Ini Penjelasan DKP Malut Fenomena Ikan Mati di Ternate dan Halsel

Editor: Admin author photo
Foto: Kabid Budidaya DKP Malut Kadri La Etje
SOFIFI-  Fenomena kematian ikan di pantai Falajawa, Kota Ternate dan Pulau Makian, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel).  pada Februari lalu.

Kepala Bidang Budidaya Dinas Kelautan Perikanan (DKP) Provinsi Maluku Utara (Malut), Kadri La Etje, berpendapat bahwa Kota Ternate sebagai daerah urban area mendiami pesisir secara vertikal dan horison ke arah puncak gunung gamalama.

Menurutnya, kepadatan yang tinggi berdampak pada limbah buangan rumah tangga baik organik dan non organik yang mengalir lewat drainase dan sungai mati yang tak terhingga secara visual di musim hujan mewarnai pesisir Kota.

“ Dengan garis pantai yang pendek tentu limbah rumah tangga / runn off terkonsentasi di dasar pesisir. Limbah runn off kaya akan unsur hara, sehingga disini terjadi pengayaan air oleh nutrien yang berlimpah dengan senyawa N dan P. Ketika musim hujan tiba tentu nitrogen yang berada di atmosfir  akan turun bersamaan dengan hujan dan masuk ke perairan laut dan menambah runn off mengalir melalui drainase,” ungkap Kadri La Etje kepada reporter media ini melalui via WhatsApp, Rabu (4/03/2020).

Kadri menjelaskan bahwa pada bulan Februari lalu terjadi perubahan di permukaan laut dengan gerakan arus dan gelombang tinggi. Hal itu menyebabkan nutrien yang mengendap di dasar perairan terangkat ke kolom air hingga permukaan, disinilah upweling. Jika akumulasi limbah runn off, hujan dan upweling dapat melahirkan peristiwa yang disebut kesuburan perairan/ eutrofikasi, tuturnya.

Lanjut Kadri, untuk menentukan peristiwa ikan mati karena eutrofikasi perlu di ukur parameter lingkungan dengan melihat produktifitas P berada pada angka 1000 mg C/ltr. Angka nitrat, nitrit dan fosfor pada kisaran 0,1 hingga 0.3 serta oksigen terlarut dibawah 5 mg/ ltr. Jika parameter menunjukan angka tersebut maka dapat di pastikan terjadi eutrofikasi, jelasnya.

Menurutnya, kenapa ikan mati mendadak saat terjadi peristiwa eutrofikasi? karena ketika Bloomington Alga maka akan terjadi krisis oksigen di malam hari. Dimana semua fitoplankton dan mahluk perairan dan juga ikan merebut oksigen, sehingga kejadian oksigen tidak cukup memenuhi kebutuhan mahluk hidup lainnya. Sebab pada malam hari tidak ada intensitas cahaya matahari. Hal itu menyebabkan ikan-ikan mati mendadak karena tidak memperoleh oksigen, ujarnya.

Dia menambahkan, di samping peristiwa eutrofikasi dan upweling bisa terjadi peristiwa umbalan yaitu pembalikan masa air yang berada di kolom bawah dengan oksigen rendah berbalik pada posisi permukaan sehingga bagian permukaan miskin oksigen dan ikan bisa mati mendadak, papar La Etje.

Hasil uji sampel Dinas Kelautan dan Perikanan Malut berkesimpulan bahwa ikan yang mati terpapar di atas 7 jam tidak dapat dimakan, karena mikroba pembusuk telah tumbuh. Akan tetapi, ikan di perairan Maluku Utara layak di konsumsi. Dan hingga kini ikan-ikan yang di konsumsi dari tangkapan harian tidak membawa petaka buat masyarakat. Baik gejala diare, mual-mual/muntah hingga kematian.

“ Dengan itu, DKP Malut mengharapkan agar limbah rumah tangga organik dan non organik/ runn off agar jangan di buang kelaut. Laut bukan tempat sampah. Laut adalah masa depan Maluku Utara,” Kata La Etje. (dar/red)

Share:
Komentar

Berita Terkini