Kasus Utang-Piutang Cekik Kabag Umum Haltim

Editor: Admin author photo
Foto bersama para kuasa hukum hermanto (foto : ist)
WASILE – Urusan utang piutang memang runyam, itu lah yang di alami Kalla Soleman, Kepala Bagian Umum dan Perlengkapan Setda Pemkab Halmahera Timur (Haltim) harus pusing tujuh keliling.

Tiga tahun lalu, Kalla harus memutar otak untuk membayar  honor dan makan minum (Mami) kantor. Saat itu keuangan Pemda lagi kosong. Kalla lantas meminjam uang ratusan juta rupiah kepada Hermanto, Warga Desa Cemara Jaya, Kecamatan Wasile, Kabupaten Haltim.

Hermanto yang mengetahui Kalla merupakan pejabat teras di Pemkab Haltim. Tak pikir panjang langsung mangabulkan permintaan pegawai yang mengurusi rumah tangga pemkab Haltim itu.

Pinjaman senilai Rp. 300 juta, itu. Kemudian di  teken dengan surat perjanjian yang mengikat, tapi dengan jangka waktu yang telah ditentukan. Pihak Pemkab Haltim seakan menghindar.

Merasa dirugikan, Hermanto kamudian memperkarakan kasus wantprestasi ini, dengan menggunakan lima kuasa hukum, yakni Rustam Ismail, Iskandar Yoisangadji, Taufic Shari Layn, Muhammad Thabrani dan Rismanto Ridwan, untuk menuntut haknya.

Kasus wanpretasi (utang-piutang) ini, seakan mencekik Kabag Umum dan Perlengkapan. Pasalnya, utang-piutang sudah berlangsung selama tiga tahun itu tak di selesaikan.

Menurut Rismanto, kuasa hukum korban bahwa klien mereka di tahun 2016 lalu. Kabag Umum dan Perlengkapan yang di jabat Kalla Suleman, minta bantuan untuk dicarikan pinjaman uang. untuk keperluan bayar honor dan makan minum kantor di bagian umum dengan besaran pinjaman senilai Rp. 300 juta.

Dengan perjanjian pengembalian tiga bulan ke depan. Maka uang di kembalikan dan pinjaman tersebut mempunyai surat perjanjian diatas materai, tetapi surat pengembalian itu tidak ada artinya. Padahal, pihak korban sudah datang kepada Kalla Suleman supaya diatur secara kekeluargaan, tapi sampai sekarang ini tak ada respon balik lagi,” tutur Ridwan melalui siaran persnya, Jumat (07/02/20) siang tadi.

Lebih lanjut Rismanto mengatakan masalah ini sudah pernah dinaikan ke pengadilan, namun perkara tersebut di mediasi oleh pihak pengadilan antara Kalla dan Hermanto. Tetapi dalam mediasi itu, Kalla bersedia mengembalikan uang senilai Rp. 300 juta kepada Hermanto dalam hitung bulan.

“ Kronologisnya, pada tahun 2016 lalu.Pemkab Haltim melalui Kabag Umum dan Perlengkapan meminjam uang milik klien kami sebesar Rp. 300.000.000, pinjaman tersebut untuk keperluan bagian umum dan mengembalikan dalam waktu tiga bulan, tapi sampai sekarang belum dilunasi,” bebernya.

Meski masalah ini pernah di mediasi pengadilan. Ironisnya, Kata Rismanto, kesepakatan dalam mediasi itu, tak kunjung di realisasi Kalla Soleman. Bahkan, pihak korban hanya menunggu janji. Berbagai jalan pun telah ditempuh, namun tidak ada niat baik. Korban pun kemudian meminta bantuan hukum untuk memproses masalah ini melalui jalur hukum, pungkas Rismanto.

Dia menambahkan, kliennya sudah berupaya untuk mediasi secara kekeluargaan, tetapi hingga sekarang tak diselesaikan. Bahkan Pemkab Haltim melalui Kabag Umum dan Perlengkapan terkesan lepas tanggungjawaban.

“  Kasus wanprestasi ini, kami selaku kuasa hukum akan mengajukan gugatan terhadap Pemkab Haltim ke Pengadilan Negeri (PN) Soasio di Tidore,” tegas Rismanto.

Rencana dalam waktu dekat Rismanto dkk akan mengajukan gugatan wanprestasi.

“ Dengan tidak adanya niat baik Pemkab Haltim, maka kami selaku kuasa hukum besok akan mengajukan gugatan wanprestasi,” tutupnya. (red-riel)
Share:
Komentar

Berita Terkini