Tragedi Waci Masih Menggantung

Editor: Admin author photo
Foto: FTKW saat unjuk rasa di PN Soasio
TIDORE - Halaman kantor Pengadilan Negeri (PN) Soasio Kota Tidore Kepulauan (Tikep) tampak dijaga ketat aparat kepolisian setempat. Pada Senin (13/01/2020) itu, kantor PN Kota Tikep tengah mengagendakan sidang lanjutan perkara pembunuhan. Yakni, kasus pembantaian tiga warga Desa Waci, yang menewaskan Karim Abdurahman (56), Yusuf Halim (34), dan Habibu Salatun (62).

Sebelum sidang digelar, keluarga beserta simpatisan tiga korban telah memenuhi ruang sidang. Bahkan, halaman kantor PN Tikep tumplek ruah oleh massa yang berjubel.

Diluar ruang sidang, Front Tragedi Kali Waci (FTKW) menggelar aksi unjuk rasa. Aksi ini dilakukan semata-mata untuk menuntut keadilan. Hal ini menyusul sidang perkara tersebut tak pernah berujung.

Berdasarkan data dari Polres Haltim, para tersangka dan barang bukti diserahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Tikep pada tanggal 16 Desember 2019. Sehari setelah itu baru dilimpahkan ke PN Kota Tikep.

Sejauh ini telah dilakukan tiga kali persidangan terhadap kasus tersebut. Sidang pertama pada tanggal 23 Desember 2019, yakni pembacaan surat dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Sementara eksepsi dari penasehat hukum para tersangka, disampaikan dalam sidang pada tanggal 30 Desember 2019 yang silam.

Berlarut-larutnya sidang perkara pembunuhan ini membuat pihak keluarga korban maupun simpatisan merasa tak puas. Bahkan, secara keras FTKW menganggap ada kong-kali-kong antara pihak kuasa hukum tersangka dengan majelis hakim.

Pernyataan FTKW tak asal disampaikan. Sebab, diketahui, kuasa hukum tersangka melakukan manipulasi identitas para tersangka. Enam tersangka dengan inisial AG, HB, RT, ST, TH, dan AL, rupanya, merupakan warga yang sadar hukum dan memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP). “Tak seperti yang disampaikan kuasa hukum tersangka bahwa para tersangka adalah masyarakat togutil (orang hutan-Red),” kata Siswanto Marsaoly, koordinator FTKW.

Berdasarkan hasil investigasi dari penyidik Kepolisian Resor (Polres) Kabupaten Halmahera Timur (Haltim), para pelaku teridentifikasi sebagai warga Desa Tukur-Tukur dan Desa Waijoi, Kecamatan Wasilei Utara.

Untuk itu, FTKW mendesak penasehat hukum tersangka agar cukup memberikan hak hukum sesuai hukum positif. Selain itu, FTKW juga mendesak majelis hakim untuk menolak eksepsi dari terdakwa.

Sekedar diketahui, kasus pembunuhan ini terjadi pada Jum’at, 29 Maret 2019 nan lampau. Kejadiannya berlangsung di hutan Kali Waci, Kabupaten Haltim. Ceritanya, korban Karim Abdurahman, Yusuf Halim, Habibu Salatun, Halim Difa, dan Harun Muharam, tengah berburu hewan di hutan Kali Waci.

Sialnya, belum sempat memperoleh hasil buruan, mereka justru dihadang belasan orang tak dikenal. Tragisnya, lima orang pemburu ini justru harus meregang nyawa. Anak panah yang melesat, serta tombak yang menghunjam dari berbagai arah, meembuat langkah mereka terhenti. Untung bagi Halim Difa dan Harun Muharam. Keduanya mencari selamat dengan susah payah. Tragis, bagi tiga rekan mereka. Karim Abdurahman, Yusuf Halim, dan Habibu Salatun, tak selamat. Sayatan pedang dan anak panah serta tombak mengakhiri hidup mereka.

Dari sejumlah pelaku yang membantai tiga korban tadi, baru enam tersangka yang dibekuk polisi. Untuk itu, FTKW mendesak pihak kepolisian agar segera menangkap pelaku lainnya yang masih buron.

Perkara pembantaian tiga pemburu di Kali Waci sepertinya masih menggantung. Pasalnya, sudah hampir setahun ditangani penegak hukum, namun belum ada keputusan. Ada apa di balik ini? (riel)

Share:
Komentar

Berita Terkini