Dua Karyawan Diduga di PHK, Serikat Pekerja Tempuh Jalur Hukum

Editor: Admin author photo

Foto: ist
TALIABU-  Dua orang karyawan tenaga kerja lokal diduga di PHK. Usut punya usut, rupanya  Wahyu dan Dedi Idris telah  berakhir masa kontrak kerja terhitung sejak  tanggal 12 Agustus 2020 kemarin.

Wahyu dan Dedi Idris di ketahui bekerja di pabrik Manajemen Side atau Taliabu Grup sub perusahan PT. Adidya Tangguh. 
Wahyu dan Dedi Idris tercatat sebagai Wakil Ketua dan Sekretaris pengurus Serikat Pekerja pada PT. Sumber Daya Mineral (SDM). 

Sementara imbas dari pemutusan kontrak kerja dan tidak diperpanjang pihak Taliabu Grup. Hal itu mendapat tanggapan dari Agusrianto selaku Pimpinan Serikat Pekerja Serikat Pekerja Nasional ( PSPSPN) PT. Sumber Daya Mineral. 

Menurut Agusrianto, pihaknya akan menempuh jalur hukum atas pemutusan kontrak tersebut,  Bagi Agusrianto, langkah-langkah hukum yang dilakukannya itu agar putra-putri kita tidak terinjak-injak di negeri sendiri. 

“ Ini hanya karena persoalan suka dan tidak suka sebenarnya, kemudian itu dipertontonkan oleh pihak manajemen. Nah, soal salah tidaknya tetap langkah hukum kami tempuh, sebab yang berhak menentukan ini benar atau salah bukan serikat pekerja ataupun pihak manajemen, tetapi  pengadilan,” cetus Agusrianto kepada wartawan media ini  ketika dikonfirmasi di kediamannya di Desa Lede, Kamis (13/08/2020). 

Agus menyebut persoalan PHK yang dilakukan oleh manajemen side disinyalir ada korelasinya  dengan eksistensi Serikat Pekerja di PT. SDM. Karena selalu tampil untuk menyuarakan aspirasi demi melindungi hak-hak karyawan lokal beberapa waktu lalu.

"Jadi memang jika di lihat kronologis hingga Wahyu dan Dedi itu di putuskan hubungan kerjanya sangat terkait dengan beberapa kali serikat pekerja menyampaikan aspirasi karyawan mulai dari penerapan protokol kesehatan di perusahaan yang bagi kami perlu di evaluasi sekaligus tuntutan permintaan antar jemput untuk karyawan,” cecar Agus.

Lebih lanjut kata Agus, pemutusan kontrak kerja kepada dua rekan pengurus serikat pekerja ini adalah modus saja, karena sesungguhnya tujuan mereka itu untuk mengamputasi semua pengurus serikat pekerja ada.

"Dua orang ini kan pihak manajemen tahu, wahyu sebagai wakil ketua dan Dedi sebagai sekretaris serikat pekerja PT. Sumber Daya Mineral. Sebab dari informasi yang kami terima akan ada lagi rekan-rekannya dikeluarkan dengan dalil masa kontrak berakhir,” pungkasnya.

Sementara Dedi Idris mengatakan dirinya PHK sebagaimana disampaikan pihak manajemen dengan alasan masa kontrak berakhir. Tetapi itu hanya modus untuk berbuat sewenang-wenang kepada karyawan.

“ Tak ada ada alasan untuk kontrak, jadi pihak perusahaan beralasan karena masa kontrak itu hanyalah cara untuk berbuat sewenang-wenang terhadap karyawan yang menyangkut dengan karyawan yang menuntut hak-haknya,” kata Dedi.

Dia menambahkan seharusnya semua teman-teman karyawan disini bukan lagi kontrak, ini alasan perusahaan saja.

" Kalau kita lihat Permen Nomor 15 Tahun 2005 secara garis besar semua hal yang berkenaan dengan produksi itu di atas 3 tahun itu permanen. Selanjut  UU Nomor 13 Tahun 20 semua permanen Pasal 66  ditambah Kepmen Nomor 100 Tahun 2004, itu. Ketika lebih dari 21 hari kerja itu harus permanen. Jadi tidak ada sebenarnya soal kontrak itu,” sebut Dedi.

Wahyu menambahkan  yang namanya pemutusan hubungan kerja itu harus dilandasi dengan alasan yang jelas.

“ Selama kami dan sebelum kami kerja disini yang namanya pemutusan hubungan kerja itu harus ada alasan-alasan tertentu. ini adalah fakta yang terjadi disini, namun ketika kami membentuk serikat pekerja dan sering membawa aspirasi teman-teman karyawan yang dianggap vokal itu mau diputuskan hubungan kerjanya,” cecarnya.

Di sisi lain, pihak manajemen perusahan tidak di konfirmasi berkaitan permasalahan kedua karyawan tersebut hingga berita ini dipublikasikan. (Ari)

Share:
Komentar

Berita Terkini