PMII; Sebuah Diclaimer Kritik Inklusi

Editor: Admin author photo
"Romantisme Buta, Lata, Dan Alpa"
OLEH
FITRA BOOKO
Yogyakarta, 24 Juni 2020
Pengurus Cabang PMII Kota Ternate

    Ada seorang tokoh yang menulis sebuah cerita pendek tentang dunia pesantren namanya Jamil Suherman dengan lakon (peran utama) dari cerita ini yaitu Ummi Kulsum. Di kisahkan dalam dunia pesantren anggota dan masyarakatnya berbudaya tersendiri yang dapat membedakan dari budaya kebanyakan dan atau umumnya. Termasuk didalamnya menggambarkan kehidupan para santri dengan tetap hidup berdampingan yang mengedepan moralitas dan tidak bisa lepas dari kajian tematik kitab-kitab sebagai sebuah dinamika terus terlembag distrukturkan sebagai tradisi dalam pesantren. 
    Cerita singkat diatas menjadi sebuah inspirasi penulis untuk melakukan kritik inklusi terhadap warga Nahdliyin khususnya PMII. Tentunya apa yang diceritakan kondisi atas kehidupan pesantren oleh Djamil Suherman menjadi proyeksi meneguhkan semangat dalam merawat tradisi, baik intelektual maupun moralitas oleh sebuah kelompok organisasi dan masyarakat. Selain itu, dan adalah cerita diatas penulis alamatka (deskripsi) kedalam kehidupan warga PMII yang pada prinsipnya mengalami kelumpuhan gerak serta kiprahnya sebagai organisasi akar rumput. Dengan demikian, semangat warga PMII merawat tradisi yang didalamnya menganut berbagai sistem nilai (NDP/Tafsir/Paradigma PMII) dan beberapa produk lainnya sebagai ’nilai’ gerakan yang selalu diterjemahkan pada setiap aktifitas keseharian warga pergerakan layaknya di baca kembali secara kritis. 
    Romantisme buta yang kembali menjelma di tubuh warga PMII dan ‘pongah’nya nalar kritis akhir-akhir ini menunjukan dengan jelas garis demarkasi intelektual yang “lata” bahkan ‘alpa’. Pada hal, PMII dalam setiap lintas generasi tidaklah absen sebagai organisasi pergerakan kemahasiswa-an dan selebrasi atas geliat akar rumput (mustadafin) dalam cita besar sedari kelahirannya. Pertanyaan selidiknya kemudian; mengapa warga PMII hari ini semakin terlihat hampa? Ini merupakan buah tanya mendasar yang membutuhkan optimisme jawaban lebih kompleks bagi semua warga Pergerakan. Lepas dari itu, manakala kita semua abai berarti kita melihat PMII sebagai sesuatu yang tidak ‘hidup’ melainkan dengan lapang dada melihat macetnya embrio intelektual dalam tubuh Pergerakan atau dengan kata lain begitu saja menerima kenyataan adanya.
    Sejatinya PMII sebagai sebuah organisme gerakan yang harus terus dibangun dari kenyataan-kenyataan historis-empirik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kini kenyataan itu malah terseret bahkan dipojokan kedalam sebahagian cara “fikir” warga Pergerakan. Melalui pendekatan empirik mencoba mendekati dengan menyikapi sebuah embrio hampa warga pergerakan disatu pihak dan idealisme-kritisisme pada pihak lain, penulis melihat sangatlah begitu kuat  mengalami “ke-‘pincang’an” intelektual pada tubuh PMII. Tentu ini tak mencerminkan budaya kritis warga Pergerakan dan tidak bersinggungan sama sekali diatas manifesto berdirinya PMII pada 17 April 1960. Proses kelahiran PMII (1960) harus dilihat sebagai embrio kesadaran kritis warga Nahdliyin. Dalam konteks ini, warga PMII mestinya menerjemahkan pergerakannya sebagai perwujudan tanggung jawab moral dari revolusi perang semesta 10 Noverber 1945 di Surabaya. Peristiwa tersebut sebagai upaya penulis dalam menyegarkan ingatan kembali warga pergerakan sekaligus disclaimer agar tidak kembali dirasuki oleh romantisme buta bahkan terpaku pada formalisme nalar gerak yang kegagapan. 
    Masih dalam konteks kelahiran PMII, dengan tak lepas dari prespektif penulis diatas dalam memotret arah gerak. Dan adalah proses menjadi (process of becoming) dari pada proses adanya (process of being), diharapkan dapat di mengerti oleh setiap warga pergerakan. Bahwa apa yang disebut sebagai konteks kelahiran sebuah kelompok dan atau organisasi harus dibaca dan dipelajari lebih lanjut. Pendek kata beda tempat kelahiran sebuah kelompok tentunya berbeda psico-hirtoris. Artinya bahwa sedari awal di dirikannya, PMII berkewajiban menanggung beban resiko perang semesta diatas kerangka mayat dengan puluhan bahkan ratusan orang pasukan mati manakala fatwa revolusi jihad di Surabaya. Yang mana 140 ribu kaum bersenjata melawan pasukan pemenang Perang Duni Ke-II yaitu Inggris (Sekutu) ditandai dengan matinya jendral malabi, Dan adalah tiga belas tahun setelah itu, tepatnya 17 April 1960 PMII berdiri di Surabaya. Inilah dasar membentuk cara pandang dan nalar gerak warga pergerakan sebagai kontinyu (keberlanjutan), merawat nature dan culture yang sangatlah berbeda dengan kebanyakan kelompok lainnya, sebagaimana semangat yang penulis ambil pada awal tulisan diatas. 
    Satu tahun sejak lahir (1960-1961), Mahbub Junaidi ditunjuk sebagai ketua umum, selama kurang lebih satu tahun itu, Mahbub dkk mempersiapkan konsepsi, konsolidasi memperkenalkan sosok organisasi yang baru dibentuk ini, baik kedalam maupun keluar dan mempersiapkan pelaksanaan kongres pertama. Kongres I PMII berlangsung pada bulan Desember 1961 di Tawangmangu Surakarta Jawa Tengah dan kembali terpilih sahabat Mahbub Junaidi sebagai ketua umum PMII untuk periode 1961-1963 (baca; Fauzan Alfas, Sejarah PMII). Terlepas dari itu, tentunya PMII mendapat kecaman dan intrik yang tidak berkesudahan. Dan adalah itu diterima sebagai dinamika dalam memperkokoh struktur genetik PMII.
    Sementara dewasa ini, masyarakat PMII semakin terkunci pada formalisme mandul belaka yang berefek terhadap ‘pincang’-nya sebuah gerak becoming  (menjadi) sebagaimana dirinya dilahirkan. Pentinya digaris bawahi sebagai sebuah krtik penulis yaitu; Pertama, Warga PMII bukanlah iklan berjalan yang selalu disetting cara dan arah geraknya. Kedua, PMII bukanlah warga satuan matematik yang saling skoring satu sama lain, akan tetapi PMII sebagai satu kesatuan huruf yang tidak saling mendahului. Ketiga, mis-komunikasi dalam sektor pengetahuan (Knowledge) ke-PMIIan sehingga semakin lebarnya disintegrasi didalam tubuh warga Pergerakan itu sendiri. 
Persoalan lain yang dapat memperparah manakala pada beberapa masa kepemimpinan Nasional PB. PMII hingga hari ini dengan terlalu ‘mesrah’ pada kekuasaan sehingga dapat berpengaruh terhadap perkembangan pola gerak yang semakin tidak terkoneksi dalam mendorong kepentingan rakyat akar rumput di beberapa wilayah yang sangat rentan dan menjadi ladang menjamurnya bandit invisible hand. Disinilah urgensi latah dan alpa nya, sehingga kebutuhan dalam mendekonstruksi semangat PMII harus kembali digalangkan. Pada kesempatan lain, yang bagaimanapun juga kelahiran PMII tidak bisa lepas dari eksisten NU, layaknya orang tua dan anak. Begitu pula konstruksi Genealogi PMII yang secara simbolis pun berbeda, maka mestinya nalar gerak beserta cara pandang pun tidaklah harus diseragamkan. Padahal, sejatinya prinsip dasar yang sangat fundamental atas berdirinya (historis-empirik) PMII sebagai genealogi biru-kuning (Idealisme-Kritisme) sesungguhnya independensi PMII itu bukan hanya Khittah, akan tetapi tetap setia pada Khittah 14 Juli 1972 dalam mendeklarasikan Independensi PMII yang kita kenal dengan ‘Deklarasi Munarjati’, juga Khittah 1926, Khittah Proklamasi 17 Agustus 1945 dan Khittah 10 November 1945 perang di Surabaya.
    Sebagaimana jargon PMII; radikal pada Sejarah, radikal pada teori dan radikal pada karakter sebagai simpul eklektik yang selalu dinamis di satu sisi. Konsensus paradigmatik melalui platform kritis transformatif di sisi lain harus dapat mewujud dan atau bernyawa sesuai nilai (berpikir kritis bertindak tranformasi) warga pergerakan. 
Proses pengejawantahan nilai yang dikandung di dalamnya juga harus teraktualisasi dengan rapi sebagai nilai dari berilmu, beramal dan bertaqwa. Bagian dari rekonsiliasi dalam merespon the kondision of Nation, maka warga PMII melalui Tri Khidmat (taqwa, intelektual, profesional) harus dapat mempertegas sikap layaknya sebagai warga sembilan bintang melawan dengan tetap memegang nilai moral dari Tri Komitmen PMII (Kejujuran, Keadilan, kebenaran), yang hal ini akan merujuk pada nilai moral tertinggi, dalam istilah dikenal sebagai Eka Cirta Diri PMII (Ulil Albab) atau dengan kata lain kaders inti ideologis. Cara pikir/pandang PMII seperti ini harus tetap dirawat baik nature maupun culture sebagai aset mereproduksi kadar inteletual warga pergerakan bukan menjadi geliat alat produksi yang menjadi sarana ekploitasi dengan melakukan perkoncoan denga kekuasaan.
    Sebagai akhir dari tulisan singkat ini perlunya terobosan baru dalam melihat kenyataan diatas. Maka selain dari kritik inklusi dalam merespon dinamika, penulis secara selektif menyodorkan sebuah platfor gerak yang tidak hanya sebatas merefleksikan dan atau terkunci pada gerak hampa dan formalisme, yang dalam istilah sosiologi agama disebut sebagai new Fundamentalisme buta. Oleh karena platform tersebut yaitu; “Tarbiyah ke PMII-an” secara nasional dengan merumuskan satu arah gerak bahwa dengan adanya Khittah yang dimiliki oleh warga PMII, maka PMII harus setia dalam mengawal kepentingan buruh, petani dan nelayan, yang walaupun resikonya harus berhadap-hadapan dengan negara. Disinilah konsistensi warga PMII hari ini yang harus dideklarasikan. 
Akhirnya, penulis mengalamatkan kepada pendiri rumah peradaban pergerakan ini dengan tak sedikit pun mengurangi rasa hormat penulis setinggi-tinggi nya terhadap mereka. Semoga amal bakti mereka menjadi warisan epistemologi gerakan dan dapat menjadi amalan dan bekal pahala dalam menghadap sang kuasa alam semesta.{}
“Membaca Dan Bergeraklah Sebelum Esok Keduanya Di Larang” 
               
Share:
Komentar

Berita Terkini