Kampus, Mahasiswa dan Covid-19

Editor: Admin author photo

Oleh
Adi Fikra Harjono
Ketua Generasi Lanjutan Pendidikan


“Kembalikan kampus jadi gudang pemikiran. Biarkan kampus hidup dalam kultur cross addressing, bukan dress code. Demokrasi ada untuk mengolah perbedaan. (Rocky Gerung)"

Kutipan diatas mengawali tulisan pendek ini yang merupakan hal yang biasa ditemukan hampir di setiap universitas, ketika pembayaran awal masuk perguruan tinggi dan pembayaran setiap semesternya, baik yang di kenal dengan UKT, BKT, SPP, Uang Pangkal, dan Uang Sarana.

Insentif yang diemban kepada setiap mahasiswa sebagai suatu kewajiban diharapkan dapat berbanding lurus dengan pelayanan yang diberikan oleh kampus dengan mengedepankan Prinsip Demokratis, Berkeadilan serta tidak Diskriminatif dengan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia, Nilai Keagamaan, Nilai Kultural, dan Kemajemukan Bangsa.

Hal ini dilakukan sebagai upaya menjaga Image perguruan tinggi sebagai tempat belajar dan pendidikan, sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan sebagai pusat kajian kebajikan moral untuk mencari dan menemukan kebenaran serta sebagai pusat peradaban bangsa sebagimana tertera dalam pasal 58 uu no12/2012 mampu membendung stigma yang berkembang di tengah mahasiswa.

Sebab tidak bisa dinafikkan bahwa kampus adalah tempat terapi mindset bagi mahasiswa dengan menjamin akal sehat kampus terus berlangsung melalui setiap kebijakan yang transparansi dan berdampak langsung terhadap mahasiswa, bukan sebagai Patogen yang dengan sendirinya dapat mereduksi kepercayaan moral.

Namun beberapa hari belakangan Hampir seluruh perguruan tinggi menghadapi carut marut pergolakan mahasiswa melalui aksi demonstrasi yang menuntut agar biaya kuliah diringankan dengan dua alasan utama, yakni dengan mempertimbangkan krisis ekonomi yang dialami mahasiswa sebagai akibat dari pandemi Covid-19, kemudian sistem pembelajaran berbasis online (Daring) yang yang terapkan oleh Pemerintah Indonesia dianggap tidak efektif dan terkesan memangkas hak-hak mahasiswa.

Maka Kebijakan kampus dalam rangka menyikapi persoalan ini diharapkan mampu menyentuh akar rumput dan dapat meringankan beban mahasiswa yang terkena dampak tersebut, Hal ini merupakan Opsi yang seharusnya menjadi prioritas perguruan tinggi dalam mengahadapi masalah yang urgen saat ini.

Perlunya Sinergitas seluruh Sivitas Akademika, sehingga proses komunikatif dan interaktif pembelajaran dalam upaya membangun kualitas sumber daya manusia Baik pada sisi Iptek dan Imtak sebagaiman Bunyi pasal 5 huruf a Undang-undang no 12/2012 "bahwa berkembangnya potensi Mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten, dan berbudaya untuk kepentingan bangsa" dapat terselenggarakan dan terus berjalan.

Sebab Kualitas Diri merupakan muara akhir setiap mahasiswa sebagai representasi ilmu pengetahuan yang dimilikinya, juga sebagai tolak ukur berkualitas tidaknya suatu perguruan tinggi.

Di masa pandemi Covid-19 saat ini hak-hak mahasiswa diantaranya Hak menyampaikan pendapat, hak berkumpul, hak mendapat pelayanan yang baik, hak belajar yang kondusif, efektif dan efisien, hak menggunakan sarana prasarana kampus bisa di bilang tersendat-sendat dan mandet dikarenakan Sosial Distancing yang diberlakukan oleh pemerintah di masa pandemi.

Saat-saat inilah Integritas dan kualitas perguruan tinggi dapat di uji, sejauh mana progres kebijakan kampus dapat meningkat, dengan tetap konsisten pada prinsip serta cita-cita luhur Pancasila dan UUD 1945 dan Bineka Tunggal Ika.

Ini sebagaimana tertera dalam uu no 20/2003 bahwa pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Dan, pasal 2 uu no 12/2012 yaitu "Pendidikan Tinggi berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika. (*)
Share:
Komentar

Berita Terkini