Ahli Waris Minta The Tjeng Kiat Kembalikan Hak Kepemilikan Lahan

Editor: Admin author photo
Foto: Retni Tjan
TERNATE - Dugaan kasus penyerobotan lahan milik keluarga almarhum Hi. Hasan Lela Tjan Hoat Seng dan Almarhum Hong Tjan yang di lakukan The Tjeng Kiat berbuntut panjang.

Hal itu duga ada keterlibatan Badan Pertanahan Negara (BPN) Kota Ternate bersama kuasa hukum Faruk Alwi dan Najib yang membongkar bangunan lama milik keluarga Almarhum Hi. Hasan Lela Tjan Hoat Seng dan Almarhum Hong Tjan.

Salah seorang  ahli waris Retni Tjan membeberkan penyebab lahan milik keluarganya bisa terjadi sengketa yang berlangsung sudah puluhan tahun.

“ Awalnya Suminto Litan mengambil akta eigendom 457 toko sentral di Jalan Pahlawan Revolusi Kelurahan Gamalama dari tanda bapak saya almarhum bapak Hong Tjan di bawah todongan pistol aparat di tahun tujuh puluhan,” ungkap Reni Kepada awak media di Cafe Soccer Ternate belum lama ini.

Retni menceritakan bahwa Akta eigendom 457 68 meter di konversi The Tjen Kiat di bantu  BPN Kota Ternate mengeluarkan sertifikat The Tjeng Kiat dengan  luas 205 meter.

“ The Tjen Kiat mengonversi akta eigendom 457 dengan luas 68 meter  saja,  tapi oleh BPN mengeluarkan sertifikat The Tjeng Kiat dengan  luas 205 meter.  Begitu juga dengan SHM No.213 atas nama Faruk Alwi dengan luas yang sama. Padahal Cafe Bacarita Dua itu hanya berukuran 13x12 M yang sama dengan  luas 156 M. Fakta dan bukti ada di lapangan,” Tandasnya.

Tidak hanya itu kekecewaan Retni  mencuat ketika dalam putusan pengadilan silsilahnya kabur alias tidak jelas.

“ Putusan pengadilan silsilah kami yang kabur, padahal sebenarnya mata hati yang dibutakan oleh keserakahan itulah kerja BPN dan instansi terkait yang menghilangkan hak kami selama puluhan tahun,” ucap Retni dengan nada kesal.

Walau begitu, Renti merasa ada kejanggalan di mana ada lokasi di tempat lain, tetapi sertifikat Nomor 59  yang sekarang beralih menjadi  Nomor 213. 

“Akta Eigendom 457 yang di ambil Suminto Litan itu di bawah oleh The Tjeng Kiat ke pertanahan atau BPN Kota Ternate, maka lahir atau terbit sertifikat nomor 59 yang sekarang beralih nomor 213 berlokasi di jalan Gelatik, kelurahan Muhajirin depan rumah sakit tentara ini Cafe Bararita Dua dengan nomor  SHM 213,” ucapnya. 

Kata Retni, ini adalah fakta bahwa kerjanya BPN dan instansi terkait yang seharusnya akte Eigendom 457 posisinya berada di kelurahan Gamalama dipindahkan ke kelurahan Muhajirin, padahal bukti dan batasan sangat jelas. Justru diubah  oleh BPN.
Kesedihan Retni memuncak ketika bangunan lama miliki Alm. Hi. Hasan Lela Tjan Hoat Seng dan Alm. Hong Tjan bersaudara di bongkar. 

“Dengan bukti palsunya The Tjeng Kiat di pengadilan negeri Ternate notaris Faruk Alwi di bantu adiknya Najib membongkar bangunan lama pada tanggal 12 Oktober 2011 milik Almarhum Hi. Hasan Lela Tjan Hoat Seng dan Alm. Hong Tjan bersaudara yang telah ditempati oleh saya selaku ahli waris tempati atas  hari Rabu 12 Oktober 2011. Atas dasar surat nomor pol.STPL/194/X/2011/Res Ternate,” pungkasnya.

Dengan demikian,  ungkap Retni sebagai ahli waris tidak ridho dengan keberadaan cafe bacarita dua. “ Saya berharap bantuan aparat untuk mengusir Najib dan Faruk Alwi dan juga karyawannya toko Sejahtera yang menepati lokasi milik orang tua saya secara melawan hukum,” tegasnya.

Sambung Reni, masalah ini bukan kesalahan kami terbitnya nomor 59 dan 213 di lokasi yang salah. Itu adalah kesalahan pertanahan atau BPN yang merugikan kami ahli waris. 

“ Kami kehilangan tiga lokasi dan dua rumah sekaligus ini adalah bukti nyata kejahatan BPN dan instansi Terkait. Saya berharap pihak berwajib untuk mengembalikan hak kami,” pungkasnya. (tim)

Share:
Komentar

Berita Terkini