Wisuda, Mahasiswa Papua Di Ternate Bakar Batu

Editor: Admin author photo
 foto bersama Eli bersama Kawan-kawannya (foto:ist)

Ternate,-Suasana ceria bahagia menyelimuti, Elianus Haluk, Demianus  Faluk  Dan Yampres Yando, pasalnya  ketiga anak Wamena Papua ini berhasil mendapatkan gelar sarjana di Kampus Unkhair Ternate.

Ditemui di sela-sela acara, Eli sapaan akrab Elianus mengatakan sangat bersyukur dengan gelar yang di dapatkan pada hari ini. “Hari ini saya bersama 295 mahasiswa Unkhair mengikuti secara daring atau online,” ujar mahasiswa jurusan Manajemen itu.

Lanjut Eli mengatakan ia memulai Studi di Kota Ternate dari tahun 2012.

”Saya memulai kuliah Pertama di jurusan ekonomi akuntansi dan pindah kemudian ke jurusan manajemen di semester 6, makanya saya kuliah cukup lama 8 Tahun,” ungkapnya.
Ia juga bercerita singkat tentang masa awal kuliah dan kemudian bersama Dr. Muhktar Adam sampai sekarang.

“Saya awal pertama kerja sebagai tukang  angkat sampah selama delapan bulan, setelah itu jadi claning service selama 1 Tahun 4 bulan saya bayar uang kos, mengingat saya adalah seorang anak yatim piatu dari umur lima Tahun, sudah biasa itu,” sahut Eli dengan Senyum khasnya.
Lanjut Eli bercerita di Tahun 2015 ia bertemu dengan Dr. Mukhtar Adam yang juga dosennya di Unkhair dan di ajak membuat taman Melanesia atau taman Papua.

“Baginya saya pa Ota adalah bapa saya, karena semejak Tahun 2015 kenal dan bapa minta untuk tinggal dengannya dan membuat taman rumah Papua,” terangnya.

Eli juga bilang taman Papua yang  viral ini selain tempat rekreasi juga sebagai tempat berkumpul anak- anak Papua di kota Ternate.
“Taman ini juga sebagai tempat atau asrama anak-anak Papua,” cetusnya.

Di hari special itu Eli bersama dua temannya melakukan syukuran wisudah dengan membakar batu.

“Konsep bakar baru adalah salah satu kebahagiaan orang papua, karena bersyukur kepada keluarga dan tuhan yang maha kuasa. Di Jakarta semua lakukan hal yang sama,” ungkap Eli.

Ia berharap semua anak-anak Papua yang sedang melaksanakan studi di Kota Ternate agar selalu semangat kuliah dengan baik. “Harapan saya semua anak papua kuliah “bae bae,” harapnya.

Proses bakar batu (foto:ist)
Sementara itu Dr. Mukhtar Adam mengatan cara bakar batu hari ini adalah acara untuk merayakan hari kelulusan dari empat anak Papua yang studi di Universitas Khairun Ternate, tapi yang hadir hanya tiga, satu sudah pulang ke Papua, dia live dari Papua, ini wisuda daring.

"Disimbolkan dengan bakar batu adalah semangat kegembiraan, kalau di Papua biasanya bakar batu untuk perdamaian peperangan antar suku di Papua mereka biasa dalam proses perdamaian dengan melakukan bakar batu, namun kali ini di Kampoeng Melanesia Ternate, bakar batu adalah simbol kemenangan simbol kegembiraan setelah menyelesaikan studi selama bertahun-tahun di Universitas Khairun Ternate,” jelas Mukhtar.

Lanjut Dosen Unkhair itu mengatakan Barapen atau bakar batu, adalah salah satu metode masak ala Papua yang hingga kini masih sering dilakukan. Cara barapen atau bakar batu ini merupakan ritual memasak bersama yang bertujuan untuk memanjatkan rasa syukur, bersilaturahmi dengan keluarga dan kerabat, menyambut kabar bahagia, atau mengumpulkan prajurit untuk berperang.

“Makanan yang dimasak ini bisa berupa tanaman umbi, atau daging yang semuanya dimasak dengan mengandalkan suhu panas batu yang dibakar. Kebanyakan bahan makanan merupakan bahan pangan lokal,sehingga mampu mengedukasi masyarakat akan pentingnya ketahanan pangan, dengan mengandalkan bahan baku pangan yang sudah tersedia dari alam,” tandasnya.

Masih om pala Melanesia itu mengatakan simbol yang kedua bahwa pangan lokal menjadi penting, bahwa kita tidak mesti bergantung kepada beras tapi umbi-umbian menjadi pangan lokal yang kuat ditengah pandemi dan ancaman resesi ekonomi.

“Saya berharap para sarjana ini akan menghadirkan cara baru, ekonomi baru, ekonomi kenormalan baru yang menghidupkan pangan lokal sebagai kekuatan perekonomian sehingga di Papua akan tumbuh ekonomi-ekonomi baru dengan memanfaatkan pangan lokal sebagai sumber kehidupan ditengah ancaman krisis " tutup Mukhtar. (red-tim)
Share:
Komentar

Berita Terkini