Nasib Wabendum PKB Diujung Tanduk

Editor: Admin author photo
Mantan siswa SMA Muhammadiyah Kota Ternate Abujan Abd. Latif
TERNATE--Kabar tak sedap tengah menerpa Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Salah satu petinggi partai politik (parpol) itu tersandung perkara di pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak 2020.

Adalah Usman Sidik, Wakil Bendahara Umum (Wabendum) PKB, yang tak diakui keabsahan ijazahnya. Usman Sidik mendaftar sebagai bakal calon bupati di Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Halmahera Selatan (Halsel), di Provinsi Maluku Utara (Malut).

Sialnya, Polemik soal ijazah SMA bodong yang digunakan Sidik menggelinding  bak bola salju.

Yang jadi soal, bukannya legowo untuk mundur,  justru kukuh terus maju. Bahkan,  Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah Ternate, Nursany Samaun, menggelar konferensi pers. Nursany Samaun membuat publik geger dengan pernyataannya yang membela Sidik.

Bagai gayung bersambut, Usman Sidik dan Nursany Samaun lantas dikecam. Persoalan ini kemudian dilaporkan masyarakat ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Malut. Tanpa ba-bi-bu, Nursany Samaun dicopot dari jabatan Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah. Dia dikembalikan ke Disdikbud untuk pembinaan.

Dinonaktifkannya Nursany Samaun sempat menuai pro kontra. Tim sukses Usman Sidik tentu dibarisan pro Samaun. Sidik tak tanggung-tanggung melancarkan serangan terhadap pihak Disdikbud Provinsi. Sampai-sampai Kepala Disdikbud Provinsi diancam dipolisikan tim hukum. Upaya fungsionaris PKB ini tak ubahnya menabrak beton baja nan tebal. Usaha tim hukumnya sia-sia.

Usai gagal mempertahankan citranya menyusul dicopotnya Nursany Samaun sebagai kepala sekolah, kini, Usman Sidik harus berhadapan dengan alumni SMA Muhammadiyah. Sejumlah alumni SMA Muhammadiyah mulai angkat bicara.

Demi citra baik almamaternya, seluruh alumni SMA Muhammadiyah Ternate akan menggelar silaturrahim akbar. Gagasan temu alumni seluruh angkatan ini muncul akibat beredarnya isu ijazah Usman Sidik. "Ini dilakukan semata-mata untuk memulihkan nama baik SMA Muhammadiyah yang dalam beberapa pekan terakhir terseret dalam politik praktis," kata Abdullah Adam, pemrakarsa silaturrahim akbar alumni SMA Muhammadiyah seluruh angkatan.

Setali tiga uang dengan Abdullah Adam, Abujan Abdul Latif, justru lebih garing. Abujan Abdul Latif menyayangkan sepak terjang yang dilakukan Nursany Samaun. Dia kecewa dengan sikap Nursany Samaun yang tampil ke publik membawa nama almamater yang terkesan ada muatan kepentingan politik.

Abujan Abdul Latif yang General Manajer PT. Nusa Halmahera Mineral ini tak habis pikir dengan tindak-tanduk sang kepala sekolah yang dipecat, itu. Terlebih lagi, ijazah Abujan Abdul Latif turut dijadikan sebagai data pembanding di media sosial.

Sialnya, Nursany Samaun seakan membuka aibnya sendiri. Ijazah Usman Sidik dan ijazah Abujan Abdul Latif berbeda. Meski di ijazah keduanya tertulis tahun yang sama (1992), namun ada kejanggalan di kode OB dan OC. Ijazah Latif berkode OB, sedangkan punya Sidik yakni OC.

"Sepengetahuan saya, semua ijazah yang dipakai oleh seluruh SMA di Indonesia yang tamat tahun 1992, termasuk SMA yang ada di Maluku Utara, khususnya SMA yang ada di kota Ternate, di zaman  tersebut berkode OB dan bukan OC," tutur Abujan Abdul Latif via rilisnya yang dikirim ke redaksi NusantaraTimur.

Walau berbeda versi namun Nursany Samaun tetap menyatakan baik ijazah Latif maupun Sidik sama-sama asli. Abujan Abdul Latif tentu tak terima baik atas pernyataan Samaun itu. Bagi Latif, tak mungkin berbeda versi lalu keduanya dianggap sah. Artinya, salah satunya pasti palsu.

Latif yang mantan Sekretaris OSIS SMA Muhammadiyah itu, juga sesalkan pernyataan salah satu tim hukum Usman Sidik di media YouTube. Tim hukum yang diketahui bernama Syukur Mandar itu menyatakan bahwa dalam setahun diterbitkan dua blanko ijazah dengan kode berbeda.

Menurut Abujan Abdul Latif, persoalan tersebut akan ditindaklajutinya ke Peruri. Peruri adalah perusahaan BUMN yang mencetak salah satunya blanko ijazah. Latif akan berkoordinasi dengan pihak Peruri terkait hal ini. "Sungguh aneh apabila Peruri menerbitkan blanko ijazah di tahun yang sama dengan dua versi," tegas Abujan Abdul Latif.

Rencananya, dalam waktu dekat Latif akan menyambangi Peruri untuk mempertanyakan hal tersebut. Bila masalah ini terkuak, maka harapan Usman Sidik untuk menjadi bakal calon Bupati Halsel bakal pupus. Kini, nasib Wabendum PKB itu bagai telur diujung tanduk. (Tim/red)

Share:
Komentar

Berita Terkini