Pasien Covid-19 Enggan Kembali di Karantina

Editor: Admin author photo
Penjemputan dua pasien covid-19 di Desa Payo, Halmahera Barat
JAILOLO–Deru kendaraan memecah suasana damai di Desa Payo Tengah, Kecamatan Payo, Kabupaten Halmahera Barat (Halbar). Pagi itu, puluhan polisi dengan mobil dan sepeda motor tak seperti biasanya melalui di desa tersebut.

Sayangnya, kehadiran pihak kepolisian di desa kecil itu mengusik warga setempat. Kejadian Abad (17/5), itu memang diluar dugaan. Wakil Kepala Kepolisian Resor (Wakapolres) Halbar berikut pasukannya diminta segera angkat kaki. Ada apa ya?

Rupanya, pihak kepolisian berniat menjemput paksa dua pasien penderita Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Sialnya, pihak keluarga pasien dan warga setempat menghadang. Padahal, pihak kepolisian tak sendirian. Sejumlah paramedis dari Puskesmas Jailolo, turut pula bersama rombongan polisi.

Rombongan Tim Gugus Tugas (Gustu) penanganan Covid-19, itu pun harus gigit jari. Upaya persuasif yang sudah dilakukan, tak mampu meluluhkan pihak keluarga pasien. Keluarga pasien tetap kukuh tak ingin menyerahkan dua anggotanya yang menderita corona itu.

"Kami minta dinas kesehatan turun langsung dan membuat jaminan, bukan polisi yang turun jemput adik-adik kami seperti teroris," ucap Fadli Husen, saat berhadapan dengan anggota Polres Halbar, Ahad (17/5), di Desa Payo Tengah.

Sekedar diketahui, sebelumnya dua pasien tersebut dirawat di lokasi karantina, di rumah susun (rusun) ASN, di Desa Acango, Kecamatan Jailolo, Kabupaten Halbar. Namun, sayangnya pelayanan di sana tak maksimal. Akhirnya, dua pasien asal Desa Payo Tengah itu lantas dijemput keluarganya, Jumat (15/5).

Tim Gustu pun kembali dengan tangan kosong. Upaya mereka gagal. "Pirinsipnya kami sudah mengikuti protokol kesehatan untuk menjemput pasien, namun ditolak oleh keluarga pasien," kata Kepala Dinas Penanggulangan Bencana Daerah, Imran Lolori kepada NusantaraTimur, Ahad (17/5).

Menurut Lolori, fasilitas di lokasi karantina sudah memadai. “Kekurangan yang ada dalam kamar pasien juga sudah dilengkapi,” ungkap Lolori, menjelaskan.

Namun, keluarga pasien, Fadli Husen, punya pendapat lain. Baginya, dinas kesehatan yang lebih berkompeten memberikan jaminan. Dia kuatir kalau-kalau pasien kembali mengeluh bila kembali ke tempat karantina. (zu3/red)
Share:
Komentar

Berita Terkini