MENGUBUR AIB di KAWADANG

Editor: Admin author photo
Foto: Korban ketika di Otopsi
TALIABU-Ambrotus Kaka meregang nyawa. Dia bersimbah darah di tempat tidur kamarnya, di kediamannya, di Desa Kawadang, di Kecamatan Taliabu Timur Selatan, Kabupaten Pulau Taliabu, Selasa (17/03).

Lelaki kelahiran 27 tahun yang silam itu, tentu tak pernah membayangkan bahwa malam itu adalah hari terakhirnya di dunia. Hasil visum et repertum paramedis setempat menyatakan, sedikitnya ada sepuluh luka menganga ditubuh korban. Ambrotus Kaka ditusuk dengan sebilah pisau.

Pelakunya menyerahkan diri di Kepolisian Sektor (Polsek) setempat. Pelaku yang tak lain saudara misan si korban, kini, telah dipindahkan ke Markas Kepolisian Resor (Polres) Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula. Selain untuk diproses secara hukum, hal ini juga dilakukan untuk menjaga keamanan si pelaku dari amukan keluarga korban.

Adalah Ono, 28 tahun, yang memendam kebencian terhadap Ambrotus. Dendam pribadi berusia setengah semester itu, dituntaskan Ono dengan membunuh sasaran. Sebelum dieksekusi, Ambrotus Kaka disuguhi 'air surgawi' oleh Ono. Dalam pesta kecil itu, keduanya ditemani beberapa rekan sejawat.

Tak ada kesan mencurigakan saat pesta minuman keras (miras) berlangsung. Bahkan, suasana keakraban justru lebih terasa. Setidaknya demikian yang diungkapkan sejumlah saksi mata, yang terlibat dalam pesta miras berujung maut itu.

Gelas demi gelas miras yang digulirkan sejak pukul 17.00 Bagian Timur Waktu Indonesia (BTWI) itu, berakhir pada pukul 20.30 BTWI. Acara kecil itu pun bubar.

Selang setengah jam kemudian, nyawa Ambrotus Kaka melayang. Dalam tidurnya yang pulas akibat pengaruh alkohol, dia ditikam secara membabi buta tanpa perlawanan. Pisau yang dihunjamkan Ono melubangi tubuh Kaka. Derasnya kucuran darah akibat sepuluh kebocoran ditubuhnya, membuat korban tak tertolong. Kaka pun tewas seketika.

Malam itu menjadi cerita pilu di Desa Kawadang. Seisi desa geger oleh berita kematian Ambrotus Kaka. Kisah pembunuhan petani ini, bahkan menjadi buah bibir di kabupaten anyar itu.

Namun, sebagian besar kerabat serta orang terdekat korban maupun pelaku, tak terkejut dengan kabar duka itu. Pasalnya, keduanya pernah terlibat cek-cok. Dan, itu bukan perkara sepele lho.

Ceritanya, Ambrotus Kaka sebelumnya pernah menjalin tali asmara dengan pasangan hidup si Ono. Bahkan, Ono pernah menangkap basah keduanya tengah berasyik-masyuk. Saat itu, bila tak dilerai warga, mungkin saja, nyawa Kaka sudah melayang.

Ono dan Kaka yang masih saudara misan itu, kemudian berdamai. Itu setelah melalui proses nan panjang. Memang bukan perkara mudah bila tak ada campur tangan kedua belah pihak keluarga.

Usai keduanya berdamai, isteri Ono justru memilih meninggalkannya untuk selamanya. Kepergian wanita yang belum lama dinikahi Ono itu, ditengarai akibat beredarnya 'video panasnya' bersama Ambrotus Kaka.

Dari situlah Ono memendam kebenciannya terhadap Ambrotus Kaka. Dan, puncaknya pada semalam yang lalu. Dendam membara Ono diselesaikan dengan tusukan terakhir di rusuk bagian kanan tubuh Kaka. Bahkan, pisau yang tampak terawat dan terasah tajam itu, dibiarkan menancap di jasad korban.

Ono seakan mengubur segala aibnya bersama si korban. Artinya, bagi Ono kematian Kaka adalah harga mati yang tak dapat ditawar lagi. Karena, gegara Kaka biduk rumah tangganya hancur berantakan. (Ari/red)
Share:
Komentar

Berita Terkini