Non Gololi Berbuah Tragedi Liang Lahat

Editor: Admin author photo
Foto: Kepala Seksi Bimbingan Islam Kemenag Kota Tidore Kepulauan Hi. Ali M. Tero, 

TIDORE—Awan hitam menggelayut diatas Desa Kusu, Kecamatan Oba Utara, Kota Tidore Kepulauan (Tikep). Sepanjang hari pada Ahad, 5 Januari yang lampau, itu, Desa Kusu bagai mencekam. Sebuah peti jenazah terkatung-katung mencari liang lahat.

Pasalnya, warga setempat menolak jenazah tersebut dimakamkan di desa tersebut. Alasannya, mayat itu bukan dari kelompok gololi. Sekedar diketahui, gololi merupakan sebuah kelompok gotong-royong warga setempat. Dan, gololi tak lain sebuah tradisi warga di sana yang telah ada sejak jaman bahuela. Bila ada kegiatan kemasyarakatan, maka warga yang tergabung dalam gololi bahu-membahu untuk mendukung demi kelancaran sebuah hajatan.

Nah, sialnya, mayat yang diusung dalam keranda pada Ahad pekan yang silam itu, menjadi bulan-bulanan. Itu menyusul si mayat tak lain adalah warga pendatang alias bukan orang asli daerah setempat.

Bagai aspal disiram bensin, Kementerian Agama (Kemenag) Kota Tikep pun lantas angkat suara. Dengan nada keras, Kepala Seksi Bimbingan Islam Hi. Ali M. Tero, tidak membenarkan tindakan warga Desa Kusu. Bagi Tero, setiap orang yang sudah meninggal wajib hukumnya dilakukan pemakaman. Dia menegaskan, tidak boleh ada penolakan. Apalagi, katanya, hanya dengan alasan yang bersangkutan bukan bagian dari peserta gololi.

“Dalam perintah agama, apabila seseorang sudah dewasa maka segera dinikahkan; apabila ada utang-piutang segera dilunasi; apabila sudah selesai sholat dan iqamah maka segeralah sholat; apabila orang itu sudah wafat maka segera dikuburkan,” kata Tero, mencoba menjelaskan.

Menurutnya, penundaan pemakaman bisa dilakukan, tapi dengan alasan yang memang disyariatkan agama. “Contohnya, bila pihak keluarga mungkin masih menunggu keluarga lainnya yang berada di luar daerah untuk datang melihat jenazah,” ujarnya, saat ditemui sejumlah wartawan di ruang kerjanya, Kamis (9/1/2020).

Ali M. Tero yang memperoleh informasi ini bagai kebakaran jenggot. Tanpa tedeng aling-aling, dia lantas menghubungi Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Oba Utara. Dia ingin memastikan sejauh mana persoalan ini ditangani. Untung saja, pihak KUA setempat mampu menyelesaikan persoalan tersebut. Ali berharap persoalan seperti ini menjadi tanggungjawab bersama, sehingga tak terulang kembali.

"Masalahnya sudah diselesaikan, dan ini hanya terjadi missed-komunikasi, jadi yang punya lahan (ketua gololi-Red) hanya tidak mau dilakukan pemakaman di lahannya, sementara di Desa Kusu juga punya lahan sendiri untuk Tempat Pemakaman Umum (TPU) namun persoalan ini sebelumnya tidak diketahui oleh Kepala Desa, sehingga setelah insiden tersebut Kepala KUA Oba Utara kemudian turun dan menyelesaikan sehingga mayat itu kemudian di kuburkan di TPU," jelasnya.

Lebih lanjut, Ali menambahkan untuk meluruskan pemahaman masyarakat agar tidak terjadi bias persepsi tentang masalah keagamaan, pihaknya akan melakukan moderasi beragama. Tero menyatakan, pihaknya akan bersama-sama dengan KUA Kota Tikep untuk menjalankan program moderasi beragama melalui mimbar-mimbar masjid. 

“Program ini disemua kelurahan dan desa, jadi setiap hari jumat kami akan sambangi masyarakat untuk memberikan pemahaman," pungkasnya. (Aidar)
Share:
Komentar

Berita Terkini