Instruksi Kapolri ‘Ditabrak’ Karyawan IWIP

Editor: Admin author photo
Foto: Aksi unjuk karyawan PT. IWIP
WEDA- Kepulan asap hitam membumbung dilangit Desa Gemaf, Kecamatan Weda Utara, Kabupaten Halmahera Tegah (Halteng). Gudang sembako PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Jum’at (1/5), dibakar massa.

Suasana di depan site Tanjung Ulie—lokasi pertambangan PT. IWIP—, di pagi itu, tampak kisruh. Ribuan karyawan PT. IWIP merangsek di segala penjuru strategis areal pertambangan nikel, itu. Amuk massa tampak begitu sporadis. Aksi pembakaran dan pengrusakan tak dapat terelakkan.

Walau aparat keamanan TNI/ Polri mengawal aksi unjuk rasa tersebut, namun militansi massa tak bisa dibendung. Buktinya, gudang lunsum terbakar serta sejumlah fasilitas perusahan rusak.

Aksi demonstrasi ini cukup beralasan. Pasalnya, para karyawan sudah gerah dengan kebijakan perusahan. PT. IWIP dituding melakukan tak sedikit pelanggaran dan diskriminasi terhadap karyawan.

Seribu lebih karyawan yang beraksi itu mengatasnamakan kelompok mereka sebagai Forum Perjuangan Buruh Halmahera Tengah (FPBH). Koordinator lapangan FPBH, Ali Akbar Muhammad, mengatakan, karyawan resah dan mulai bosan dengan kebijakan perusahan. “Pihak manajemen perusahan melakukan tindakan semena-mena terhadap karyawan,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Ali Akbar Muhammad, ribuan karyawan ditindas oleh investor asing. Dia lantas menyebutkan sejumlah pelanggaran yang dilakukan manajemen PT. IWIP terhadap karyawan. Yang paling menonjol, menurutnya, adalah tindakan diskriminasi. FPBH menuntut agar pihak manajemen duduk semeja untuk membahas ‘jeritan hati’ karyawan. Sialnya, permintaan itu tak kunjung tiba. Padahal, hal tersebut telah berkali-kali diupayakan. Ironisnya, hasilnya nihil. Manajemen PT. IWIP tak pernah menggubris permintaan tersebut.

Untuk itu, dalam aksi demontrasi ini, ribuan karyawan menuntut agar Manager Human Research Development (HRD) PT. IWIP, Rosalina Sangaji segera diberhentikan. Pasalnya, Rosalina dianggap tak mampu menjadi mediator antara karyawan dan perusahan.

Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Halteng, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP), Nico A. Setiyawan, SIK, juga tampak kewalahan dalam menghadapi aksi para demonstran. Sejatinya sang Kapolres mengupayakan mediasi, namun hal itu terbentur dinding amarah massa yang cukup membabi buta.

Selain pembakaran gudang sembako, fasilitas pabrik dan sejumah kendaraan alat berat pun dirusak massa. Kini, perusahaan tambang nikel yang beroperasi di Kabupaten Halteng, Provinsi Maluku Utara, itu, lumpuh total. Seribu lebih karyawan pendemo itu memboikot kegiatan perusahan dengan melakukan pendudukan.

Hari Buruh Internasional 2019 di Indonesia semestinya tanpa ada aksi unjuk rasa. Pasalnya, beberapa waktu yang lalu, Kepala Kepolisian Repubilk Indonesia (Kapolri) telah mengeluarkan instruksi khusus. Bunyi instruksi itu yakni, melarang adanya aksi apa pun yang melibatkan massa di Hari Buruh Internasional menyusul adanya pandemi Covid-19.

Sepertinya, instruksi Kapolri ‘ditabrak’ karyawan PT. IWIP. (dir/ric)
Share:
Komentar

Berita Terkini