Kasus Kekerasaan Perempuan dan Anak di Halbar Meningkat

Editor: Admin author photo
Foto: Adrisal Hena (Kepala DP3A Pemkab Halbar
JAILOLO –Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan  Anak (DP3A) Pemkab Halbar berkomitmen melakukan pencegahan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Selain mengurangi angka kekerasan terhadap perempuan dan anak melalui pencegahan, pemulihan trauma pada penyintas kekerasan seksual.

Akan tetapi,  yang tak kalah penting adalah dampak dari kekerasan seksual begitu besar. Tak hanya pada korban, namun juga keluarga dan lingkungan sekitarnya.

Menurut Sekretaris DP3A Pemkab Halbar, Adrisal Hena, mengatakan terdapat satu indikator kuat yang menjadi penentu terhadap kekerasan pada perempuan dan anak yakni minimnya ekonomi.

Untuk itu, Kata Adrisal, upaya menekan angka kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia khususnya wilayah Halbar tidaklah mudah. Sebab beragam modus dan pola yang digunakan oleh pelaku tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak membuat perlu adanya pencegahan dan penanganan yang komprehensif serta kerjasama dari seluruh elemen yang ada termasuk pemerintah,  Lembaga masyarakat, termasuk media, ujar adrisal kepada repoter media ini diruang kerjanya, Kamis (20/2/2020). 

Adrisal membeberkan bahwa data kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak yang telah dihimpun oleh Dinas P3A sepanjang 2019 khusus untuk KDRT terdapat Sebanyak 15 kasus yang merupakan kasus kekerasan fisik dan psikis, Pencabulan, Pelecehan, Perzinahan/Persetubuhan, serta Penelantaran terhadap perempuan/istri.

Sementara non KDRT sebanyak 17 kasus diantaranya merupakan kasus kekerasan Fisik dan Psikis, Pencabulan, Perzinahan/Persetubuhan, tuturnya.

Sementara data tahun 2020, kekerasan terhadap perempuan dan anak sepanjang Januari-Februari Sebanyak 11 kasus, yakni KDRT  5 kasus diantaranya merupakan kasus fisik dan psikis, Perzinahan dan Penelantaran.

“ Untuk Non KDRT sendiri terdapat 6 kasus, dengan bentuk kasus yakni Kekerasan Fisik dan Psikis, Pencabulan, Perzinahan/Persetubuhan, Penelantaran,” jelasnya.

Selain angka kekerasan yang dilaporkan terus meningkat, pola dan modus yang dilakukan juga semakin kompleks,” terangnya.

Sementara itu, Adrisal mengaku sangat mengecam pelaku kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak serta mendukung upaya yang dilakukan oleh Pemerintah.

"Tentunya kami sebagai dinas terkait akan mendukung apapun yang sedang dilakukan Pemerintah beserta stakeholder terutama dalam upaya mengentaskan kemiskinan yang menyebabkan terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak baik melalui undang-undang maupun langkah konkrit lainnya,” pungkasnya.

Adrisal menghimbau, Anak-anak ini sifatnya terkadang suka meniru apa yang dilihat, dirasakan dan didapatkan dalam kehidupannya sehari-hari. Apabila tindakan itu positif tentu tidak menjadi masalah,  namun jika tindakan dan ucapan yang mereka terima itu negative, maka ketika masuk ke dalam fikiran mereka disitulah terjadi proses kerja otak yang justru ke hal-hal negatif sebagaimana yang mereka dapat, dan tentu ini menjadi sebuah rujukan masalah di kemudian hari.

“ Kami berharap kepada seluruh orang tua serta guru khususnya di wilayah Kabupaten Halmahera Barat, ini agar selalu memberikan arah pendidikan yang lebih baik terhadap anak-anak, karena mungkin saat ini kita tentunya merasa bahwa pribadi kita lebih baik, namun generasi penerus selanjutnya itu berada di tangan mereka. Oleh sebab itu, aset bangsa ( perempuan dan anak-anak) itu dijaga dilindungi bukan dibuat semena-mena,” tutupnya.(zu3/red) 
Share:
Komentar

Berita Terkini