NU Halut Gelar Maulid Nabi Muhammad SAW

Editor: Admin author photo

Foto Bersama (foto;ist) 
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku Utara, H. Sarbin Sehe, pada hari Sabtu (31 Oktober 2020), menghadiri dan memberi sambutan Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 1442 H/2020 M, yang diselenggarakan oleh Keluarga Besar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Halmahera Utara, beserta badan otonom se-Halamhera Utara, di Kompleks Pondok Pesantren Al Khairaat Tobelo.


Dalam sambutan sekaligus hikmah maulid yang diberikan, Kakanwil Kemenag menguraikan pendekatan dalam meneladani akhlak Rasulullah SAW menjadi pribadi unggul, sebagai tema yang disiapkan panitia peringatan maulid Nabi Muhammad SAW.

Mengawali ceramahnya Kakanwil mengutip salah satu hadits Rasulullah SAW yang artinya “Bahagialah orang yang pernah melihat aku lalu dia beriman, namun lebih bahagia lagi orang yang tidak pernah melihat aku lalu dia beriman”.

"Sesuai perspektif tema peringatan Maulid dan hadits di atas, maka kita yang hadir hadir memperingati Maulid termasuk generasi atau pribadi unggul", ucap H. Sarbin

Kakanwil melanjutkan bahwa salah satu hikmah memperngati Maulid adalah membuka kembali sejarah Rasulullah dan mengingatkan kembali nilai-nilai keteladanannya.

Dimana Rasulullah SAW adalah pembawa pelita, dan beliau yang telah pergi 15 abad yang lalu, namun dengan membuka lembaran kisah beliau, ibarat mendekatkan cahaya pelita obor yang dibawa Rasulullah SAW, agar kita sebagai umatnya bisa mengikuti cahayanya dimanapun dan kapanpun, termasuk generasi penerus kita saat ini.

Kakanwil mengharapkan momentum peringatan maulid Nabi Muhammad SAW tahun 2020 ini dijadikan peringatan bersama untuk selalu meneladani akhlak terpuji yang diungkap dari kisah keteladanan Nabi Muhammad SAW sebagai berikut :

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara dewasa ini keteladanan Nabi Muhammad SAW dipandang sangat penting dalam rangka memperkuat ukhuwah, persatuan serta persaudaraan anak bangsa.

Sosok sekaligus tokoh teladan terbaik tak lain adalah Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW, dalam banyak hal mampu merepresentasikan pemimpin, umat serta penerima wahyu Allah SWT yang berakhlak mulia.

Nabi Muhammad SAW telah membumikan ajaran Islam, melalui sumber utama Al-Quran, dikuti penjelasan beliau yang dikenal dengan hadits atau sunnah beliau, memimpin, memandu, membimbing umat hingga mampu membawa Islam pada masa kejayaannya.

Generasi saat ini harus menghadirkan akhlak Rasulullah SAW, sebagai kompas dalam melakukan tugas-tugas.
Rasulullah SAW adalah tokoh perubahan dan pembaharuan luar biasa dan mampu mengubah masyarakat di zamannya hingga saat ini pengaruhnya.

Perubahan dan pembaharuan yang telah dilakukan Rasulullah ingin kita contoh dalam membangun Indonesia dari negara berpendapatan menengah menjadi berpendapatan tinggi dan menjadi Indonesia maju.
Pribadi atau manusia unggul adalah pribadi yang sehat, cerdas, produktif, mempunyai daya saing, dan memiliki akhlak baik.

Ini menjadi cita-cita bangsa saat ini. Semangat pribadi unggul atau manusia unggul, Rasulullah SAW telah memberikan gambaran soal kualitas umat atau umat yang unggul yaitu umat yang menempatkan akhlak mulia. Akhlak mulia menjadi sumber inspirasi dari hakekat berkehidupan. Bangsa kita ini diperlukan akhlak mulia, cerdas berakhlak akan jauh lebih baik dibandingkan hanya cerdas tapi mengabaikan moral, etika agama dan sosial.

Hikmah lain dari meneladani perbuatan, akhlak dan sikap Rasulullah SAW pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tak lain adalah untuk menumbuhkan dan menambah rasa cinta kepada Rasulullah SAW. Sehingga peringatan maulid Nabi Muhammad SAW juga bisa berarti bentuk rasa cinta dan penghormatan umat Islam terhadap Rasulullah SAW. Peringatan Maulid, sebagai momentum untuk mengenal lebih dekat Rasulullah SAW., meneladani akhlak Rasulullah SAW.

Terakhir, Kakanwil H. Sarbin Sehe menjelaskan bahwa Rasulullah SAW telah memberi tauladan mempunyai akhlak mulia, dimana ada empat poin yang harus diperhatikan, dalam manifestasi dari akhlak Rasulullah. Yakni pertama, akhlak dalam berkeluarga, akhlak suami isteri, anak-anak kepada orang tua atau sesama anggota keluarga.

Kedua, akhlak murid kepada gurunya atau sebaliknya (akhlak dalam kehidupan madrasah). Ketiga, akhlak bertetangga (hak dan kewajiban bertetangga), serta keempat, akhlak bermasyarakat dan berbangsa.

"Mendahulukan kepentingan orang lain, orang banyak, kepentingan umat, kepentingan negara di atas kepentingan pribadi itulah akhlak berbangsa dan bermasyarakat." tutup Kakanwil.
Share:
Komentar

Berita Terkini