HUT-RI Ke-75, Lurah Tantibar Raih Penghargaan. Ini Alasannya

Editor: Admin author photo
Rosida. Lurah Tanah Tinggi Barat Saat menerima penghargaan dari Walikota Ternate Hi. Burhan Abdurrahman. (Sumber foto : Diskomsandi Kota Ternate. 

Ternate-Berhasil menggerakan kelompok pemberdayaan masyarakat untuk pengolahan sampah dan kursus menjahit, Lurah Kelurahan Tanah Tinggi Barat, Rosida., SH.I., MH. meraih penghargaan di HUT RI yang Ke-75 oleh pemerintah Kota Ternate sebagai lurah yang berinovasi pengolahan sampah menjadi Barang Ekonomis.

Penghargaan tersebut diberikan usai upacara HUT Kemerdekaan RI Ke-75, yang berikan langsung oleh Walikota Ternate Hi. Burhan Abdurrahman di halaman depan Kantor Walikota Ternate. Senin (17/08/20) serta di saksikan para peserta upacara dan Forkompimda.

Rosida saat ditemui media ini usai upacara, mengatakan penghargaan yang diterima ini atas kerja sama ia dengan masyarakat lebih khusus kelompok Tanah Tinggi Barat Bebas Sampah (Tatibarasa).

Lanjut Rosida mengatakan Tatibarasa adalah salah satu program prioritas pemerintah kelurahan.

"Tatibarasa bukan berarti Kelurahan Kami tidak ada sampah, namun kami memberdayakan masyarakat agar sampah tersebut di olah menjadi barang yang bernilai ekonomis," cetusnya.

Ia juga mengatakan kelompok ini telah di bentuk dua tahun lalu dengan program-program yang telah di atur.

"Pertama kami melakukan pengolahan sampah rumah tangga menjadi pupuk kompos dan kursus menjahit, selama tiga bulan dengan instruktur warga kami yang kompeten," jelas Rosida. 

"Salah satunya adalah membuat bendera pelangi sepanjang jalan di keluarahan Tantibar dan dikibarkan setiap Tahun saat memperingati hari besar nasional," sambungnya.

Penghargaan yang diterima Lurah Tanah Tinggi Barat (foto:ist) 
Lebih lanjut Rosida mengatakan untuk program terbaru yaitu membuat kursi dan meja dari botol bekas.

"Inovasi terbaru kami dengan kelompok Tatibarasa adalah pembuatan kursi dan meja dari botol plastik, sedangkan kedepan akan di buat tempat tidur dan perabotan rumah tangga lainnya sedangkan untuk Sarungnya dijahit oleh kelompok yang sudah dilatih sebelumnya," sebut Rosida.

Ia mengatakan pemerintah kelurahan membangun cara pikir kepada masyarakat bahwa ketika mendengarkan kata sampah, yang terbesit dimasyarakat ada nilai ekonomisnya.

"Sampah masyarakat 80% di kelolah sedangkan 20% masuk ke TPA, artinya pemerintah kelurahan menekan penumpukan sampah di wilayah Tantibar dan sekitarnya," ungkap Rosida.

Bahkan ia mengatakan di Tantibar sudah tidak ada tempat pembuangan sampah sementara karena adanya kendaran angkut sampah (Kaisar) yang diberikan pemerintah Kota Ternate melalui Dinas lingkungan Hidup.

"Jadi kita membangun ini dengan kesadaran masyarakat bahwa sampah bukan hal yang menjijikan akan tetapi, di sampah itu ada biaya pendidikan anak-anak, kesehatan, dan kebutuhan rumah tangga lainnya, " terang Rosida.

Ia berharap kedepan kelompok Tatibarasa selalu berkembang dengan inovasi terbarunya. Dan pemerintah Kota Ternate bisa mendukung secara penuh. (Red-tim).

Share:
Komentar

Berita Terkini