Niat Baik Kades Waisakai Dipalang Mahasiswa

Editor: Admin author photo
FPMW Palang Kantor Desa Waisakai 
SANANA-Kantor Desa Waisakai, Kecamatan Mangoli Utara Timur, Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul), sejak pagi tak bisa beroperasi. Pada Selasa (19/5) itu, sekelompok mahasiswa menduduki kantor tersebut.

Massa berbendera Forum Pelajar Mahasiswa Waisakai (FPMW), itu menuding kepala desa berikut perangkatnya tak transparan dalam pengelolaan keuangan. Yakni, soal dana Bantuan Langsung Tunai (BLT).

Dana yang dimaksud adalah bantuan yang nantinya dirogoh dari saku Anggaran Dana Desa (ADD) dan Dana Desa (DD). Tentunya, hal ini juga sudah diinstruksikan Menteri Desa melalui surat edarannya.

Seluruh kepala desa di nusantara diminta menyisihkan sedikit dana bagi warga tak mampu pasca penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Nah, dana tersebut yang kemudian disoal FPMW. Dalam unjuk rasa itu FPMW tak sendirian. Sekelompok pemuda Desa Waisakai juga turut dalam demonstrasi tersebut.

Aksi itu berakhir dengan pemalangan kantor desa. Pintu-pintu dan jendela kantor ditancapkan pasak baja berukuran tujuh inci.

"Pemerintah desa (pemdes) Waisakai belum melakukan rapat terbuka dengan masyarakat", kata Koordinator Lapangan FPMW, Fahridani Umamit kepada NusantaraTimur, Selasa (19/5).

Bagi Umamit, sejauh ini pemdes Waisakai tak pernah berembuk dengan warganya terkait proses pendataan penerima BLT.

Namun, Kepala Desa (Kades) Waisakai, Jafar Wamnebo, menganggap Umamit asal bicara. Pernyataan Umamit disebutnya tak punya dasar. Sebab, kata Wamnebo, pendataan telah dilakukan pemdes. Dan, penerima BLT yang sudah terdata sebanyak 40 Kepala Keluarga (KK).

Bahkan, lanjut dia, pihaknya ingin menambah kuota penerima BLT. "Tetapi dari mahasiswa yang tidak mau," kata Jafar Wamnebo kepada NusantaraTimur via telpon selular, Selasa (19/5). 

Wamnebo lantas curiga dengan sikap para mahasiswa itu. Dia seperti mencium bau tak sedap atas aksi-aksi mereka. Terlebih lagi ketika para mahasiswa menolak menambah kuota penerima BLT. "Saya tidak mengerti apa yang menjadi kemauan mereka (mahasiswa-Red) bahwa kenapa tidak mau," jelasnya, gamang.

Selain itu, Jafar Wamnebo menegaskan pihaknya akan menyampaikan seluruh laporan keuangan secara terbuka. Tentunya, lanjutnya, melalui mekanisme musyawarah desa ataupun rapat terbuka.

Ternyata, itikad baik Wamnebo tak langsung mulus. Karena, ada pihak yang tak tulus. Bisa dibilang niat baik kades dipalang mahasiswa. (di)
Share:
Komentar

Berita Terkini