dari tokoh masyarakat dan tokoh agama. Hal itu diungkapkan tokoh masyarakat tidore Mansur A. Conoras mengatakan sikap fraksi PKB menolak pembangunan sarana ibadah melalui pandangan fraksi pada paripurna penyampaian Nota Keuangan RAPBD tahun 2020 beberapa waktu lalu. Hal itu membuat dirinya terpukul dengan sikap tersebut, karena sangatlah aneh dan tidak memihak terhadap kepentingan publik.

“Kami merasa sangat terpukul mendengar anak daerah yang berada di dalam parlemen mempertontonkan kezoliman ummat atas pembangunan sarana ibadah, karena baru pertama kali terjadi sarana ibadah ditolak mentah-mentah yang dilakukan oleh Politisi Fraksi PKB yang bergabung dengan hanura dengan alasan pembangunan masjid raya bukan kebutuhan mendesak dan bagi kami ini merupakan sikap yang astagfirullah, Karena pembangunan sarana ibadah tidak boleh disamakan dengan pembangunan yang lain,” cecar Mansur A. Conoras kepada awak media saat ditemui di depan masjid Miftahul Jannah, Kelurahan Indonesiana, Kota Tidore Kepulauan. Minggu (1/12/2019).

Lelaki akrab disapa Oya itu, mengutuk keras sikap fraksi PKB karena dianggap tidak beradab dalam memihak kepentingan umum, sehingga ia meminta kepada Pemkot dan DPRD untuk kembali mempertimbangkan keinginan tak manusiawi para politisi yang hanya mengedepankan kepentingan politik partai semata.

“Kita harus berkaca pada kepemimpinan Hein Namotemo, dan Namto Hui Roba, meskipun mereka beragama nasrani namun mereka membangun Masjid Raya yang begitu megah, sementara kita di Tidore yang dikenal sebagai kota santri malah menolak adanya pembangunan masjid Raya,” pungkasnya.

Kesempatan yang sama juga disampaikan Imam Masjid Miftahul Jannah Kelurahan Indonesiana, Ridwan Ahmad, mengatakan sikap yang ditunjukan Fraksi PKB sangatlah tidak baik, olehnya itu sebelum mengeluarkan sikap PKB dan Hanura diminta untuk datang melakukan sholat di Miftahul Jannah, sebab bukan berarti banyaknya masjid kemudian itu menjadi alasan bagi Fraksi PKB Hanura menolak dibangunnya Masjid Raya. Karena pembangunan masjid menjadi sebuah sarana yang penting bagi ummat islam untuk mendapatkan kenyamanan dalam beribadah.

“Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang membangun masjid di dunia ini, maka allah akan membangun istana untuknya di surga, bagaimana kita sebagai seorang muslim apalagi sebagai wakil rakyat menolak mentah-mentah untuk membangun masjid, mana sikap mereka sebagai seorang muslim ketika hal ini menjadi tujuan bagi Tidore untuk menjadikan icon Tidore sebagai kota Santri, coba kita contohkan ternate yang berdekatan dengan Tidore, meskipun mereka sudah punya banyak masjid namun mereka tetap membangun masjid raya untuk dijadikan sebagai central ummat muslim beribadah,” jelasnya.

Tak hanya itu, sikap Fraksi PKB juga mendapat sorotan dari ustad ternama di Tidore Agus Taufan, Ia mengatakan bahwa pembangunan masjid raya di Kota Tidore Kepulauan ini, bukan menjadi hal baru yang dirindukan oleh ummat islam di Tidore, karena jauh sebelum tidore dikukuhkan sebagai kota santri, kerinduan akan adanya masjid raya sudah ada. Terbukti saat tidore masih berstatus Kabupaten Halmahera Tengah terdapat adanya fondasi masjid raya yang berdekatan dengan Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja Kota Tidore Kepulauan.

“Adanya fondasi itu adalah bukti konkrit masyarakat sebelum kita mereka sudah merindukan adanya pembangunan masjid raya di tengah-tengah pusat kota sebagai icon daerah, lagi pula dengan adanya kemajuan teknologi dengan desaign kajian-kajian yang begitu ramai mewarnai media sosial maka masyarakat perlu mengkaji bagaimana islam yang benar dengan mengkonsepkan dari masjid kita bangkit seperti yang dilakukan oleh Yayasan Darul Mujtama di Masjid Miftahul Jannah dan yang hadir dalam kegiatan itu tidak hanya orang Tidore melainkan orang di luar Tidore,” ujarnya.

Lanjutnya, ini menunjukan bahwa ada kerinduan yang perlu dibaca dan dirasa oleh wakil rakyat terpilih, apalagi kondisi Masjid Miftahul Jannah yang akan menjadi cikal bakal pembangunan masjid raya untuk menjadi suatu tempat dalam melakukan kajian-kajian islam. Hanya saja masjid tersebut tidak mampu menampung jamaah yang banyak, karena posisi masjid Miftahul Jannah berada di tengah-tengah layanan publik dan bisa diakses oleh orang banyak. Apalagi Kota Tidore Kepulauan diapit oleh dua pondok pesantren, pertama pesantren Kharisul Khairat Kelurahan Ome dan Pesantren Ali Bin Abitalib Kelurahan Dowora.

“Kemarin yayasan Darulsalam bekerjasama dengan pondok Pesantren menggelar kegiatan dengan mendatangkan Guru Besar Fikih dari Yaman bernama Dr. Arif Anwar Aladni Al Yamani, namun apa yang terjadi ternyata masjidnya tidak tampung, padahal guru besar banyak yang tertarik datang ke tidore,” tambahnya.

Olehnya itu, kata Agus, hal ini perlu dibaca dan didukung dengan fasilitas yang memadai dalam hal ibadah, maka dari itu bagi kami sebagai tokoh agama bahwa masjid raya merupakan suatu kebutuhan yang mendesak untuk kita membangun silaturrahim dengan mendatangkan guru-guru besar di Tidore yang mampu menampung banyak masyarakat. Jika ada yang mengatakan membangun masjid tidak terlalu penting bagi kami sangat penting.

“Kami menghargai pendapat teman-teman di DPRD yang menilai itu belum penting, namun kami berharap pendapat kami juga bisa dihargai,” pungkasnya.

Menanggapi persoalan diatas, Wakil Ketua Fraksi PKB DPRD Kota Tidore Kepulauan, Riri Aisyah Do Taher, membenarkan fraksi PKB menolak pembangunan masjid raya, dengan alasan tidore sudah banyak memiliki masjid, sehingga tidak perlu adanya icon masjid raya, melainkan ada hal lain yang perlu dijadikan icon.

“ Uang untuk dibuat masjid raya itu seharusnya diperuntuhkan untuk memperbagus masjid-masjid yang sudah ada, karena masjid di Tidore ini sudah banyak, sehingga tidak terlalu boros anggaran,” singkat Ririn ketika dihubungi melalui via telepon. Minggu (1/12) sore tadi. (Aidar)
Share:
Komentar

Berita Terkini