Ini Hasil Penelitian BNPT Terkait Radikalisme

Editor: Admin author photo
Kepala BNPT RI. Boy Rafly Amar


Jakarta-Potensi radikalisme menurun. Indeks potensi radikalisme mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Melalui press rilisnya BNPT menjabarkan Indeks potensi radikalisme tahun 2020 mencapai 14.0 (pada skala 0-100) atau 12.2% (dalam persentase) menurun dibanding tahun 2019 yang mencapai 38.4 (pada skala 0-100). Tentunya ini merupakan kabar gembira, artinya kerja-kerja kontra radikalisme telah membuahkan hasil. 


Menurunnya potensi radikalisme, jangan sampai membuat seluruh elemen yang terlibat dalam kerja-kerja kontra radikalisme menjadi berpuas diri dan terlena.

Terjadi feminisasi radikalisme. Indeks potensi radikalisme pada perempuan sedikit lebih tinggi dibanding pada Laki-laki. Indeks potensi radikalisme pada perempuan mencapai 12.3% sedangkan indeks potensi radikalisme pada laki-laki pencapai 12.1%; artinya terjadi femisisasi radikalisme. 

Radikalisme tidak hanya menyasar kalangan lak-laki saja tetapi semakin mengarah ke perempuan. Terjadi urbanisasi radikalisme. Urbanisasi radikalisme merujuk pada lebih tingginya indeks potensi potensi radikalisme dikalangan urban (perkotaan) dibanding dikalangan rural (pedesaan). 

Temuan penelitian 2020 menunjukkan bahwa indeks potensi radikalisme dimasyarakat urban mencapai 12.3% dan dimasyarakat rural mencapai 12.1%. Artinya indeks potensi radikalisme cenderung lebih tinggi dimasyarakat urban. 

Masyarakat urban merupakan masyarakat yang heterogen dan terbuka sehingga mudah menerima hal-hal baru, termasuk dalam hal ini adalah pemikiran-pemikiran baru yang tidak disadari namun mengarah pada radikalisme.

Terjadi radikalisasi generasi muda dan netizen. Radikalisasi dikalangan generasi muda tercermin dari temuan penelitian tahun 2020 yang menunjukkan bahwa indeks potensi radikalisme pada generasi Z mencapai 12.7%; kemudian pada milenial mencapai 12.4% dan pada gen X mencapai 11.7%. Artinya indeks potensi radikalisme lebih tinggi pada generasi muda (gen Z dan milenial) dibanding generasi yang lebih tua.

Netizen yang aktif mencari konten keagamaan di internet memiliki indeks potensi radikalisme yang lebih tinggi dibanding dengan netizen yang tidak aktif mencari konten keagaman di internet. Indeks potensi radikalisme pada mereka yang mencari konten keagamaan di internet mencapai 12.6% sedangkan indeks potensi radikalisme pada mereka yang tidak mencari konten keagamaan di internet mencapai 10.8%. 

Indek potensi radikalisme pada netizen yang suka menyebar konten keagamaan ternyata lebih tinggi dibanding netizen yang tidak menyebar konten keagamaan. Indeks potensi radikalisme pada netizen yang menyebar konten keagamaan mencapai 13.3% sedangkan netizen yang tidak menyebar konten keagamaan memiliki indeks potensi radikalisme sebesar 11.2%. 

Kebhinnekaan menjadi daya tangkal efektif. 

Pemahaman dan sikap yang baik terhadap kebhinnekaan (keragaman) menjadi daya terhadap paparan radikalisme. Korelasi antara indeks kebhinnekaan dengan indeks potensi radikalisme berbanding terbalik, dengan nilai korelasi -0.94. Artinya semakin tinggi tingkat kebhinnekaan seseorang maka potensi radikalisme semakin rendah. 

Tingkat pemahaman dan sikap terhadap kebhinnekaan yang terefleksikan melalui indeks kebhinnekaan menunjukkan bahwa indeks kebhinnekaan cenderung lebih rendah pada perempuan, masyarakat urban, generasi muda (gen Z dan milenial) dan juga mereka yang aktif di internet. 

Indeks kebhinnekaan pada perempuan mencapai 82.5%, pada kalangan urban mencapai 82.6%, pada gen Z mencapai 82.2%, pada milenial mencapai 82.5%, pada mereka yang aktif mencari konten keagamaan mencapai 82.5% dan pada mereka yang menyebar konten keagamaan mencapai 81.8%.

Literasi digital belum mampu menjadi daya tangkal efektif. Literasi digital (yang diukur dari perilaku AISAS) belum mampu menjadi daya tangkal yang efektif. Hal ini ditunjukkan dari nilai korelasi antara kedua variabel yang tidak signifikan (r=0.004). 

Perilaku AISAS juga belum mampu mendorong peningkatan tingkat kebhinnekaan. Nilai korelasi antara antara kedua variabel tidak signifikan (r=0.074). Tidak bermaknanya perilaku AISAS dalam menjadi daya tangkal efektif dalam mereduksi radikalisme disebabkan karena proporsi netizen yang berperilaku AISAS masih rendah (5.8%).

Netizen rentan terhadap paparan radikalisme Mayoritas responden mengakses internet (75.5%). Mayoritas gen Z mengakses internet (93%), demikian juga Milenial (85%), sedangkan gen X yang mengakses internet jumlahnya mencapai 54%. 

Netizen (mereka yang mengakses internet) 

mayoritas pernah menerima konten keagamaan (83%), mencari konten keagamaan (77%) dan menyebar konten keagamaan (52%). Mayoritas netizen sudah pada kategori medium user (aktif akses internet perhari 1-3 jam) dan heavy user (aktif akses internet). Mereka yang masuk kategori medium user persentasenya mencapai 34.6%, dan mereka yang masuk kategori heavy user mencapai 27.1%. 

Netizen cukup rentan terhadap paparan radikalime disebabkan oleh beberapa hal:

1. Jumlah mereka yang menerima konten keagamaan dari orang lain cukup besar (83%), dengan intensitas yang bisa dikategorikan cukup sering yaitu beberapa kali dalam seminggu (37.8%) dan setiap hari (16.6%)

2. Mereka mencari konten keagamaan mayoritas via youtube (77%) dengan durasi pendek (<30 menit). Artinya konten yang dilihat merupakan konten-koten yang tidak utuh.

3. Pemuka agama yang tegas menempati urutan ketiga dari pertimbangan mereka yang dalam memilih ustad (34.6%), setelah memiliki kedalaman ilmu (65.9%) dan humoris (57.8%).

Kesimpulan dari penelitian BNPT tahun 2020 antara lain:

1. Indeks potensi radikalisme mengalami penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi jangan membuat BNPT, pemerintah dan semua elemen menjadi melemah dalam upaya menangkal paham radikalisme dimasyarakat.

2. Indeks potensi radikalisme cenderung lebih tinggi di kalangan perempuan, masyarakat urban, generasi muda (gen Z dan milenial) serta pada mereka yang aktif mencari dan menyebar konten keagamaan di internet dan media sosial. Artinya terjadi feminisasi radikalisme, urbanisasi  radikalisme, radikalisasi generasi muda dan radikalisasi netizen.

3. Kebhinnekaan menjadi daya tangkal efektif dalam mereduksi potensi radikalisme di masyarakat. Sedangkan literasi digital belum mampu menjadi daya tangkal efektif dan belum mampu mendorong peningkatan pemahaman dan sikap terhadap kebhinnekaan yang ada di masyarakat. 

4. Netizen cukup rentan terhadap paparan radikalisme, karena mereka cukup ntens menerima konten keagamaan, dengan durasi cukup sering. Mereka juga lebih suka mencari ceramah keagamaan dengan durasi pendek (<30 menit) dan mereka suka melihat pemuka agama dengan kriteria tegas. (Red-humas) 

Share:
Komentar

Berita Terkini